Pendidikan Anak Berawal Dari Keluarga

21 April, 2015 at 12:00 am

Ahmad Yusuf AOleh Ahmad Yusuf A, S.Ag
Guru PAI SMP Negeri 1 Cibeber – Cianjur Jawa Barat
Aku bertanya :
Apa gunanya pendidikan
Bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya
Apakah guanya seseorang
belajar filsafat, sastra, tekhnologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja
bila pada akhirnya
ketika ia pulang kedaerahnya, lalu berkata :
“Disini ku merasa asing dan sepi”

Penggalan puisi diatas adalah merupakan hasil dari buah tangan seorang penyair kawakan (alm) Rendra pada tanggal 12 Juli 1975 yang berjudul “Sajak Seonggok Jagung”. Bila kita hayati, isi sajak tersebut masih sangat relevan dengan dunia pendidikan kita saat ini yang semakin tidak terarah dan nyaris keluar dari tujuan sebenarnya yang sudah merupakan amanat undang-undang yang telah digariskan secara jelas, tegas dan lugas. Bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Banyak kalangan yang berpendapat bahwa maju mundurnya sebuah bangsa dan Negara antara lain sangat ditentukan oleh jalannya proses pendidikan di negara tersebut. Berkaitan dengan itu semua, tidak salah bila dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei tahun ini, kita kembali untuk dapat mencermati dan menghayati isi dari sajak dari Sang Legendaris tersebut.

Sebagaimana kita semua tahu, bahwa tujuan pendidikan kita tidak hanya membentuk karakter manusia yang pintar, tapi juga benar. Sebab, untuk menjadikan manusia benar itu jauh lebih sulit daripada menjadikan manusia pintar. Indonesia sampai saat ini sudah banyak dan sedang menghasilkan manusia pintar sampai kepintarannya mampu merusak Sumber Daya Alam Indonesia dan bahkan moral para generasi bangsa. Tentu kenyataan ini tidak adil bila kita hanya menyalahkan anak didik saja, tanpa mengevaluasi sistem pendidikan atau kita sebagai seorang pengajar – bukan pendidik – atau keluarga sebagai media pendidikan pertama bagi seorang anak.

Dalam ajaran Islam, proses pendidikan harus dilakukan sejak usia anak-anak, bahkan Islam lebih jauh mengajarkan pada umatnya, untuk menciptakan generasi menjadi Insan Kamil harus berawal ketika bayi masih berada dalam rahim ibunya. Sebab secara psikologis dan empiris, perkembangan anak pada tahap selanjutnya sangat dipengaruhi oleh perilaku dan kebiasaan orang tuanya – ibu – sedang mengandung anaknya. Sebagaimana yang diajarkan Alquran dalam surat Al A’raf : 189 “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata : Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang – orang yang bersyukur”. Ayat ini pula yang dijadikan dalil oleh sebagian masyarakat untuk mengadakan 4 bulanan ketika seorang ibu sedang hamil. Sebab pada usia itu, embrio sudah sempurna secara fisik.

Anak adalah tumpuan harapan bangsa, karena anak merupakan generasi penerus. Agar anak menjadi generasi penerus sesuai dengan harapan orang tuayang memiliki potensi sumber daya manusia yang tangguh, maka tumbuh kembangnya harus berjalan secara optimal. Dan disinilah pentingnya peranan pendidikan. “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An Nisa : 9)
Anak dan masa depan adalah suatu kesatuan yang dapat diwujudkan untuk membentuk suatu generasi yang dibutuhkan oleh bangsa, terutama bangsa yang sedang membangun. Maka pembangunan manusia sejak dini mutlak perlu diperhatikan baik dari segi moral, mental maupun secara intelektual dan skill.

Konsep Pendidikan Anak Menurut Para Ulama

¤ Imam Al-Ghazali

Al-Ghazali dikenal sebagai salah satu cendikiawan muslim yang banyak menghasilkan karya tulis mengenai pendidikan anak. Proses pendidikan yang diberikan kepada seorang anak sejak usia dini, hendaknya dilakukan melalui tiga tahap, yakni menghjafal, memahami dan meyakini.
Seorang anak, dalam pandangan al Ghazal, adalah bentuk kepercayaan yang diberikan Allah kepada para orang tua. Karenanya, jika orang tua dan bahkan gurunya kelak membawanya pada jalan kebenaran, dia akan hidup bahagia di dunia dan akhirat kelak. Akan tetapi bila sebaliknya, sudah tentu anak akan menemukan jalan kesesatan dan kecelakaan baik di dunia maupun akhirat.

Manakala orang tuanya menjaga anaknya dari “siksaan” dunia, maka hendaklah ia juga menjaganya dari siksaan api neraka dengan cara mendidik dan melatihnya serta mengajarnya dengan keutamaan akhirat. Oleh karena itu, orang tua memiliki peranan sangat penting dalam menjalankan perintah-Nya dan menentukan masa depan anaknya.
Al Ghazali juga menekankan mengenai kewajiban seorang guru untuk mengarahkan kepada muridnya kepada tujuan mempelajari ilmu adalah semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah dan bukan karena jabatan, kehormatan ataupun kemegahan. Alhasil, dalam pandangan Al Ghazali bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk seorang anak menjadi insan kamil ( manusia yang sempurna), yakni memiliki akhlak yang mulia da selalu mendekatkan diri kepada Allah, sebab bila hal ini tidak dijadikan prioritas utama maka kedengkian, kebencian dan permusuhan yang akan terjadi.

¤ Ibnu Sina

Seperti halnya al Ghazali, tujuan pendidikan yang dikemukakan Ibnu Sina juga didasarkan juga didasarkan pada pandangannya tentang insan kamil. Insan kamil dalam pandangan Ibnu Sina adalah manusia terbina seluruh potensi dirinya secara seimbang dan menyuluruh sehingga dia dapat melaksanakan fungsinya sebagai seorang khalifah dimasyarakat dan dunia secara lebih luas.
Tujuan pendidikan, menurut Ibnu Sina, harus diarahkan pada upaya mempersiapan seseorang yang mencakup fisik, intelektual dan budi pekerti agar dapat hidup ditengah masyarakat dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, dan potensi yang dimilikinya.

Selanjutnya, ketika seorang anak telah memasuki usia enam tahun, hendaknya ia mulai diajarkan membaca dan menghafal Alquran, pelajaran agama, pelajaran syair, dan pelajaran olahraga. Proses tersebut diajarkan hingga usia anak mencapai usia 14 tahun.
Kurikulum untuk anak usia 14 tahun keatas, jumlah mata pelajaran yang diberikan lebih banyak. Namun pelajaran tersebut perlu dipilih sesuai dengan bakat dan minat si anak. Sebab pada tahap ini perlu adanya pertimbangan dengan kesiapan anak didik.

¤ Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun berpendapat bahwa tidak cukup seorang guru hanya membekali anak didiknya dengan ilmu pengetahuan. Akantetapi, guru wajib memperbaiki metode dalam penyajian ilmu kepada anak didiknya dengan cara mempelajarai kejiwaan seorang anak dan mengetahui tingkat-tingkat kematangan serta bakat-bakat ilmiah anak.

Dalam mentransfer ilmu pengetahuan, Ibnu Khaldun dikenal sebagai seorang pakar pendidikan yang menentang metode verbalisme dan tekhnik hafalan. Karena cara demikian akan menghambat kemampuan memahami ilmu yang diajarkan guru. Justru Ibnu Khaldun menganjurkan kepada setiap guru agar dalam mentransfer ilmu pengetahuan lebih menekankan kepada metode interaktif dan diskusi. Dalam mengajar anak-anak hendaknya orang tua atau guru berdasarkan prinsip-prinsip penahapan, baru kemudian terperinci dan melakukan pengulangan sehingga anak dapat menerima dan memahami setiap bagian dari ilmu yang diajarkan. Sementara dalam menyampaikan ilmu pada awal proses belajar, hendaknya orang tua dan guru selalu memulainya dengan memberikan contoh-contoh yang sederhana, tetapi jelas dan mudah untuk dimengerti.

¤ Al Farabi

Menurut Al Farabi, pendidikan merupakan media untuk mendapatkan serangkaian nilai, pengetahuan, dan keterampilan praktis bagi individu dalam periode dan budaya tertentu guna membimbing individu menuju kesempurnaan.
Pendidikan, menurut Al Farabi, harus menggabungkan antara kemampuan teoritis dari belajar yang diaplikasikan dan tindakan praktis. Sebab kesempurnaan manusia terletak pada tindakannya yang sesuai dengan teori yang dipahaminya. Ilmu tidak akan mempunyai arti kecuali jika ilmu itu dapat diterapkan dalam kenyataan di masyarakat.

Dalam hal ini, Al Farabi menekankan akan pentingnya akal budi dalam dunia pendidikan. Sehingga apabila ada anak yang memiliki tabiat jelek dapat diluruskan dengan cara menanamkan pendidikan akhlak. Sementara untuk anak yang tingkat intelegensinya rendah, dapat dicerdaskan melalui metode keteladanan, yakni melalui contoh yang diberikan secara berulang-ulang. Sedangkan untuk anak yang cerdas dan bertabiat baik, hendaklah disikapi dengan penuh penghargaan. Karena bagaimanapun pelajaran yang harus diprioritaskan bagi setiap anak adalah pembinaan akhlak. Sebab, akhlak merupakan modal dasar untuk menguasai segala macam disiplin ilmu lainnya. Sehingga tujuan akhir pendidikan yakni untuk meraih kesempurnaan dan kebahagiaan dapat mudah diraih.

Alhasil, untuk menjadikan anak sebagai generasi yang kuat, setidaknya konsep pendidikan yang kita berikan kepada mereka harus mampu mencapai dua hal ; pertama, harus mampu mendorong manusia untuk mengenal Allah sehingga mampu beribadah kepada-Nya dengan penuh keyakinan akan ke Esa-annya, dan mampu mematuhi syariat serta ketentuan-ketentuannya. Kedua, harus mampu mendorong manusia untuk memahami sunnatullah dan berbagai macam fenomena yang ada di alam raya ini. Bila hal ini kita lakukan kepada para generasi kita, maka apa yang dikhawatirkan dalam surat An Nisaa ayat 9 dapat kita minimalisir sejak dini. Dan keluarga memiliki kesempatan luas dalam melaksanakan konsep pendidikan ini. Semoga anak-anak kita menjadi generasi yang mampu melaksanakan kedua konsep pendidikan tersebut dan menjadi khalifah Allah dimuka bumi ini.

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , .

Menyoal Bocornya Soal UN Kartini Dan Pendidikan


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: