Guru? Mengapa?

21 Juni, 2015 at 8:27 am

Does IchnatunOleh Dra Does Ichnatun Dwi Soenoewati MPd
Guru SMP Negeri 3 Semarang

 

Suatu siang, ketika akan memulai pelajaran, saya bertanya kepada beberapa siswa tentang cita-citanya. Ketika giliran sampai pada siswa terpandai di kelas tersebut, saya menangis. Mengapa? Apakah siswa tersebut menghina saya? Tidak!

Saya : “What do you want to be, Untsa?”
Siswa : “I wanna be a teacher.”
Saya : “A teacher? But why? You are a smart student. Don’t you want to be a doctor, an engineer, or something?”
Siswa : “That’s it! I want to share my knowledge with others.”

Bagaimana saya tidak menangis? Adakah di antara Bapak/Ibu yang bercita-cita menjadi guru? Terus terang, saya tidak.Tidak banyak orang yang menghargai profesi guru, bahkan sebagian besar orang mengira bisa sukses tanpa bantuan seorang guru.
Ketika saya akan lulus SMP, ayah saya bertanya tentang cita-cita saya.

Ayah : ”Kamu besok kalau besar ingin menjadi apa?”
Saya : “Tidak tahu.”
Ayah : “Kalau kamu ingin menjadi guru, lanjutkan ke SPG. Kalau kamu tidak ingin menjadi guru, lanjutkan ke SMA.”

Yang ada dalam pikiran saya saat itu, menjadi guru itu tidak populer sama sekali. Selain itu, saya sangat pemalu. Bagaimana saya bisa menjadi guru? Maka sayapun mendaftar ke SMA ‘favorit’ di kota saya. Tiga tahun saya bersekolah di sana. Pertanyaan serupa diajukan oleh wali kelas saya ketika kami selesai ujian.

Guru saya : “Kamu akan melanjutkan ke mana, Does?”
Saya : “Saya tidak tahu, Pak. Nilai saya yang terbaik Bahasa Inggris.”
Guru saya : “Kalau kamu suka Bahasa Inggris, lanjutkan ke IKIP. Nanti kamu menggantikan Bapak. Kalau kamu akan melanjutkan ke Undip, ambil selain Bahasa Inggris. Nanti kamu kursus Bahasa Inggris saja.”

Saya sangat bingung. Bagaimana mungkin saya akan menjadi guru? Teman-teman saya selalu mengolok-olok guru kami yang fisiknya tidak sempurna seperti saya. Pasti nanti saya juga diolok-olok siswa saya.Saat itu saya sudah memantapkan diri untuk memperdalam Bahasa Inggris. Karena saya merasa hanya suka pelajaran itu.

Tapi apa lacur? Nilai Bahasa Inggris saya di ijazah ‘6’! Saya meratapi nilai itu. Sudah jelas ulangan harian saya selalu 8 atau 9, dan nilai ujian sekolah saya peringkat 2 di kelas saya. Saya berfikir, sebetulnya guru saya memiliki daftar nilai tidak? Saya sempat ragu, masihkah saya akan melanjutkan ke IKIP?

Akhirnya saya mendaftar di IKIP jurusan Bahasa Inggris dan UNS jurusan Matematika. Ketika saya mendaftar di IKIP, saya sempat diejek oleh panitia.

Panitia : “Ambil jurusan apa, Mbak?”
Saya : (Sedikit malu) “Bahasa Inggris, Pak.”
Panitia : “Nilai 6 berani mengambil Bahasa Inggris?”
Saya : “Saya akan coba, Pak.”

Alhamdulillah, saya diterima di IKIP maupun UNS. Saya tetapkan pilihan mengambil IKIP jurusan Bahasa Inggris. Kelak, karena jurusan yang saya ambil, saya sempat bertugas di luar negeri. Saya bangga menjadi guru. Saya tidak mau menjadi guru biasa. Saya ingin menjadi guru plus. Tapi sampai sekarang, saya masih menjadi guru biasa. Yang saya tahu, saya tidak mau setengah-setengah menjadi guru, walau itu bukan cita-cita saya. Melaksanakan tupoksi adalah harga diri, dilihat maupun tidak dilihat oleh atasan.

Saat ini adalah saat-saat para lulusan SMP maupun SMA/K harus menentukan ke sekolah lanjutan yang mana. Saya sangat menghargai para siswa cerdas yang merasa terpanggil untuk berbagi ilmu dengan orang lain/siswanya/menjadi guru. Saya bangga mendengar siswa saya yang ingin membagi ilmunya dengan calon siswanya. Maka itu, mari kita bagi ilmu kita kepada siswa kita sebaik mungkin, karena mengajar bak berbisnis MLM. Jika kita salah menyampaikan ilmu kita kepada siswa maka kesalahan yag berlipat ganda akan tersebar luas.

Saya tidak habis pikir ketika mengetahui mantan guru dari salah satu sekolah favorit memandang rendah pada profesi guru. Suatu hari, salah satu alumni sekolah favorit menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi swasta bertemu mantan gurunya. Dengan bangga dia mengingatkan mantan gurunya, bahwa dia dulu siswanya. Apa reaksi mantan gurunya?

Mantan siswa : “Ibu, saya Bunga, mantan siswa Ibu di SMP Favorit. Saya dulu kelas 2C. Wali kelas saya ibu Melati. Ibu adalah guru BK kami.”
Mantan guru : “Huh. Alumni sekolah favorit kok mau-maunya menjadi guru.”

Sehina itukah profesi guru, bahkan di mata mantan guru? Sejak saat itu, sang mantan siswa berkata “Dia bukan guru saya.” (Email: doesthenovice@gmail.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , .

Era Selamat Tinggal Skripsi Relativitas


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: