Membiasakan Menulis

28 April, 2015 at 7:00 am

Heri KristantoroOleh Heri Kristantoro SPd MPd
Kepala SMP Negeri 4 Ambarawa Kabupaten Semarang

 

Mengutip kata-kata sastrawan Pramudya Ananta Tour, menulis adalah kerja untuk keabadian. Raga boleh musnah, jasad boleh tinggal di dalam tanah, namun pemikiran-pemikirannya masih menjadi inspirasi banyak orang. Bukan baca atau bakarlah, tetapi baca dan bakarlah (Suara Merdeka, 18 April 2015). Bagi para penulis yang sudah terkenal, menulis adalah aktivitas yang mudah dilakukan.

Bagaimana dengan orang yang belum terbiasa menulis? Bagi pemula, masing-masing memiliki hambatan yang berbeda. Faktor internal yang pertama adalah belum memiliki kebiasaan membaca, belum memiliki kemampuan berbahasa yang baik dan belum memiliki minat dan keinginan untuk menulis. Dan alasan yang klasik adalah tidak ada waktu dan sibuk dengan pekerjaan.

Sulitnya mendapat bahan acuan dan referensi, topik/tema dan penyusunan kalimat yang perlu dan enak dibaca menjadi faktor eksternal yang menghambat seseorang untuk memulai menulis. Mengapa kita takut menulis? Mulailah dengan yang sederhana, mudah, efisien dan memiliki peluang untuk ditulis.Kita dapat memulai dari peristiwa-peristiwa sehari-hari yang ditemui dalam kehidupan.

Menumbuhkan motivasi menulis
Ini adalah ruh seseorang memulai menulis. Tanpa sebuah motivasi, seseorang bahkan dapat dipastikan tidak akan dapat menulis apalagi terus menulis. Yakinkan untuk mengatakan “perintah menulis” pada diri sendiri bahwa semua orang memiliki bakat untuk menulis. Kemampuan menulis akan lebih berkembang diawali dari kebiasaan membaca. Membaca dan menulis ibarat dua sisi mata uang. Satu dan lainnya saling menunjang peran dan fungsi masing-masing. Membaca dan menulis adalah pekerjaan besar bagi orang-orang berperadaban. Membaca tanpa menulis, ibarat memiliki harta dibiarkan menumpuk tanpa dimanfaatkan. Menulis tanpa membaca, ibarat mengeduk air dari sumur kering. Tidak membaca dan juga tidak menulis, ibarat orang yang tidaak berharta jatuh ke dalam sumur penuh air (Romli, 2009).

Kita dapat belajar bersama menulis dengan filosofi pensil. Pensil adalah benda mati yang sangat bergantung pada pemakainya. Bila dimanfaatkan maka akan meninggalkan jejak bagi penulisnya walaupun orang tersebut tidak ada lagi di dunia. Memulai menulis adalah sebuah proses yang menyakitkan seperti pensil yang tumpul diraut berulang-ulang agar dapat digunakan lagi. Saat penulis mengalami kesalahan, seperti pensil memiliki penghapus yang selalu siap menghapus kesalahan dengan tekun memperbaiki diri.

Bagi penulis pemula mungkin isi tulisannya kurang berbobot, tetapi seperti pensil yang siap diraut pembungkusnya dan yang lebih dipentingkan adalah isinya. Lama-kelamaan maka isi tulisan akan semakin baik seiring dengan kebiasaan yang terus diulang-ulang. Kegiatan menulis ibarat menciptakan suatu kebiasaan baru. Kebiasaan ini membutuhkan perjuangan, Kita harus melatih otak kita menjadi writing oriented agar didalamnya terbentuk sebuah “sistem menulis”.

Mulailah dari sekarang
Menjadikan menulis sebagai pilihan hidup adalah sebuah keniscayaan. Artinya anda bisa menulis apabila membiasakan diri (atau memaksakan diri bagi pemula) untuk menulis. Kebiasaan-kebiasaan yang perlu dipupuk untuk menumbuhkan kebiasaan menulis diantaranya membaca, berdiskusi dengan teman atau orang lain, mengikuti seminar, talk show atau workshop dan mengamati peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita setiap harinya. Dibutuhkan juga keinginan yang kuat untuk memulai menulis. Kita sering menunda-nunda untuk memulai menulis. Setiap orang memiliki waktu mood yang berbeda-beda.

Manajemen diri
“Wah, saya tidak punya waktu menulis”, Itulah ungkapan yang sering kita dengar dari orang yang tidak pernah merasakan manfaat dan nikmatnya menulis. Padahal kita punya waktu dalam sehari sebanyak 24 jam, seminggu tujuh hari,, benarkah menyisihkan waktu sekadar satu hari dalam seminggu, atau satu jam sehari tidak sempat? Salah satu rahasia orang sukses adalah kemampuan mereka dalam mengelola waktu.

Orang sukses bukanlah orang yang punya banyak waktu luang, tetapi orang yang disiplin dan cerdas dalam mengelola waktu. Orang-orang sukses telah membayar keberhasilan mereka dengan menghargai waktu. Menghargai waktu dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat perlu dilandasi kerja cerdas, kerja keras dan kerja ikhlas. Menyediakan waktu khusus untuk menulis menjadi syarat utama untuk menghasilkan sebuah karya. Untuk menumbuhsuburkan kebiasaan menulis bagi orang yang belum terbiasa menulis maka diperlukan komitmen yang kuat melalui perilaku disiplin dalam mengelola waktu.

Keberanian berkata “tidak” untuk kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan pemanfaatan waktu secara baik. Menulis memang merupakan suatu keterampilan. Keterampilan ini membutuhkan latihan secara terus menerus agar tidak hanya mampu dipertahankan bahkan ditingkatkan kualitas dan produktivitasnya. Semakin sering menulis, maka biasanya semakin cepat kita menyelesaikan suatu tulisan. , Selamat memulai, berkarya dan terus berkarya. (Email : herikristantoro@gmail.com. Blog : herikristantoro.blogspot.com)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , .

Memperkuat Jateng lewat Pendidikan Memesrakan Perguruan Tinggi dengan MEA


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: