Kemudahan bagi Anak Guru

24 Juni, 2015 at 8:48 am

Oleh Hasan Triyakfi SPd
Guru SDN 3 Kaliori Kalibagor Banyumas, alumnus PGSD Unnes

Ketidakadilan! Mungkin itu salah satu perasaan yang muncul di hati sebagian orang tua calon peserta didik baru. Terlebih yang anaknya harus memendam mimpi untuk masuk di sekolah negeri favorit.

Bukan karena nilainya tak mencukupi melainkan karena harus merelakan peringkatnya tergeser oleh anak guru yang mendapatkan keistimewaan (privilege) berupa penambahan nilai.

Selalu ada hal menarik untuk dibicarakan ketika membahas mengenai penerimaan peserta didik (PPD). Tahun ini muncul beberapa kritik terhadap pelaksanaan PPD. Mulai dari pelaksanaan sistem online yang bagi sebagian orang tua justru menyulitkan, hingga masalah yang kini sedang hangat diperbincangkan.

Yaitu mengenai kebijakan pemberian tambahan nilai bagi anak guru yang mendaftar di sekolah.
Masalah klasik memang, tapi tahun ini gaung kritik makin keras. Tak tanggung-tanggung, kali ini kritik datang dari Ketua Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Jateng, Ahmad Zaid, yang menganggap kebijakan itu sebagai ketidakadilan. Hal senada juga diungkapkan anggota Komite Penyelidikan dan Pemberantasan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KP2KKN) Jateng Ronny Maryanto (SM, 17/6/15).

Apa yang disuarakan kedua tokoh itu sejatinya merupakan cerminan dari apa yang dirasakan sebagian orang tua calon peserta didik. Bagaimana tidak, tambahan nilai 2,25 untuk PPD SMP dan 3 untuk PPD SMA dirasa sangat merugikan. Terlebih jika melihat persaingan untuk masuk di sekolah negeri yang kian ketat. Selisih nilai sedikit saja bisa berakibat tidak diterimanya seorang calon peserta didik.

Adilkah penambahan nilai untuk anak guru? Lalu di mana letak keadilan untuk anak petani, buruh, atau anak dari orang tua dengan profesi yang lain? Penambahan nilai bagi anak guru dalam proses PPD sejatinya memang tak menyalahi regulasi. Untuk sekolah di wilayah kota Semarang contohnya, mereka mendasarkan diri pada Keputusan Wali Kota Nomor 422.1/403/ 2015.

Nilai Kemaslahatan
Lampiran I keputusan itu menjelaskan bahwa anak guru berhak mendapatkan tambahan nilai kemaslahatan, berupa tambahan nilai 2,25 untuk SMP, dan 3 untuk SMA/SMK bagi yang mendaftar di satuan pendidikan di mana orang tuanya sebagai guru. Selain itu, tambahan nilai 0,75 bagi yang mendaftar di luar satuan pendidikan di mana orang tuanya mengajar. Besaran angka ini bervariasi di beberapa daerah. Bahkan ada yang jauh lebih besar.

Sudah tak setinggi beberapa tahun lalu memang, yang mencapai 4,5 untuk penerimaan peserta didik SMP dan tambahan nilai 6 untuk SMA/SMK (SM, 2/7/13). Namun, Pemerintah harusnya lebih serius melakukan kajian mengenai penambahan nilai ini. Pemerintah juga seyogianya mempertimbangkan rasa keadilan masyarakat, mengingat kebijakan ini erat kaitannya dengan hak dasar warna negara, yaitu hak memperoleh pendidikan.

Kebijakan Wali kota Semarang, juga beberapa kepala daerah lain mengenai penambahan nilai bagi anak guru dalam PPD bak ”duri dalam daging”. Bagaimana walaupun persentase anak guru yang mendaftar PPD mungkin tak banyak, realitas itu tetap saja bisa dianggap mencederai rasa keadilan masyarakat. Niat baik pemerintah yang mungkin ingin memberikan apresiasi kepada guru dirasa kurang tepat jalannya.

Penulis yakin pemerintah sudah mempertimbangkan masak-masak tapi logika yang dipakai pemerintah yang dijadikan dasar pembuatan kebijakan ini seharusnya bisa dipertanggungjawabkan kepada khalayak. Pemerintah harus bisa memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai dasar pemberian privilege (kemudahan) bagi anak guru ini.

Sudah saatnya guru berani bersuara. Sebagai teladan, guru harus berani mengatakan ”kami menolak budaya tak sehat ini, dan kami yakin bahwa anak-anak kami bisa bersaing dengan sportif, tanpa harus mengandalkan tambahan nilai”. Beranikah rekanrekan guru? (Sumber : Suara Merdeka, 24 Juni 2015)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

Ooo … Yang … . Kurikulum 2013; antara Fakta dan Harapan


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: