Niat Baik Membangun Bangsa

20 Juli, 2015 at 12:00 am

Oleh Drs Maswan
Dosen Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara

Maswan”Niat adalah ruh amal dan inti dari sendi-sendi kekuatan jiwa dalam melakukan perbuatan. Amal perbuatan itu mengikuti niat. Perbuatan menjadi benar karena dari niat yang benar. Sebaliknya amal menjadi rusak karena dari niat yang rusak,” demikian Ibnul Qayyim al-Jauziyah meberikan penjelasan dalam ktab I’lamul Muwaqqi’in, VI/106, tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman. Oleh karenanya, siapkan niat dalam diri kita untuk melakukan apa pun. Dan Insya Allah energi ‘niat’ akan hadir dalam setiap aktivitas kita.

Dalam bahasa manajemen, niat disepadankan dengan programming atau perencanaan yang baik. Atas dasar ini, setiap perbuatan yang dilakukan oleh orang yang berakal, pasti disertai dengan niat baik. Perbuatan yang dilakukan oleh orang mukalaf tersebut merupakan objek yang menjadi sasaran hukum-hukum syara’ seperti wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah.

Kita sebagai bangsa yang beradab, tentu mempunyai niat baik untuk membangun bangsa ini untuk kepentingan masyarakat, baik yang miskin, terbelakang, bodoh dan masyarakat pinggiran. Penyebutan kata kita dalam membangun ini, maknanya adalah para penguasa yang memimpin bangsa ini. Dan yang dipimpin adalah masyarakat yang berstatus miskin, bodoh, dan terbelakang agar memperoleh hak-haknya yang lebih layak, supaya terlepas dari lingkaran kemiskinannya.

Niatan hidup masyarakat dalam lingkaran kemiskinan itu sangat sederhana, yaitu mereka bisa hidup layak, artinya mampu makan 3 kali sehari, bisa membaca kebijakan dan hukum yang dibuat penguasa dan juga bisa menghitung kebutuhan hidupnya satu hari satu malam dalam hitungan ekonomi keluarga.

Menurut budayawan Jakob Sumardjo, yang bisa mengentaskan kemiskinan adalah para penguasa, asal penguasa tersebut punya niat. Lebih detail, Sumardjo mengatakan “Akar kekuasaan ada di niat. Niat baik hanya dapat dibuktikan dengan hasil kerja kekuasaan, bukan pada kata-katanya. Mengingat kegagalan demi kegagalan kekuasaan di Indonesia selama ini, apakah niat para penguasanya memang tidak baik (tidak untuk menyejahterakan rakyat) ditambah pemikirannya juga bodoh atau niatnya sebenarnya baik hanya pemikirannya bodoh (tidak membumi dalam realitas)?

Kalau niat kekuasaan sejak awal sudah tidak baik, dengan pemikiran apa pun hasilnya tentu tidak baik. Namun, kalau niat kekuasaannya baik, meski gagal, jelas pemikirannya yang jelek. Ini akibat tak percaya pada hasil pemikiran bangsa sendiri, Kompas, (11/7/2015).

Sealanjutnya, Kita cenderung meniru keberhasilan bangsa-bangsa lain. Padahal, kesuksesan tiap negara dan bangsa bertolak dari realitas persoalan mereka. Kita tidak bisa meniru negara dan bangsa lain. Mungkin kebodohan jenis inilah penyebab bangsa ini gagal.

Merubah Niat Serakah
Bulan puasa yang penuh berkah, semoga terlimpah kepada penguasa-penguasa negeri ini agar mendapat petunjuk Allah SWT, mempunyai niatan baik, berhati bersih hingga mampu menentukan kebijakan dalam mensejahterakan rakyat yang miskin. Rakyat yang miskin, bodoh dan terbelakangan permintaannya tidak neko-neko, yang penting dimanusiakan sesuai dengan hak kodrat hidupnya.

Sebagai warga masyarakat Indonesia, yang tidak cerdas ini merasa lega kalau setiap kebijakan penguasa tersebut dapat langsung menyentuh kebutuhan riil di lapangan. Dalam bidang pembangunan pedesaan misalnya, adanya dana desa yang konon kabarnya uang dana desa hampir 1,4 milyar lebih per desa, dana pemberdayaan masyarakat miskin Program Pembangunan Daerah Pemilihan (UP2DP) atau dana aspirasi masyarakat yang dibawa oleh anggota DPR.

Niatan yang baik agar dana bernilai milyaran tersebut benar-benar dapat sampai ke masyarakat yang membebutuhkan dan menyentuh sampai akar rumput adalah tanggung jawab penguasa yang bijaksana.

Dana yang seharusnya, ke kantong rakyat miskin, jangan dikurangi sedikitpun, mereka yang bodoh jangan dibodohi. Jangan sampai terjadi, uang rakyat dimakan penguasa, harusnya penguasa memberi makan rakyat miskin. Kita yakin, kalau semua penguasa di negeri ini tidak membodohi (mendholimi) rakyatnya, dan bersedia merubah niat serakah menjadi penderma dan penyantun, Insya Allah rakyat akan menjadi sejahtera.

Menurut Jakob Sumardjo, dalam Kekuasaan dan Kebodohan, menyatakan bahwa “Kekuasaan yang bodoh tidak malu dirinya super sejahtera, sementara rakyat yang menjadi tanggung jawabnya ada di bawah garis kemiskinan. Penguasa-penguasa yang demikian itu adalah predator yang rakus menghabisi bagian rakyatnya. Akhir-akhir ini tampak kegeraman rakyat Indonesia yang cerdas terhadap mereka yang memegang kekuasaan, tetapi pamer ebodohan. Kekuasaan yang bodoh ini sangat berbahaya ketika mereka keras kepala mempertahankan otak udangnya sebagai satu-satunya kebenaran.” Kompas, (11/7/2015).

Pola berpikir penguasa seperti ini harus dirubah. Niat Membangun bangsa adalah bagian dari ibadah. Maka dengan cara-cara bijaksana yang dilandasi dengan keimanan terhadap Sang Pencipta Alam, maka bangsa akan menemukan kemakmuran bagi seluruh rakyat.

Dalam tatanan kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama, amal perbuatan apa saja, termasuk menata negara pun harus dilakukan dengan niatan yang kuat dan niatan yang baik. Jika seseorang bisa lulus dari ujian tersebut, akan memperoleh berkah keunggulan diri dalam laku perbuatan dan akhirnya dapat mempeoleh kebahagiaan baik di dunia mapun di akhirat. (Sumber: Malang Post, 20 Juli 2015)

(Email: maswan.drs7@gmail.com)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Menumbuhkan Cinta pada Sekolah Keberagaman yang Menyenangkan


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: