Mengembalikan Karakter Bangsa

29 April, 2015 at 12:02 am

Heri KristantoroOleh Heri Kristantoro SPd MPd
Kepala SMP Negeri 4 Ambarawa Kabupaten Semarang

Setelah makan, pendidikan adalah kebutuhan utama rakyat. Begitulah pernyataan yang disampaikan oleh negarawan Prancis pada abad 17, Georges Danton. Pendidikan merupakan investasi mahal suatu bangsa dalam rangka mewariskan gen bibit unggul kepada generasi penerus agar republik ini tetap diperhitungkan di kancah dunia.

Masih teringat di benak kita, setelah pengeboman di Nagasaki dan Hiroshima kaisar Jepang bukan bertanya berapa tentara yang masih hidup, tetapi berapa jumlah guru yang masih ada. Negara Jepang menganggap bahwa betapa strategisnya peran pendidikan bagi kemajuan bangsa. Terbukti sekarang menjadi salah satu negara maju di dunia.

Revolusi mental adalah jargon pasangan Jokowi dan Yusuf Kalla saat menghipnotis seluruh rakyat untuk memperbaiki bangsa ini dari keterpurukan jati diri.Mental merupakan genangan segala sesuatu menyangkut cara hidup. Mentalitas zaman meliputi cara berpikir, memandang masalah, merasa, mempercayai, berperilaku dan bertindak.

Bagaimanakah sejarah pendidikan di Indonesia? Benarkah pendidikan kita masih stagnan? Masihkah kita bangga mengenyam pendidikan di Indonesia? Itulah sebagian refleksi diri yang patut kita renungkan bersama.Kita semua pasti setuju dengan peletakkan dasar-dasar pendidikan oleh founding fathers yang sangat kental dengan penanaman karakter.

Ajaran Ki Hajar Dewantoro dengan slogannya yang berbunyi “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”. Anak-anak dididik di bangku sekolah tidak hanya cerdas,tetapi juga berkarakter dan memiliki integritas. Ada nilai keteladanan yakni ilmu yang amaliyah dan amal yang ilmiah. Pendidikan mampu mencetak insan cendekia yang sehat, cerdas dan bermartabat. Filosofi sekolah sebagai taman belajar masih relevan dengan perkembangan dunia pendidikan dewasa ini.

Mewujudkan sekolah yang membuat anak kerasan tinggal di sekolah, menyenangkan, nyaman, bermakna, bermanfaat dan menampung segala bakat dan minat anak merupakan keniscayaan. Anak mampu berekspresi untuk mengembangkan diri karena sekolah peduli dengan segala potensinya.

Realitas pendidikan
Negara Indonesia memang negara yang kaya dengan keberagaman. Perbedaan letak geografis,latar belakang sosial, budaya, karakteristik suku bangsa merupakan sebagian faktor pembeda yang mempengaruhi kualitas pendidikan, Ketimpangan pelayanan pendidikan masih mewarnai dunia pendidikan kita. Dari masalah sarana prasarana, kurikulum , sumber daya manusia dan faktor kualitas guru.

Bagaimana dengan produk pendidikan kita selama ini? Kita boleh bangga, begitu banyak yang berprestasi baik tingkat lokal, nasional bahkan internasional, Berbagai ajang internasional seperti Olympiade fisika, matematika, astronomi Indonesia tidak pernah absen menjadi jawara. Banyak juga ahli-ahli berbagai bidang yang go internasional karena temuannya yang diakui di dunia berasal dari Indonesia. Banyak tokoh politik yang cerdas memimpin negeri ini juga digembleng di bangku sekolah. Prestasi-prestasi spektakuler dihasilkan oleh pendidikan.

Penyakit postmodern
Pertanyaannya mengapa masih ditemukan kebiasaan anak yang mencontek, tawuran antar pelajar, anak yang membunuh orangtuanya sendiri, budaya korupsi merebak di bumi pertiwi ini. Adakah yang salah dengan pendidikan kita? Abad 21 merupakan era modern yang menebarkan pesona luar biasa. Internet mudah diakses, perubahan gaya hidup serba instan, materialistis, hedonisme merupakan faktor akselerasi orang terjebak pada dampak negatif kemajuan zaman. Orangtua sibuk mengejar karier, anak sibuk dengan dunia mayanya. Penanaman karakter anak dari orangtua cukup memprihatinkan di negara yang kaya dengan nilai-nilai budaya adi luhung ini.

Kebiasaan anak-anak mencontek tidak lepas dari keinginan anak untuk memperoleh nilai baik dengan cara yang tidak bermartabat. Rendahnya motivasi berprestasi siswa menjadi masalah krusial yang membentuk watak mental krupuk yang menghasilkan generasi pecundang, tidak tahan banting dan mudah frustasi. Sekolah sebagai pabrik karakter tidak mampu mewujudkan peranannya untuk transfer karakter mulia pada peserta didiknya.

Tidak mustahil merebak tawuran antar pelajar, anak terjebak narkoba, anak membunuh orangtua dan masih banyak tindakan amoral lainnya yang bertentangan dengan karakter bangsa. Dampak berkepanjangan hilangnya penanaman karakter mulia dalam pendidikan berkaitan dengan rendahnya kompetensi lulusan yang memiliki integritas. Banyak pemimpin bangsa yang berkualitas berasal dari keluarga yang aktif menanamkan karakter dan belajar pada sekolah yang getol membumikan perilaku berkarakter.

Internalisasi nilai-nilai
Tidak ada kata terlambat. Revolusi mental bangsa ini harus tetap disuarakan secara konsisten. Bangsa ini sangat membutuhkan pemimpin yang cerdas dan berkarakter. Cita-cita ini tidak mungkin terwujud tanpa diawali dari perubahan sistem pendidikan kita. Keluarga , sekolah dan masyarakat harus bersinergi untuk mengembalikan marwah pendidikan karakter sesuai dengan basis masing-masing.

Setiap keluarga perlu menanamkan pendidikan karakter sedini mungkin bagi putera-puterinya untuk meletakkan fondasi yang kokoh. Pihak sekolah sebagai lembaga pendidikan tetap konsisten dengan program sekolah yang mewadahi internalisasi nilai-nilai karakter dalam setiap mata pelajaran dan pembiasaan sekolah. Bagi pemerintah tetap menampilkan figur keteladanan otentik bagi generasi ini untuk menyaksikan produk insan berkarakter yang nyata. Semoga hari Pendidikan Nasional tahun 2015 ini menjadikan inspirasi bagi kita semua untuk mengembalikan karakter bangsa. (Email : herikristantoro@gmail.com. Blog : herikristantoro.blogspot.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , .

Memesrakan Perguruan Tinggi dengan MEA PAUD, Kunci Masa Depan Bangsa


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: