Revitalisasi Pendidikan Anti Korupsi Usia Dini

6 Mei, 2015 at 12:00 am

Oleh M Sabiq Kamalul Haq
Ketua Komisi Pendidikan dan Keagamaan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jawa Tengah

Pendidikan sampai saat ini masih menjadi senjata ampuh untuk mengatasi problematika di negeri ini. Perubahan kurikulum, pelatihan guru profesional bahkan sertifikasi guru profesional menjadi bukti betapa urgennya pendidikan. Tentu, adanya itu semua untuk satu tujuan utama yaitu menjadikan warga Indonesia yang cerdas dan berkarakter.

Korupsi menjadi salahsatu problem serius di negeri ini. Hampir setiap hari, berita tentang korupsi menjadi sarapan pagi yang selalu dihidangkan media massa. Masyarakat Indonesia sangat menyayangkan dan sedih bercampur geram melihat perilaku koruptif yang dilakukakan oleh pejabat, yang seharusnya menjadi tauladan bagi masyarakat.

Publik tidak boleh diam seribu bahasa melihat fenomena yang jamak dilakukan oleh pemegang amanah di sistem negara ini. Mereka harus menjauhkan diri, dan mengajak anaknya untuk tidak berlaku koruptif sejak dini. Artinya, pendidikan anti korupsi anak usia dini harus dilakukan agar masalah ini sedikit demi sedikit dapat dituntaskan.

Pendidikan anti korupsi sejak dini ini adalah solusi kongkrit untuk menghilangkan perilaku koruptif saat ini.Mengapa ? karena sudah jamak diketahui bahwa usia dini merupakan masa keemasan (golden age).Masa ini menjadi penentu sikap manusia di masa depan.Dengan kata lain, jika sejak dini anak tidak berlaku koruptif, maka ketika ia dewasa akan menjadi manusia yang berkarakter.

Perlu diketahui bahwa anak usia dini memegang peranan penting. Menurut Gardner (1998), perkembangan otak manusia mengalami lompatan dan berkembang sangat pesat, yakni mencapai 80%.

Ketika dilahirkan ke dunia, anak manusia telah mencapai perkembangan otak 25%, sampai usia 4 tahun perkembangannya mencapai 50%, dan sampai 8 tahun mencapai 80%, selebihnya berkembang sampai usia 18 tahun. Jadi, masa anak usia dini adalah masa yang sangat mudah sekali untuk diberikan injeksi karakter. Sayangsekali jika masa golden age ini tida diberdayakan dengan maksimal.

Setidaknya adatiga komponen yang harus ada untuk mendukung pendidikan anti korupsi sejak dini.Pertama,orangtua dan lingkungan. Peran orangtua tidak boleh disepelekan. Sebab, aktifitas anak setiap hari paling banyak bersama orangtua.Orangtua setiap hari harus memberikan pendidikan model.

Artinya, orangtua harus memberikan peran positif, baik secara tingkahlaku maupun lisan. Karena pada dasarnya, anak usia dini belajar dengan melihat lingkunganya. Kemudian pelajaran yang dapat diterapkan adalah pendidikan kejujuran. Orangtua setiap hari perlu banyak berkomunikasi kepada anaknya dan menanyakan apa saja yang dilakukan anak setiap hari, untuk melatih kejujuranya. Selain itu, orangtua selalu memberi motivasi kepada anak untuk berani jujur. Sebab kejujuran membawa kemanfaatan bagi pribadi, keluarga dan masyarakat.

Kedua, lembaga pendidikan. Meskipun aktifitas anak sangat terbatas saat di lembaga pendidikan, namun tidak boleh dikesampingkan. Adanya lembaga pendidikan anak usia dini sebagai tambahan pengetahuan dan sikap anak.

Jika melihat hakikat dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), pendidikan ini diselenggarakan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh, dan menekankan pada aspek kepribadian.Maka, lembaga PAUD wajib menyediakan berbagai kegiatan yang dapat mengembangkan berbagai aspek perkembangan seperti kognitif, bahasa, sosial emosional, motorik, moral dan agama.

Dan ketigaPemerintah. Pemerintah harus lebih banyak memberikan sosialiasi dari tingkat desa sampai pusat. Misalnya,“jargon mboten ngapusi, mboten korupsi”(tidak berbohong dan korupsi) harus dihafalkan oleh anak usia dini. Sebab selama ini anak-anak banyak menghafal kata “sakitnya tuh disini” daripada kata yang mengandung makna positif. Bukan hanya itu saja, tayangan yang mencerminkan perilaku terpuji seperti memberi, menolong, gotongroyong, mengasihi harus banyak ditayangkan.Daripada tayangan yang sifatnya tercela seperti perkelahian, pencurian, pembunuhan, dan lain sebagainya. Sebab, tontonan yang disajikan secara tidak langsung dapat menjadi tuntutan kepada penonton, dalam hal ini adalah anak.

Jika komponen pendukung revitalisasi pendidikan anti korupsi diatas berjalan sesuai idealnya, kelak Indonesia akan menjadi negara yang berbudi luhur. Pepatah Jawa mengatakan, dadiho wong kang bener lan pinter. Pinter yen ora bener, besok bakal keblinger. Maksudnya, jadilah orang yang soleh (baca:baik) dan berilmu. Kalau hanya berilmu saja tetapi tidak solih, suatu saat akan tersesat.Dengan kata lain, Indonesia tidak hanya butuh orang yang pintar. Tetapi butuh orang yang jujur dan berbakti kepada nusa dan bangsa, salahsatu wujudnya tidak melakukan tindakan korupsi.Wallahu a’lam bisshowab. (Sumber: Jateng Ekspress, 6 Maret 2015). Kontak Person: 085641577513 / 08992052573. Email: sabiq01@gmail.com / sabiq.kamal@yahoo.com

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Jalan Pintas Indeks Integritas dan Kejujuran Sekolah


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: