Prestasi Ditengah Keterbatasan

26 Juni, 2015 at 12:00 am

MustaqimahOleh Mustaqimah SPd MPd
Guru SMA Negeri 3 Demak, Jateng.

 

Setahun yang lalu tepatnya di tahun pelajaran 2013/2014 saya diberi tugas sebagai wali kelas X Mia 1 dimana kelas tersebut dikondisikan sebagai kelas unggulan. Sebagian besar siswa di kelas tersebut adalah mereka yang telah lolos seleksi PPDB jalur prestasi. Cindy Ayu Anggraini adalah salah satu siswa perwalian saya yang lolos seleksi tersebut.

Saya tak pernah menyangka sedikitpun bahwa Cindy, yang waktu itu duduk di bangku paling depan, adalah seorang siswi yang memiliki keterbatasan fisik tuna rungu dan tuna wicara. Kebetulan baru tahun itu sekolah kami membuka kelas inklusi. Saya sendiri belum mendapat informasi yang jelas di kelas mana anak yang berkebutuhan khusus tersebut ditempatkan. Secara sepintas, orang akan mengira bahwa Cindy adalah murid yang normal secara fisik. Anaknya cantik dan agak pendiam di kelas.

Suatu ketika, saat saya memperkenalkan diri di depan kelas sebagai wali kelas X Mia 1, saya bertanya adakah yang sudah pernah mengenal saya sebelumnya. Secara serentak mereka menjawab : beluuuuum. Kemudian saya memperkenalkan diri dengan menyebutkan data diri lengkap dihadapan anak-anak.

Selanjutnya saya meminta setiap murid untuk memperkenalkan dirinya masing-masing urut mulai dari depan ujung kanan kemudian disambung dengan sebelahnya dan seterusnya. Giliran cindy memperkenalkan diri, dia diam saja tidak mengatakan apapun.

Kemudian Saya tanya ke Cindy

Saya : siapa namamu?

Cindy menjawab : Cindy (dengan suara lirih hampir tak terdengar)

Sebelum saya lanjutkan ke pertanyaan berikutnya, salah seorang murid maju ke depan dan berbisik pada saya : Maaf bu, Cindy itu tuna rungu dan tuna wicara.

Saya kaget dan setengah tidak percaya. Dari situ saya baru tau ternyata di kelas saya ada anak yang memiliki kebutuhan khusus. Saya bilang ke Cindy untuk jangan berkecil hati dengan kondisinya.

Rupanya dia paham dengan apa yang saya katakan dan dia menganggukkan kepala.
Seiring berjalannya waktu, pada pertengahan bulan Maret tahun 2014 kepala sekolah memanggil saya ke ruangannya. Beliau meminta pertimbangan tentang pengiriman Cindy dalam lomba OSN IPA tingkat SMALB dan SMA/SMK Inklusif. Sebagai wali kelas sekaligus guru pengampu Fisika, saya tahu betul kemampuan Cindy dalam mapel ini. Nilai ulangan cindy selalu melampaui KKM.

Saya pikir, ini adalah kesempatan emas buat cindy untuk mengukir prestasi. Saya meyakinkan kepala sekolah bahwa saya sanggup membimbing. Tentunya dengan mengajak serta guru mapel Biologi, kimia dan kebumian untuk mempersiapkan cindy menghadapi lomba tersebut.

Keluar dari ruangan kepala sekolah, saya memanggil cindy dan menginformasikan ke dia tentang lomba OSN tingkat SMALB dan SMA/SMK Inklusif. Ternyata Cindy antusias untuk mengikut lomba tersebut.

Bimbingan dan latihan soal intensif dari saya dan teman-teman guru segera dilakukan lain untuk menyiapkan Cindy maju ke tingkat propinsi (kebetulan tidak dilakukan seleksi tingkat kabupaten karena keterbatasan waktu dan kurangnya peserta). Selama bimbingan, kendala terbesar adalah cara komunikasi. Justru saya banyak belajar dari Cindy bagaimana cara berkomunikasi dengan dia. Ternyata, dia selalu melihat gerak bibir saya manakala sedang menerangkan. Kalau terlalu cepat saya berbicara, pasti kening Cindy akan berkerut dan menunjukkan raut kebingungan.

Saya tanya : Kenapa cindy? Kamu tidak jelas dengan keterangan ibu?

Cindy hanya mengangguk dan mengatakan jangan cepat-cepat (kata-katanya pelan dan lirih ), tapi saya tau apa yang diucapkan. Maka saya akan mengulangi apa yang tadi tidak dia pahami secara pelan-pelan dan dengan mimik bibir yang lebih jelas.

Pada saat lomba tingkat propinsi, kebetulan saya tidak bisa menemani karena sesuatu hal. Namun dari keterangan kepala sekolah, Cindy berhasil meraih juara pertama dan berhak mewakili jawa tengah ke tingkat nasional.

Rasa bangga dan haru yang luar biasa saya rasakan atas kemenangan cindy. Tentu persiapan ke tingkat nasional harus lebih giat lagi untuk mewujudkan cita-cita cindy meraih juara pertama. Kebetulan untuk tingkat nasional, bimbingan difasilitasi oleh dinas pendidikan propinsi jawa tengah. Namun begitu , saya selalu menyemangati cindy dan memotivasi agar tidak putus asa dan selalu berdoa kepada Allah SWT agar diberi kemudahan dan kelancaran.

Sampailah Cindy pada lomba tingkat nasional yang waktu itu dilaksanakan 1 – 7 September 2014 di NTB tepatnya di kota Mataram. Dengan berbekal ilmu yang telah dipelajari dan semangat yang luar biasa serta motivasi yang selalu saya berikan selaku wali kelas dan guru pembimbing termasuk doa dari kedua orang tua, akhirnya cindy berhasil meraih medali perak (juara 2). Begitu kabar disampaikan pada saya, tak terasa air mata jatuh tak terbendung. Rasa bahagia, haru dan bangga bercampur menjadi satu.

Ternyata, keterbatasan fisik yang dimiliki cindy bukanlah penghalang untuk maju dan berprestasi. Semangat yang luar biasa yang dimiliki oleh Cindy telah membuktikan bahwa dia mampu untuk itu. Tentunya sebagai guru Fisika sekaligus wali kelas, saya selalu memberi dorongan, motivasi dan bimbingan terutama saat dia mengalami kesulitan.

Sebagai wali kelas, di kelas saya juga meminta agar antar siswa bisa saling mensupport satu sama lain, terutama kepada Cindy. Ternyata hal ini mendapat respon positif dari seluruh siswa X Mia 1 sehingga cindy merasa nyaman belajar di kelas. Secara tidak langsung hal ini mampu memicu semangat belajar cindy. Terbukti Cindy mampu berprestasi di tingkat nasional walau dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya. (Kontak person: 081329317339. Email: moesta77@ymail.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Atas (SMA). Tags: , .

Demi Apa? Pentingkah? Masuk UN Nggak? Ijazah Palsu dan Akar Ketidakjujuran


ISSN 2085-059X

  • 649,871

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: