Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan

5 Juli, 2015 at 12:00 am

Does IchnatunOleh Does Ichnatun D.S.
Guru SMP Negeri 3 Semarang

 

Dialog kecil di sekolah:

Guru 1 : “Kok Ibu sering diklat, seminar. Kegiatan apa, Bu?”

Guru 2 : “PKB, Bu.”

Guru 1 : “PKB? Ibu berpolitik? Bukankah PNS dilarang?”

Guru 2 : “Ini bukan politik, Ibu, tapi Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan.”

Guru 1 : “Apa itu?”

Guru 2 : “Ini adalah bentuk pembelajaran berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru yang dilaksanakan sesuai kebutuhan, bertahap, dan berkelanjutan.”

Guru1 : “Untuk apa?”

Guru 2 : “Lha itu, untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru.”

Guru 1 : “Halah. Kok repot. Begini saja sertifikasi sudah cair, siswa saya sudah banyak yang sukses, jadi dokter, insinyur, bahkan ada yang jadi Wali Kota.”

Guru 2 tidak melanjutkan percakapan. Dia merasa tidak berada dalam satu perahu dengan guru 1, sehingga jika dilanjutkan berdiskusi akan terjadi salah paham.

Sulitnya mengubah pola pikir guru. Mengapa dia merasa bahwa keberhasilan anak didiknya berkat jasanya? Mungkin benar, tapi tidak sepenuhnya.

Pendidikan sama seperti tehnologi.
Ketika telfon seluler baru diluncurkan, mengapa orang buru-buru mengganti miliknya yang lama? Itu karena dia tidak mau dikatakan ketinggalan zaman. Namun, ketika ada perkembangan baru di bidang pendidikan, mengapa semua berkata, “Demi apa? Naik pangkat? Berapa kenaikan gajinya? Nggak cucok! Begini saja sertifikasi sudah cair, dan siswa saya banyak yang sukses.”

Mungkin benar, tapi jangan dikira siswa kita yang terkesan diam dan menurut itu tidak menilai kita. Siswa kita sebetulnya sudah selangkah lebih maju daripada kita. Mereka suka berselancar di internet, mencari sesuatu yang baru, tapi kita masih menunggu membuka halaman berikutnya di buku pelajaran.

Tak kenal, maka tak sayang.
Sepertinya ungkapan itu sangat tepat untuk kita. Kita menganggap, bahwa PKB identik dengan penelitian. Bukan! PKB terdiri dari 3 unsur; pengembangan diri, publikasi ilmiah, atau karya inovatif. Pengembangan diri ada dua jenis; diklat fungsional dan kelompok kolektif guru. Karena diklat fungsional hanya bisa diakui jika diselenggarakan oleh lembaga diklat, maka guru bisa menyelenggarakan kegiatan kolektif guru.

Daripada guru berkumpul di mall, restoran, tempat wisata lain terlalu sering, gunakan sebagian waktu untuk berkumpul sesama guru, mempelajari segala hal yang bisa meningkatkan profesionalisme. Apakah saya sudah profesional? Belum! Dari itu saya ingin terus belajar.

Sementara publikasi ilmiah ada 10 macam; presentasi di forum ilmiah, hasil penelitian, tinjauan ilmiah, tulisan ilmiah populer, artikel ilmiah, buku pelajaran, modul/diktat, buku dalam bidang pendidikan, karya terjemahan, buku pedoman guru. Jika penelitian terkesan asing di mata kita, mari kita menulis tulisan ilmiah populer saja. Saya tahu, guru itu orang yang cerdas.

Dalam setiap pertemuan, guru banyak yang memberi masukan kepada kepala sekolah. Bukan hanya itu. Guru juga banyak yang mengkritik orang lain secara tidak formal. Mengapa tidak menulisnya dengan lebih ilmiah, lalu dikirim ke media masa?

Selain berbagi pendapat dengan orang lain, itu dihargai dan bisa digunakan untuk kenaikan pangkat. Semua guru sudah memiliki perangkat pembelajaran, tinggal menambahkannya dengan narasi yang berbentuk seperti makalah, yang terdiri dari pembukaan, isi, dan penutup. Itu sudah bisa dihargai 1,5 setiap tahun.

Sayang sekali, dalam sekali usulan, maksimal hanya digunakan buku pedoman guru 1 x. Bukankah itu lumayan? Karya inovatif bisa berupa menemukan teknologi tepat guna (Karya Sains/Teknologi); menemukan/menciptakan karya seni; membuat/memodifikasi alat Pelajaran/peraga/praktikum; mengikuti pengembangan penyusunan standar, pedoman, soal, dan sejenisnya. Banyak guru yang telah berhasil membimbing siswa dalam ajang lomba kreasi dalam IPTEKS. Mengapa tidak dibuat laporannya?

Itu sudah bisa diakui sebagai karya inovasi.
Mari kita mulai dari yang terdekat, dan termudah. Tidak usah memprotes dulu.
Masih belum tertarik untuk mendekatinya? Ya sudahlah. Enjoy your life.(Kontak person: 081393886388. Email: doesthenovice@gmail.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , .

Multimedia Film Pendidikan Menunjang Pembelajaran IPS Terpadu Guru: Antara Pendidikan, Entertainment, dan Advertising


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: