Pendidikan Vokasi dan Berwirausaha

8 Mei, 2015 at 8:29 am

Oleh Hari Prasetio
Guru Vokasi di MAN Purwokerto 2 Kabupaten Banyumas

Membekali pendidikan vokasi bagi para siswa tentu sangat erat kaitannya dengan belajar berwirausaha. Para lulusan sekolah SMK dan MAyang menyelenggarakan pendidik-an vokasi seharusnya memiliki kecakapan yang dibutuhkan oleh lapangan kerja, mencintai sekolahnya, memiliki wawasan yang luas, berkarakter yang baik dan mulia.

Pendidikan SMK dan MA Vokasi memang bertujuan menghasilkan lulusan yang siap kerja, baik sebagai pekerja/karyawan atau berwirausaha, maka tidak cukup dengan memberi pelajaran jenis kewirausahaan tertentu. Selain siswa diberikan pengetahuan dan keterampilan, para siswa harus diperkaya dengan pengalaman yang cukup.

Praktik kerja industri (Prakerin), Praktik kerja lapangan (PKL), atau magang seharusnya dipandang penting untuk dilakukan oleh lembaga pendidikan seperti SMK dan MA Vokasi. Jika lembaga pendidikan belum mampu memberikannya, hendaknya para siswa didorong untuk berkreasi, mencari sendiri pengalaman itu di luar sekolahnya. Ujian Nasional (UN) tingkat satuan pendidikan SMA/MA/SMK telah berakhir, tinggal menunggu hasil UN dan pengumuman kelulusan yang telah dijadwalkan pada 15 Mei mendatang. Setiap tahun peserta UN hampir lulus semua, apalagi hasil UN pada 2015 ini bukan sebagai penentu kelulusan siswa. Masih terkait pendidikan di SMK dan MAVokasi, ada fenomena yang cukup menggelisahkan. Tidak sedikit lulusan SMK dan MA Vokasi yang tidak tertampung dalam dunia kerja.

Pengangguran dari tahun ke tahun semakin banyak jumlahnya, apabila lulusannya tidak mampu berwirausaha. Upaya itu adalah sangat realistis, sebab siapa pun setelah lulus dari lembaga pendidikan SMK dan MA Vokasi pasti mengharapkan untuk memperoleh lapangan pekerjaan.

Pihak sekolah telah memberikan bekal tentang kewirausahaan, tetapi ternyata sebagian besar lulusannya tidak mampu mengimplementasikan pengetahuannya itu. Miliki Jiwa dan Mental Kenyataan tersebut menjadikan masyarakat bingung, bagaimana sebenarnya cara yang tepat untuk mendorong agar tumbuh jiwa kewirausahaan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Pada akhir-akhir ini selalu disebutsebut dan bahkan diyakini bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menyejahterakan masyarakat, maka tidak ada jalan lain kecuali harus ditempuh dengan cara menumbuhkan angka kewirausahaan secara terus-menerus. Di tengah-tengah kebingungan menjadikan lulusan pendidikan SMK dan MA Vokasi harus mampu berwirausaha, ternyata banyak muncul wirausahawan baru tanpa melalui proses pendidikan.

Mereka itu adalah anak-anak para wirausahawan sukses, anak pengusaha menjadi pengusaha. Dari pengalaman itu dapat ditarik kesimpulan bahwa berwirausaha tidak cukup hanya berbekalkan pengetahuan dan keterampilan di bangku sekolah, tetapi juga sangat diperlukan memiliki jiwa dan mental kewirausahaan.

Sementara itu, jiwa dan mental berwirausaha tidak akan mungkin cukup dibangun hanya lewat pendidikan di sekolah SMK dan MAVokasi. Jiwa atau mental berwirausaha seharusnya dibangun melalui kegiatan nyata atau praktik sehari-hari dalam waktu yang lama. Seseorang menjadi berjiwa dan bermental pedagang oleh karena telah lama berpengalaman menjadi seorang pedagang. Demikian pula lapangan kerja lainnya, semisal bertani, perajin, nelayan, maupun pengusaha lainnya.

Maka dari itu membangun jiwa dan mental jenis pekerjaan itu dengan cara sering melihat dan mereka bahkan merasakan sendiri kegiatan itu sehari-hari secara langsung. Siapa pun orangnya tidak mudah beradaptasi terhadap suatu jenis pekerjaan tertentu, kecuali dengan melakukan pekerjaan itu dalam waktu yang lama. Kesulitan beradaptasi itu akan menjadikan seseorang tidak mudah berpindah profesi.

Seorang petani misalnya tidak akan mampu secara mendadak berpindah menjadi seorang nelayan, dan sebaliknya. Begitu pula perubahan pada bidang-bidang lainnya. Maka sekali lagi, untuk membangun jiwa dan mental tertentu diperlukan pembiasaan secara terus menerus dalam waktu yang lama, hingga menjadi kultur, dan akhirnya membudaya. (Sumber : Suara Merdeka, 8 Mei 2015).

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Aliyah (MA). Tags: , .

Indeks Integritas dan Kejujuran Sekolah Menyerap Aspirasi lewat Ngopi Bareng


ISSN 2085-059X

  • 649,871

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: