Bijak Menyikapi Hasil Unas

13 Mei, 2015 at 8:16 am

Oleh Agung Kurniawan

HASIL ujian nasional (unas) SMA/SMK memang baru diumumkan kepada siswa Jumat (15/5). Namun, kemarin hasil ujian yang kini tidak lagi menentukan kelulusan tersebut sudah diketahui. Dinas pendidikan provinsi kemarin menyerahkan nilai unas kepada dinas pendidikan kabupaten dan kota untuk selanjutnya diteruskan kepada masing-masing sekolah dan disampaikan kepada siswa pada Jumat lusa.

Dari hasil unas kali ini, ada beberapa hal yang pantas menjadi catatan khusus. Antara lain, jumlah dan persentase siswa yang mendapat nilai di bawah standar (kurang dari 55) lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya. Serta, tercecernya sekolah-sekolah di kota besar seperti Surabaya jika dibandingkan dengan sekolah dari daerah.

Kebijakan pemerintah untuk tidak menjadikan nilai unas sebagai syarat kelulusan, tampaknya, sangat berpengaruh terhadap masalah tersebut. Ada tiga dugaan untuk hal ini. Pertama, inilah hasil yang sesungguhnya tanpa dibumbui kecurangan. Kedua, siswa dan pihak sekolah tidak lagi all-out menyambut unas. Ketiga, kecurangan masih tetap ada, namun tidak semasif tahun-tahun sebelumnya.

Tiga dugaan tersebut rasanya menemukan kebenarannya. Artinya, masih ada sekolah dan siswa yang tetap curang, tapi jumlahnya sudah berkurang. Memang, kebanyakan orang tua, siswa, dan sekolah sudah berusaha agar mendapat hasil sebaik-baiknya, tapi tentu tidak sampai mati-matian seperti saat unas menjadi syarat mutlak kelulusan. Mungkin masih ada pemimpin daerah yang berpandangan sempit bahwa hasil unas harus bagus sehingga akan ikut mengangkat citra daerah, namun mudah-mudahan jumlahnya sudah tidak banyak.

Penghilangan ketentuan bahwa nilai unas menjadi syarat kelulusan, antara lain, memang ditujukan untuk meminimalkan kecurangan dan tindakan-tindakan tidak terpuji (bahkan kadang tidak masuk akal) lainnya menjelang dan selama pelaksanaan unas. Misalnya, membentuk tim sukses, menggalang dana untuk membeli bocoran soal, menyusun strategi agar sontek-menyontek berjalan lancar, atau ritual-ritual lain yang kadang malah membuat siswa semakin stres.

Karena itu, ketika kini perolehan nilai sebuah sekolah atau daerah kalah jika dibandingkan dengan sekolah atau daerah lain, tidak selayaknya mereka dicemooh atau dihujat. Jangan-jangan, sekolah atau daerah itulah yang justru telah bertindak benar dengan tidak melakukan kecurangan. Semua pihak mesti menyikapi hal ini secara bijak. Evaluasi memang harus selalu dilakukan agar prestasi pendidikan kita akan terus membaik dan semakin baik. (Sumber : Jawa Pos, 13 Mei 2015).

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Menyerap Aspirasi lewat Ngopi Bareng Menyoal Penentuan Kenaikan Kelas


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: