Sinergi Membentuk Karakter Jujur

29 Mei, 2015 at 7:52 am

Oleh Hery Nugroho SPdI MSi
Guru dan Ketua PGRI Ranting SMA3 Semarang

Di antara beberapa permasalahan bangsa yang kita hadapi saat ini adalah ketidakjujuran. Meskipun sudah ada KPK atau Pengadilan Tindak Pidana Korupsi misalnya, tetap saja ada yang korupsi. Dalam bisnis, ada yang melakukan kecurangan supaya mendapatkan keuntungan berlipat. Contohnya ada orang menyelundupkan beras sintetis. Begitu juga di dunia pendidikan, ada siswa berani menyontek saat ujian, walaupun ada pengawas.

Dari pemetaan masalah tersebut, lembaga pendidikan mempunyai tanggung jawab moral untuk menyelesaikannya karena pelakunya sedang dididik atau pasti alumni sebuah sekolah. Seharusnya sekolah menjadi garda terdepan menyelesaikan masalah ketidakjujuran tersebut. Ada dua faktor penyebab seseorang melakukan ketidakjujuran.

Pertama; faktor internal. Orang bersikap tidak jujur karena kemelemahan iman. Dalam bahasa al-Ghazali, nafsu dalam diri orang itu sudah menjadi panglima. Dengan kata lain, dirinya telah dikuasai nafsu. Kedua; faktor eksternal, dalam arti ada dorongan dari luar. Contohnya mau diajak oleh teman untuk menyontek saat ulangan atau ujian.

Dari dua penyebab tersebut, sebenarnya bisa dijawab, di antaranya melalui pendidikan. Pasalnya melalui pendidikan tiap individu akan berubah menjadi baik (jujur). Setelah itu, individu-individu tersebut akan menciptakan lingkungan baik di sekolah, keluarga, dan masyarakat yang baik pula. Hanya dalam praktiknya, kadang ketiga aspek tersebut berjalan sendiri-sendiri.

Hal ini yang ingin dijawab dalam Kurikulum 2013. Dalam kurikulum tersebut, kejujuran menjadi bagian dari kompetensi inti (KI) 2 untuk sikap sosial. Semua mata pelajaran mempunyai amanah untuk menghayati dan mengamalkan perilaku jujur. Kondisi tersebut dipertegas dalam Permendikbud Nomor 54 Tahun 2014 Lampiran III tentang Pedoman Mata Pelajaran bahwa guru jadi pengembang budaya sekolah.

Fondasi Kokoh
Sebagai pengembang budaya sekolah, guru satu mata pelajaran tidak bisa bekerja sendiri, melainkan harus berkerja sama dengan berbagai pihak. Pertama; kerja sama dengan seluruh mata pelajaran. Selama ini ada anggapan bahwa soal kejujuran adalah wewenang guru Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan. Persepsi itu harus dibuang jauh-jauh. Semua guru wajib menanamkan pembiasaan kejujuran pada siswa.

Kedua; kerja sama dengan siswa. Siswa dilatih langsung untuk terbiasa jujur dalam kehidupan sehari-hari. Penulis mebiasakan siswa jujur melalui menulis laporan muhasabah ibadah harian. Apabila tidak mengerjakan, ia harus jujur menuliskan apa adanya, dan tiap minggu dilaporkan ke penulis.

Ketiga; kerja sama dengan orang tua. Bentuknya adalah pembiasaan dan pendampingan. Orang tua adalah ”guru” kali pertama yang menanamkan nilai-nilai kebaikan, termasuk kejujuran. Kalau pembiasaan ini sudah dilakukan orang tua sejak dini, perkembangan selanjutnya akan lebih mudah. Ibarat bangunan sudah mempunyai fondasi kokoh.

Adapun pendampingan, misalnya laporan muhasabah ibadah anak harus ditandatangani orang tuanya. Melalui cara ini, secara tidak langsung orang tua akan mengetahui sekaligus melakukan pendampingan. Idealnya, guru dapat berinteraksi langsung dengan orang tua murid. Bisa orang tua datang ke sekolah atau guru yang datang ke rumah siswa.

Keempat; kerja sama dengan masyarakat, dengan menciptakan pembiasaan kejujuran di lingkungan tempat tinggalnya sampai yang lebih luas. Contoh mudah adalah tidak mengambil barang milik orang lain. Selain itu selalu mengawasi sehingga bila siswa melakukan ketidakjujuran maka orang tua berkoordinasi dengan guru untuk mengarahkan ke jalan yang benar.

Bentuk kerja sama tersebut seyogianya disinergikan sehingga segala bentuk kecurangan dapat diminimalisasi. Dengan kata lain kejujuran akan menjadi kebiasaaan tiap warga negara. Meskipun tidak ada penegak hukum atau guru atau pengawas, sikap jujur bisa menjadi budaya atau kebutuhan. (Sumber : Suara Merdeka, 29 Mei 2015)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Perspektif Masa Depan Filsafat Buddha Paradoks Jual Beli Ijazah


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: