Memutar Haluan Pasca UN

20 Mei, 2015 at 12:03 am

Lilik NurcholisOleh Drs Lilik Nurcholis MSi
Kepala SMP Negeri 2 Bawen Kabupaten Semarang, Fasilitator MBS USAID PRIORITAS Provinsi Jawa Tengah

Hiruk pikuk penyelenggaraan ujian nasional (UN) telah berakhir, saatnya semua bernafas lega walau tetap saja masih meninggalkan berbagai permasalahan. Sebagaimana kita semua maklumi, bahwa UN merupakan “gawe” besar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan setiap tahun. Akan tetapi, setiap tahun itu pula permasalahan-permasalahan tentang UN selalu muncul tidak kunjung padam, ibarat pepatah mati satu tumbuh seribu. Anehnya, permasalahan itu tetap menarik untuk diperdebatkan dan diberitakan. Kebocoran soal merupakan hal yang paling menarik untuk konsumsi masyarakat luas meskipun kadang hanya sebuah sensasi atau bahkan iseng belaka.

Perdebatan tentang monopoli hasil UN sebagai penentu kelulusan telah berakhir pada keputusan bahwa hasil UN tidak digunakan sebagai kriteria kelulusan. Untuk kali ini, sekolah diberi kewenangan penuh meluluskan siswanya dengan kriteria kelulusan yang ditentukan oleh sekolah itu sendiri. Meskipun selanjutnya, banyak pakar yang meragukan integritas sekolah dan mutu pendidikannya. Namun, hal itu setidaknya dapat diartikan sebagai kembalinya kedaulan sekolah dan kedaulatan guru dalam menentukan nasib siswanya.

Kewenangan sekolah untuk menentukan kelulusan bagi siswanya tanpa dipengaruhi oleh hasil UN sesungguhnya juga dapat dimaknai pada upaya mengembalikan haluan pencapaian tujuan pendidikan nasional yang sesungguhnya. Selama ini, pendidikan kita seakan telah salah haluan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, yaitu untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sesungguhnya, rumusan itu sungguh sangat ideal yang telah menyeimbangkan antara perkembangan otak kiri dan otak kanan, antara imtaq dan iptek, dan menempatkan siswa sebagai mahluk multi itelegensi, serta menempatkan kognisi, afeksi dan psikomotor sebagai satu kesatuan kemampuan siswa yang harus dikembangkan. Namun, itu semua menjadi berantakan setelah hasil UN memonopoli penentuan kelulusan. Sekolah lebih mengejar output yang diidentikkan dengan pencapaian hasil UN dibanding outcome-nya.

Tidak dipungkiri, meskipun sekolah mencantumkan persyaratan memperoleh nilai kepribadian dan akhlak mulia minimal baik untuk bias lulus, tetapi masih diragukan integritas guru dalam memberikan nilai tersebut. Selain itu, sekolah akan berpikir 1000 kali untuk tidak meluluskan siswanya yang memiliki nilai rata UN tinggi tetapi kepribadian dan akhlak mulianya kurang. Sebaliknya, seorang siswa yang memiliki kepribadian dan akhlak mulia bagus pasti tidak akan lulus jika nilai UN-nya tidak memenuhi ketentuan.

Mahluk Multi Integensi
Secara kodrati, manusia diciptakan sebagai mahluk yang sempurna, dilengkapi dengan hati nurani dan akal pikiran, memiliki rasa, karsa dan cipta, dan memiliki muti iteligensi. Namun demikian, dominasi hasil UN sebagai tolok ukur inteligensi menyebabkan kita terjebak pada domain kognitif untuk mengukur kemampuan intelegen siswa. Kita telah mengabaikan kemampuan afektif dan psikomotor mereka. Kita telah mengabaikan kemampuan seni atau olah raga sebagai kriteria siswa pandai. Kita hanya mengakui siswa pandai jika nilai UN-nya bagus.

Dihilangkannya hasil UN sebagai salah satu kriteria kelulusan membuka peluang bagi pengakuan siswa yang memiliki bakat seni dan olah raga sebagai anak pandai. Dengan demikian, ajang kompetisi berupa Lomba Festival Seni Siswa Nasional (LFS2N) dan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) akan sama bergengsinya dengan Olimpiade Sains Nasional (OSN). Selain itu, adanya UN telah menumbuhkan diskriminasi mata pelajaran di sekolah. Mata pelajaran yang tidak di-UN-kan telah dipandang sebelah mata dan hanya dianggap sebagai pelengkap struktur kurikulum semata.

Sekolah sebagai Taman
Dampak dari ambisi pengejaran prestasi sekolah melalui hasil UN menyebabkan lingkungan sekolah berubah layaknya sebuah kamp latihan para militer. Doktrin UN melalui kisi-kisi yang telah ditetapkan pemerintah sebagai acuan pelatihan dalam bentuk pemadatan materi, tambahan jam pelajaran, tryout dan drill soal. Suasana pembelajaran lebih mirip dengan persiapan pertempuran melawan UN terutama pada pembelajaran siswa tingkat akhir. Sehingga, suasana pembelajaran yang menyenangkan jauh dari angan-angan walau merupakan bagian dari kebijakan.

Jika kita mau menengok kembali filosofi sekolah dari Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hajar Dewantoro. Beliau menyebut sekolah sebagai taman, tempat anak- anak tumbuh budi pekerti, pikiran, dan tubuhnya. Untuk itu, diharapkan situasi sekolah dapat membuat siswa senang mengikuti pembelajaran dan selalu merindukan sekolah sebagai tempat belajar. Namun demikian, hanya siswa taman kanak-kanak sajalah saat ini yang rindu terhadap sekolahnya. Mereka merasa senang di sekolah, bahkan dalam keadaan sakit pun mereka tetap berkeinginan masuk sekolah. Berbeda dengan siswa di tingkat pendidikan berikutnya, mereka bersekolah seakan sebagai sebuah tugas atau bahkan beban yang harus dijalani. Karenanya, tidak sedikit mereka yang kabur dari sekolah baik drop out maupun membolos.

Tanpa dihantui oleh bayang-bayang UN lagi, maka saatnya kita memutar haluan, mengembalikan arah pendidikan kita untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang mulia. Saatnya kita mengakui bahwa siswa adalah mahluk multi intelegensi dan menjadikan sekolah sebagai taman yang memberi kesempatan semua bakat berkembang dengan suasana pembelajaran yang menyenangkan.

Saatnya menjadikan sekolah sebagai tempat yang dirindukan untuk belajar, menjadikan sekolah sebagai tempat membina imtaq dan menimba iptek, menjadikan sekolah untuk menghasilkan generasi yang memiliki orientasi amal ilmiah dan ilmu amaliah. Bukan sekolah tempat menggembleng siswa untuk mencapai hasil UN tertinggi. (Kontak person: 085741918838. Email: lienceha@yahoo.com)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , .

Penggiat Buku untuk Kebangkitan Nasional Belajar Sambil Bermain Melalui Make A Match


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: