Menumbuhkan Cinta pada Sekolah

9 Juli, 2015 at 7:04 am

Oleh Eko Pujiono
Guru SD Jatisari, Kecamatan Mijen Kota Semarang, alumnus IKIP (kini Universitas) PGRI Semarang

Akankah kecintaan peserta didik baru pada sekolah dambaannya tumbuh subur atau malah pupus. Itu bergantung kankah kecintaan peserta didik baru pada penyelenggaraan masa orientasi peserta didik (MOPD). Selama ini kegiatan itu yang juga dikenal dengan masa orientasi siswa (MOS) atau masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) kerap dicederai oleh tindak kekerasan. Entah itu kekerasan fisik ataupun kekerasan verbal. Seperti terjadi pada 2014 di salah satu SMA Negeri di Jakarta yang menyebabkan seorang siswa meninggal dunia.

Meskipun Surat Edaran Dirjen Dikdasmen Nomor 220/C/MN/2008 tanggal 18 Januari 2008 tentang Kegiatan MOS telah menegaskan larangan melakukan perpeloncoan dalam bentuk apa pun. Motif balas dendam yang menjadi peninggalan MOPD tahun-tahun sebelumnya ditengarai menjadi biang keladi. Itu terbentuk dari hubungan sosial antara siswa lama dan siswa baru yang terjalin secara bertingkat, yakni senior-yunior. Bukan lagi hubungan persaudaraan sebagai kakak adik di sekolah. Itu artinya tindak kekerasan masih akan jadi hantu menakutkan pada penyelenggaraan MOPD kini ataupun masa mendatang.

Tak mengherankan bila siswa baru ataupun orang tua/wali memiliki perasaan waswas terkait hari-hari pertama di sekolah baru. Apalagi setelah mendengar desas-desus mengenai tradisi penyambutan di sekolah baru itu. Bertambah kalut manakala mendapati cerita menakutkan. Belakangan ini makin banyak sekolah menghilangkan tradisi perpeloncoan dan berusaha menggantinya dengan kegiatan menyenangkan.

Tapi kadang hal itu justru mengesankan sesuatu yang konyol. Misalnya, mewajibkan siswa baru berdandan aneh-aneh dengan aksesoris yang kurang mencerminkan sebagai agen pembelajar. Atau penugasan mencari benda tertentu yang tak lumrah, meski berdalih kreativitas.

Adalagi lewat kegiatan yang tak ada sangkut-pautnya dengan orientasi sekolah, seperti mengumpulkan tanda tangan, menulis surat cinta kepada senior, meneriakkan yel-yel setelah berhasil melaksanakan instruksi. MOPD sebaiknya digunakan sebagai ajang pengenalan terhadap kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dihadapi sekolah.

Bukan sebagai ajang gagah-gagahan dengan menonjolkan prestasi yang diraih. Apalagi sebagai ajang aktualisasi arogansi senior kepada yunior. Membentuk Eksklusivitas Sekolah, baik kepala sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan, dan kakak kelas, bertanggung jawab secara proporsional dalam memberikan gambaran mengenai dirinya kepada anggota keluarganya yang baru. Jangan seperti iklan kecap yang selalu menomorsatukan dirinya dan menunjukkan sederet keunggulan. Ini dapat membuat siswa baru terpana dan pada gilirannya menganggap sekolah lainnya tak ada apa-apanya.

Justru ini dapat membentuk eksklusivitas. Oleh sebab itu, sekolah dituntut untuk tidak hanya menunjukkan fisik sekolah tetapi juga membentuk kesadaran bersekolah. Terutama dalam memaknai peraturan sekolah, kegiatan pembiasaan ataupun budaya sekolah. Termasuk membuka kesadaran mengenai visi, misi, tujuan dan program sekolah, meliputi kegiatan intrakurikuler ataupun ekstrakurikuler.

Harapannya, peserta didik baru dengan sendirinya terdorong untuk memberikan kontribusi positif, terutama dalam proses pendidikan bagi dirinya dan turut berupaya mewujudkan programprogram sekolah. Perlu mendesain penyelenggaraan MOPD secara variatif dan atraktif sesuai karakteristik sekolah. Termasuk menggabungkan beberapa pendekatan ataupun metode kegiatan yang dilaksanakan seluruh komponen sekolah dengan tetap mengedepankan keakraban. Dengan begitu, peserta didik baru makin kenal dan makin sayang kepada sekolahnya. Tiga hari yang menentukan itu dapat memupuk kebanggaan dan kecintaan. Bukannya menebar kekecewaan, kebencian dan permusuhan di antara anggota sekolah. (Sumber: Suara Merdeka, 9 Juli 2015).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

Guru: Antara Pendidikan, Entertainment, dan Advertising Niat Baik Membangun Bangsa


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: