Multimedia Film Pendidikan Menunjang Pembelajaran IPS Terpadu

4 Juli, 2015 at 8:32 am

Andi ArdiansyahOleh Andi Ardiansyah SPd
Guru SMP Negeri 3 Dua Pitue Kalosi Kec. Dua Pitue, Kab. Sidenreng Rappang, Provinsi Sulawesi Selatan.

Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium, yang secara harfiahnya berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara pesan atau pengirim pesan ke penerima, (Sadiman, dkk : 2002). Sadiman, dkk. (2002) mengungkapkan beberapa pendapat tentang batasan media dari beberapa lembaga dan ahli; 1) Association for Education and Communication Technology (AECT), mengartikan media sebagai segala bentuk yang digunakan untuk proses penyaluran informasi; 2) National Education Association (NEA) mengartikan media sebagai segala bentuk yang dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrument yang digunakan. (Nurhayati, Wellang. 2004); 3); Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah segala bentuk komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang untuk belajar; 4) Brigs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat; menyajikan pesan dan merangsang siswa untuk belajar.

Sudiman, dkk. (2002) sendiri mengemukaan pendapatnya bahwa: Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi.

Dari beberapa pendapat tentang pengertian media di atas, penulis memahami media-multimedia film pendidikan sebagai sarana komunikasi pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, inovatif, serta meneyenangkan dalam proses belajar-mengajar yang berkesan dibandingkan dengan proses belajar-mengajar konvensional tanpa media dengan metode pembelajaran ceramah yang membosankan. Dengan media, tenaga pengajar dapat menyampaikan ide atau gagasan kepada peserta didik atau siswa, dengan media siswa dapat dimotivasi untuk mengikuti atau memperhatikan materi yang disampaikan oleh gurunya, dengan media siswa dapat cepat diarahkan untuk memahami realitas materi yang dipaparkan oleh gurunya, dan dengan media siswa juga dapat mengadakan pembelajaran mandiri.

Secara umum media-multimedia film pendidikan mempunyai kegunaan sebagai berikut: 1). Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu verbalitas (dalam bentuk kata-kata atau tulisan belaka);

2). Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, seperti : obyek yang terlalu besar dapat dibantu dengan gambar, film bingkai, film atau model ; obyek yang terlalu kecil dapat dibantu dengan proyektor mikro, film bingkai, film, atau gambar, gerak yang terlalu lambat dapat dibantu dengan time-lapse atau high-speed photography, kejadian atau peristiwa yang terjadi dimasa lalu dapat ditampilkan lewat rekaman film, video, film bingkai, foto, maupun secara verbal; materi dengan obyek yang terlalu kompleks atau imajinatif dan susah disaksikan langsung dikelas (misalnya proses terbentuknya batuan beku dari magma cair pijar yang bergerak dari dalam perut bumi menuju kepermukaan bumi yang kemudian mengalami proses pendinginan dan akhirnya membeku) dapat disajikan lewat model, animasi bentuk dalam film; konsep yang terlalu luas (misalnya gunung api, gempa bumi, iklim, dan lain-lain) dapat disajikan dengan film, film bingkai, gambar, dan lain-lain;

3). Dengan menggunakan media-multimedia film pendidikan, secara cepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini media-multimedia film pendidikan dapat berguna untuk : Menimbulkan kegairahan belajar; memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan; memungkinkan anak didik belajara sendiri-sendiri menurut kemampuan minatnya;

4). Dengan sifat unik pada setiap siswa, ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru akan banyak mengalami kesulitan bilamana semua itu harus diatasi sendiri. Apalagi jika latar belakang lingkungan guru dan siswa juga berbeda, maka masalah ini dapat diatasi dengan media-mutimedia film pendidikan, yaitu dengan kemampuannya dalam: perangsang yang sama; mempersamakan pengalaman; menimbulkan persepsi yang relatif sama.

Diperjelas lagi oleh Sudiman, dkk. (2002), ada enam nilai-nilai praktis yang biasa didapatkan pada media-multimedia film pendidikan pembelajara antara lain : 1) Membuat konsep abstrak menjadi kongkrit; 2) Dapat melampaui batas indra, ruang dan waktu; 3) Dapat diamati secara seragam atau bersama; 4) Memberi kesempatan pengguna untuk megontrol dirinya kecepatan atau kelambanan dalam belajarnya; 5) membangkitkan keingin tahuan dan motivasi belajar; 6) Dapat memberikan pengalaman belajar dari yang abstrak sampai yang kongkrit.

Beberapa pertanyaan yang harus dipertimbangkan dalam mengembangkang media-multimedia film pendidikan: 1). Mengapa ingin program media tersebut?; 2). Apakah program media itu akan membantu pekerjaan kita dalam mencapai tujuan yang telah direncanakan?; 3). Untuk siapa program media tersebut? (anak sekolah, mahasiswa, atau masyarakat umum); 4). Bagaimana karakteristik sasaran yang akan menggunakan?; 5). Perubahan tingkahlaku apa yang diharapkan setelah mereka menggunakan program?; 6). Dan apabila mereka tidak menggunakan program media tersebut, apa kerugian mereka?; 7). Apa materi tersebut cocok disajikan dalam bentuk program media tersebut?

Berikut ini adalah gambaran tentang syarat media yang baik untuk digunakan dalam proses belajar mengajar menurut Sudiman, dkk. (2002): 1). Syarat Visible (mudah dilihat) ; artinya media harus mudah dilihat dengan mata kepala tanpa harus menggunkan alat Bantu indera. Tulisan harus jelas, gambar harus tegas, dan tidak memberikan efek bias; 2). Interesnting (menarik); artinya media yang disajikan adalah media yang memiliki daya tarik tersendiri, dengan warna yang menarik, penampilan yang bersih, tata letak yang artistik namun menggambarkan kenampakan yang sebenarnya; 3). Simple (sederhana); artinya media harus sederhana, tidak disajikan secara panjang lebar, menekankan pada inti materi yang akan disampaikan sehingga tidak membosankan; 4). Useful (bermafaat); sebuah media harus tegas mamfaatnya; 5). Accurate (benar); artinya media harus menggambarkan kenyataan atau fakta yang sebenarnya, sehingga siswa dapat diarahkan pada situasi yang riil dan bukan dongengan; 6). Legitimate (sah, masuk akal); media harus realistis dan harus teruji keabsahannya; 7). Structure (terstruktur); media harus terstruktur, tidak semberaut sehingga materi yang disampaikanpun dapat ditangkap oleh siswa secara terstruktur pula.

Tips untuk mengembangkan media yang baik. Berikut ini beberapa tips yang disarankan oleh Kenthut, (2004): 1). Harus menguasai bidang yang akan diajarkan; 2). Harus menguasai media pembelajaran; 3). Mampu menterjemahkan materi pelajaran kedalam bentuk (teks, audio dan visual); 4). Terbuka dalam menerima masukan-masukan; 5). Mau melihat hasil karya orang lain dan menggali sumber lain guna peningkatan diri; 6). Mau dikritik untuk perbaikan berikutnya.

Kesimpulan
Beberapa keunggulan nyata media-multimedia film pendidikan untuk pembelajaran: a. Merupakan suatu dominator belajar yang umum. Baik peserta yang cerdas maupun yang lamban akan memperoleh sesuatu dari film yang sama. Keterampilan membaca atau penguasaan bahasa yang kurang bias diatasi dengan menggunakan film; b. Film sangat bagus untuk menerangkan suatu proses.

Gerakan-gerakan lambat dan pengulangan-pengulangan akan memperjelas uraian dan ilustrasi; c. Film dapat menampilkan kembali masa lalu dan menyajikan kembali kejadian-kejadian sejarah yang lampau; d. Film dapat mengembara dengan lincahnya dari sutau negara ke negara yang lain, horizon menjadi amat lebar, dunia luar dapat dibawa masuk kelas; e. Film dapat menyajikan baik teori maupun praktik dari yang bersifat umum ke khusus atau sebaliknya; f. Film dapat mendatangkan seorang ahli dan memeperdengarkan suranya dikelas; g. Film dapat menggunakan teknik-teknik seperti warna, gerak lambat, animasi dan sebagainya untuk menampilkan butir-butir tertentu; h. Film memikat perhatian setiap orang; i. Film lebih realistis, dapat diulang-ulang, dihentikan dan sebagainya, sesuai dengan kebutuhan. Hal-hal yang abstrak menjadi jelas; j. Film bias mengatasi keterbatasan daya indera kita (penglihatan); k. Film dapat memotifasi atau merangsang kegiatan para peserta didik. (Kontak person: 081296044004. Email: smpnegeritigaduapituekalosi@gmail.com)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , .

Ijazah Palsu dan Akar Ketidakjujuran Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: