Menyoal Penentuan Kenaikan Kelas

14 Mei, 2015 at 12:00 am

Heri KristantoroOleh Heri Kristantoro SPd MPd
Kepala SMP Negeri 4 Ambarawa Kabupaten Semarang

Hal yang baru pertama kali di dalam sejarah pendidikan di dunia, satu tahun pelajaran peserta didik mendapat pelajaran dengan dua kurikulum.

Ujian nasional tingkat SMA/SMK/MA dan SMP/MTs telah berlalu. Kesibukan sekolah beralih pada penyiapan peserta didik dalam Ulangan Kenaikan Kelas. Permasalahan baru muncul dalam penentuan kenaikan kelas bagi sekolah yang menerapkan kurikulum berbeda pada semester pertama dan kedua. Bagi sekolah yang telah menerapkan Kurikulum 2013 pada tahun pelajaran 2014/2015 tidak mengalami permasalahan.

Permendikbud nomor 160 tahun 2014
Pergantian Pemerintahan Republik Indonesia pada bulan Oktober 2014 membawa perubahan dalam pelaksanaan Kurikulum 2013. Mendikbud, melihat bahwa implementasi Kurikulum 2013 belum siap sehingga mengeluarkan Permendikbud nomor 160 tahun 2014 tentang pemberlakuan Kurikulum tahun 2006 dan Kurikulum 2013.

Terdapat dua aturan, bagi satuan pendidikan dasar dan menengah yang telah melaksanakan Kurikulum 2013 selama tiga semester tetap menggunakan Kurikulum 2013, sedangkan yang melaksanakan Kurikulum 2013 sejak semester satu tahun pelajaran 2014/2015 kembali melaksanakan Kurikulum tahun 2006 mulai semester kedua sampai ada ketetapan dari kementerian untuk melaksanakan Kurikulum 2013 paling lama sampai dengan tahun pelajaran 2019/2020.

Penilaian hasil belajar oleh pendidik bagi peserta didik disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku pada satuan pendidikan. Bagi sekolah yang telah tiga semester menerapkan Kurikulum 2013 tidak bermasalah tentang sistem penilaiannya karena hanya menerapkan satu kurikulum pada tahun pelajaran yang sama.

Problematika muncul bagi sekolah yang baru menerapkan Kurikulum 2013 satu semester karena menerapkan dua kurikulum berbeda dalam satu tahun pelajaran. Sistem penilaian pada semester satu berdasarkan standar penilaian Kurikulum 2013, sedangkan semester dua berdasarkan standar penilaian Kurikulum tahun 2006. Mengingat rentang pemberian nilai yang berbeda, maka perlu dipersiapkan sekolah agar guru memiliki pemahaman yang sama dalam penentuan kenaikan kelas.

Dualisme Kurikulum
Dengan adanya Permendikbud nomor 160 tahun 2014, sekolah di seluruh Indonesia dan sekolah Indonesia di luar negeri berlaku dua kurikulum secara bersamaan yaitu kurikulum 2006 untuk sebagian besar sekolah dan Kurikulum 2013 bagi sekolah yang telah melaksanakan Kurikulum 2013 selama tiga semester. Dampak dari standar penilaian yang berbeda berpengaruh terhadap rentang angka yang digunakan.

Pada Kurikulum 2013 memiliki rentang nilai 1-4 dengan huruf D sampai dengan A, sedangkan pada Kurikulum tahun 2006 memiliki rentang nilai 0-100 tanpa huruf. Beban kerja guru dari segi penilaian kurikulum 2013 sangat berat. Bentuk penilaiannya sangat rinci. Pada Kurikulum 2013, mata pelajaran Teknologi, Informasi dan Teknologi (TIK) terintegrasi dalam semua pelajaran. Sedangkan pada Kurikulum 2006, mata pelajaran TIK kembali muncul.

Penentuan Kenaikan Kelas
Kriteria kenaikan kelas pada Kurikulum 2013 berbeda dengan Kurikulum 2006. Belum selesai permasalahan standar penilaian yang berbeda, satuan pendidikan telah dihadapkan pada permasalahan memadukan penentuan kenaikan kelas dengan kurikulum dobel. Bagi sekolah yang kurang paham terhadap regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah maka akan menambah permasalahan di tingkat satuan pendidikan. Berdasarkan peraturan bersama Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan nomor : 5496/C/KR/2014 dan nomor : 7915/D/KP/2014 tentang petunjuk teknis pemberlakuan Kurikulum tahun 2006 dan Kurikulum 2013 pada sekolah jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah pasal 8 ayat 3 dijelaskan sekolah yang telah melaksanakan kurikulum 2013 sejak semester pertama tahun pelajaran 2014/2015 dan melaksanakan Kurikulun Tahun 2006 pada semester kedua tahun pelajaran 2014/2015 menetapkan kenaikan kelas berdasarkan Kurikulum 2006 dengan menggunakan konversi nilai semester pertama.

Konversi nilai dari Kurikulum 2013 ke Kurikulum 2006, berdasarkan pada pencapaian kompetensi yang dicapai oleh peserta didik. Konversi nilai dari 1-4 ke 0-100 dihitung dengan cara membagi nilai perolehan dalam Kurikulum 2013 dengan angka 4 dikalikan 100. Sebagai contoh pencapaian kompetensi peserta didik pada Kurikulum 2013 adalah 3,85, maka equivalensi pada Kurikulum 2006 adalah 3,85 dibagi 4 dikalikan 100 sehingga diperoleh angka 96,3. Nilai ini dipadukan dengan nilai semester dua kemudian di rata-rata.

Hasil rata-rata ini dibandingkan dengan rata- rata KKM. Apabila lebih besar dari KKM berarti peserta didik telah tuntas. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), setiap satuan pendidikan memiliki kriteria kenaikan kelas yang berbeda. Untuk itu penentuan kenaikan kelas tetap mengacu pada hasil kesepakatan seluruh komponen sekolah yang tertuang dalam kriteria kenaikan kelas masing-masing sekolah.

Antisipasi Sekolah
Dinamika perubahan kurikulum yang sangat cepat menuntut sekolah untuk memiliki daya adaptasi yang tinggi. Kemampuan ini penting agar tidak ketinggalan informasi regulasi yang harus digunakan sebagai pedoman. Pemerintah selaku penentu kebijakan harus gencar melakukan sosialisasi regulasi bagi yang berkepentingan baik Permendikbud nomor 160 tahun 2014 maupun peraturan bersama Dirjen Pendidikan Dasar dan Dirjen Pendidikan Menengah.

Sekolah mulai menyikapi dengan melakukan konversi nilai semester satu dari kurikulum 2013 ke Kurikulum 2006 dengan melibatkan seluruh dewan guru. Nilai hasil konversi dimasukkan dalam leger nilai yang digabungkan dengan nilai semester kedua sebagai bahan untuk penentuan kenaikan kelas. Semoga dengan cara ini, sekolah yang menerapkan dua kurikulum yang berbeda dapat mempersiapkan rapat kenaikan kelas dengan baik. (Kontak person: 085725823555. Email : herikristantoro@gmail.com. Blog : herikristantoro.blogspot.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , .

Bijak Menyikapi Hasil Unas Tionghoa Menggugat Tragedi Mei 1998


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: