Perspektif Masa Depan Filsafat Buddha

29 Mei, 2015 at 7:50 am

Oleh Waridi SPd MM
Kepala SMP Negeri 1 Kecamatan Pagentan Banjarnegara

Trisuci Waisak 2559 BE telah tiba dan tahun 2015 jatuh tepat purnamasidi pada Selasa, 2 Juni 2015. Detik-detik Waisak jatuh tepat pukul 23.18. Umat Buddha memperingati Trisuci Waisak dengan bermacam cara, di antaranya melaksakan Delapan Sila (puasa model Buddhis) sebulan penuh, pekan penghayatan Dhamma, menghadiri upacara perayaan di vihara masing-masing, di Candi Borobudur, Candi Sewu, atau menyelenggarakan bakti sosial.

Bermacam cara itu pada hakikatnya merupakan upaya secara sungguh-sungguh mempelajari dan mendalami ajaran Sang Buddha, yang lazim disebut Buddha Dhamma. Mempelajari Buddha Dhamma secara sungguh-sungguh berarti mempelajari hidup dan kehidupan dalam arti seluas-luasnya. Pasalnya, Buddha Dhamma lahir antara lain berangkat dari niat baik Sidharta Gautama menemukan ”obat” supaya manusia terbebas dari ketuaan, kesakitan, dan kematian.

Mempelajari Buddha Dhamma secara sungguhsungguh berarti juga mempelajari manusia dalam kemanusiaan sesungguhnya. Kemanusiaan yang sesungguhnya itu berarti manusia terkait dengan dirinya siapa, di mana, serta mengapa demikian. Dengan mempelajari Buddha Dhamma, seseorang akan sampai pada pengetahuan mengenai hidup ini apa, mengapa kita hidup, bagaimana kehidupan pada umumnya. Selain itu, bagaimana seharusnya kita hidup, untuk apa kita hidup, mengapa kita hidup, ke mana hidup ini akan mengalir, dan apakah hidup ini dapat diakhiri dengan baik, dan bagaimanakah masa depan dunia?

Dengan demikian mempelajari Buddha Dhamma dengan sungguh-sungguh berarti mencari kebenaran, pencarian akan kebenaran. Mencari kebenaran berarti berpikir filsafat. Untuk itu pada peringatan Trisuci Waisak 2559 BE/2015 ini penulis mencoba mengkaji pandangan filisofis Buddha Dhamma tentang masa depan dunia.

Namun penulis hanya mengkaji sudut pandang kecil dari keluasan berpikir kefilsafatan, yaitu sudut pandang filsafat Buddha Dhamma dalam perspektif masa depan dunia. Istilah ”dunia” bisa dipahami sebagai dua hal. Pertama; \sebagai kehidupan manusia. Kedua; sebagai keberadaan alam semesta tempat tinggal manusia dan makhluk-makhluk lain.

Mengkaji pengertian dunia dalam pemahaman pertama (berkait kehidupan manusia) maka ada pertanyaan yang selalu menjadi perhatian umat Buddha. Yakni bagaimana asal mula kehidupan? Bagaimana masa depan kehidupan manusia pada umumnya?

Adapun mengkaji dunia dalam pemahamannya kedua, ada pertanyaan bagaimana awal dunia menurut Buddha Dhamma? Bagaimana akhir dunia dalam perspektif filosofis Buddhis.

Perbuatan Manusia
Tentang asal mula kehidupan manusia, Buddha menjelaskannya dalam ajarannya tentang tumumbal lahir. Buddha menerangkan,” Permulaan Samsara ini tidak dapat diketahui. Tidaklah dapat dirasakan titik paling awal makhluk-makhluk hidup yang dihalangi oleh ketidaktahuan dan dibelenggu oleh keinginan, mengembara dan bepergian.” (Narada; 1992:101).

Berdasarkan ajaran Sang Buddha maka dapat dinyatakan bahwa akhir kehidupan manusia ditentukan oleh perbuatan baik dan buruk manusia sendiri. Bagi yang bersemangat dan tak mau merugi, membiarkan dirinya terseret ke perilaku tak berguna, ia dapat memilih meninggalkan kehidupan berumah tangga, banyak belajar, banyak praktik kehidupan luhur yang bisa mengantarkan menuju kebahagiaan tertinggi, yakni Nibbana.

Tapi bagi yang malas dan tak memiliki semangat, ia akan terus membiarkan dirinya terjatuh dalam kebiasaan buruk dan setelah kematiannya ia terlahir di salah satu alam kehidupan yang menyedihkan. Mengenai masa depan dunia sebagai keberadaan alam semesta tempat tinggal manusia dan makhluk lain telah dijelaskan Sang Buddha, khususnya dalam Aganna Sutta dan Cakkhavati Sihanada Sutta. Aganna Sutta merupakan khotbah Sang Buddha kepada siswa-Nya yang berasal dari keluarga Brahmana, yakni Vasettha. Adapun Cakkavatti Sihanada Sutta, adalah khotbah Sang Buddha saat berdiam di Matula dalam Kerajaan Magadha.

Masa depan dunia dalam perspektif filsafat Buddha sangat dipengaruhi oleh perilaku manusia sendiri. Padahal, kini kehidupan manusia menuju kemerosotan tapi setelah itu berbalik arah menuju peningkatan kebaikan dan kemuliaannya. Yang terpenting bagi umat Buddha adalah segiat mungkin melaksanakan Dana, Sila, dan Samadhi karena kebahagian ada di perjalanan itu dan pasti di akhir perjalanantercapai Nibbana. Selamat Trisuci Waisak. Semoga semua makhluk berbahagia. (Sumber : Suara Merdeka, 29 Mei 2015)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Gelar Abal-abal Sinergi Membentuk Karakter Jujur


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: