Demi Apa? Pentingkah? Masuk UN Nggak?

25 Juni, 2015 at 12:00 am

Does IchnatunOleh Does Ichnatun DS
Guru SMP Negeri 3 Semarang

 

Dulu… duluuuu… sekali …
Ketika pertama kali UN dilaksanakan, saya dan teman-teman guru menyambut gembira bak pesta rakyat.

Kami seperti memiliki akhir yang jelas. Kami sungguh-sungguh mengabdikan diri jiwa dan raga, sampai kami lupa kalau kami memiliki keluarga.

Pukul 5:30 saya sudah meninggalkan anak, tapa menyusuinya dengan jenak, apalagi menyuapinya sampai kenyang. Sayapun tidak sempat menyuapinya ketika anak makan siang. Malampun tidak sempat mendongeng, karena sudah kelelahan. Setiap pagi saya selalu terburu-buru, bahkan ketika perut saya membesar lagi.

21 November 1994, lahirlah anak ke dua saya. Ritual saya masih sama, berangkat jam 5:30 dan pulang jam 15:00.

Demi apa?

Demi apa lagi? Demi UN, demi masa depan anak bangsa. Bahkan ketika anak pertama saya kelas III SMP, sayapun tidak diberi istirahat barang setahun untuk tidak mengajar kelas IIIagar bisa mendampingi anak saya.

Hari itu, saya menyampaikan kepada Wakasek agar tahun itu saja saya diberi kesempatan untuk mengajar kelas I atau II. Wakasek tidak merespon. Ketika saatnya pembagian tugas dibacakan, saya sedih, karena saya masih dipasang di kelas III. Seusai rapat, saya lari ke kamar kecil dan menangis sepuasnya.

Haruskah UN memisahkan saya dari anak saya?

Lalu saya menghadap Wakasek.

Saya : ”Mengapa saya tidak diberi kesempatan untuk mendampingi putri saya setahun ini saja?”
Wakasek : ”Ibu tega membiarkan 300 siswa terlantar demi satu anak?”

Saya : “Ibu, satu anak itu adalah anak saya, masa depan saya. Siapa yang akan bertanggungjawab kalau dia tidak bisa menghadapi UN? Kan masih ada guru lain?”

Wakasek : “Saya yakin anak Ibu bisa menghadapinya.”

Ya Allah, sekejam itukah UN? Siapakah dia?

Haripun berlalu. Benar. Anak saya hanya mendapatkan nilai pas saat lulus UN. Apakah saya harus marah?

Apakah kalau saya marah terus bisa mengangkat nilai UN anak saya?

Baiklah, untuk sementara saya akan bersabar.

Tapi…

Suatu malam, anak saya yang dulu ikut saya mengajar kelas III dari dalam kandungan sudah kelas TK B, mengajukan pertanyaan, eh bukan, tepatnya permintaan.

Anak : “Mama, bisakah Mama pulang jam 9?”

Saya : “Itu guru TK, Sayang.”

Anak : “Ya sudah. Jam 2.”

Saya : “Mama keluar dari kelas jam 2:15. Jadi Mama baru bisa sampai di rumah paling cepat jam 2:45.”

Anak : “Apa Mama keluar saja?”
(Lalu saya menunjukkan rumah di depan rumah kami yang masih asli.)

Saya : “Adek mau tinggal di rumah seperti itu?”

Anak : “Nggak mau.”

Saya : “Nah, sebetulnya rumah kita dulu seperti itu. Karena Mama kerja, uang Mama dipakai maem, uang
Papa dipakai membangun rumah.”

Anak : “Ya sudah, Adek dijemput saja. Habis itu Mama boleh kembali lagi ke sekolah.”

Saya : “Itu ide yang bagus, Sayang. Besok inshaAllah Mama jemput.”

Tanpa bertanya jam berapa dia pulang, sayapun merencanakan menjemputnya pukul 10. Tepat pukul 10 saya sampai di sekolahnya.

Sepi…

Lho?

Sayapun bertanya kepada gurunya.

Saya : “Ibu, maaf, TK B sudah pulang ya.”

Guru : “Sudah, Bu. Dari tadi.”

Saya : “Jam berapa?”

Guru : “Jam 9.”

Saya : “Bukannya TK B pulang jam 10, Ibu?”

Guru : “Itu hari Senin-Rabu. Hari Kamis-Sabtu pulang jam 9.”

Ibu macam apa saya? Bahkan saya tidak tahu jam sekolah anak saya? UN….!!!!

Sayapun tancap gas pulang. Sampai di rumah, saya mendapati anak saya sudah berganti baju, berbaring di sofa dengan air mata berlinang tanpa bersuara. Segera saya meminta maaf.

Saya mengira anak saya sudah melupakannya, karena setiap hari Kamis saya berusaha menjemputnya.

Ternyata, suatu malam lagi, ketika anak saya kelas 1, kami sedang manyaksikan sebuah iklan di sebuah stasiun TV di mana anak kecil mengungkapkan cita-citanya.

Anak 1 : “Aku mau jadi presiden.”

Anak 2 : “Aku mau jadi insinyur.”

Anak 3 : “Aku mau jadi pilot.”

Dll…

Saya : “Kalau Adek mau jadi apa?”

Anak : “Aku mau jadi ibu rumah tangga.”

Saya : “Lho?”

Anak : “Nggak papa to? Biar suamiku yang cari nafkah.”

Saya : “Adek?”

Anak : “Aku mau merawat anak-anakku.”

Saya : “Jadi, nanti kalau lulus SD, kamu akan menikah?”

Anak : “Nggak. Aku harus kuliah.”

Saya : “Tapi untuk apa? Bukankah kamu akan menjadi ibu rumah tangga?”

Anak : “Tapi aku harus bisa menjawab semua pertanyaan anak-anakku.”

MashaAllah. Dia baru berusia 6 tahun, tapi cara berfikirnya seperti orang dewasa. Ada makna tersirat di balik pernyataannya. Dia menyindir saya yang dia pikir tidak mendampinginya berkembang sejak lahir sampai kelas 1. Ketika temannya ditunggui ibunya di sekolah sampai membuat komunitas arisan, dia hanya diantar seorang pembantu.

Apakah hanya sampai dia kelas 1 saja kondisi itu berlanjut? Tidak. Kondisi tersebut ternyata tidak pernah dia lupakan. Suatu hari Minggu, ketika saya bertugas di Bangkok, saya menemani teman saya menunggui anaknya di play group. Saat itu anak saya sempat BBM.

Anak : “Mama baru apa?”

Saya : “Ikut Jani sekolah.”

Anak : “Pasti Mama senang sekali melihat anak kecil sekolah. Mama kan nggak pernah tahu?!!”

Saya : “Lho, sekolah Mama kan mulai TK sampai SMA. Tiap pagi Mama mampir ke TK dulu sebelum ke sekolah.”

Waktu terus berjalan. Sampai dia kelas 9 di sebuah RSBI. Sejak pertama duduk di kelas 9, dia harus mengikuti try out setiap 2 minggu. Jika nilainya masuk peringkat 32 besar, maka dia akan duduk di kelas 9A. Demikian seterusnya. Dia akan berganti teman sekelas setiap 2 minggu, sehingga dia harus menyiapkan diri untuk tetap berada di dalam satu kelas dengan temannya, di kelas 9A, sebuah kelas kebanggaan.
UN begitu menyihirnya, sampai-sampai setiap diajak bicara, dia selalu menghentikan saya,”Sebentar, Ma. Pentingkah? Masuk UN nggak?”

Nah .. nah…

UN lagi kan?

Demi apa?

Tahukah, Nak! Seperti itulah yang dirasakan semua siswa Mama. Sampai-sampai mereka melupakan waktu bermainnya, bersosialisasi, dan sekedar memanjakan diri.

Demi apa?

Penting nggak?

Masuk UN?

Demi masa depan, Sayang…

(Kontak person: 081393886388. Email: doesthenovice@gmail.com)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , .

Kurikulum 2013; antara Fakta dan Harapan Prestasi Ditengah Keterbatasan


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: