Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Perubahan

16 April, 2015 at 8:09 am

Heri KristantoroOleh Heri Kristantoro SPd MPd
Kepala SMP Negeri 4 Ambarawa Kabupaten Semarang

Tantangan dunia pendidikan di abad 21 semakin berat. Dinamika perubahan sangat cepat dan tidak terbendung. Adanya 2 kurikulum yang berlaku di sistem pendidikan kita. KTSP dan kurikulum 2013. Sistem ujian berbasis komputer (CBT) dan sistem berbasis kertas (PBT). Adanya kewajiban guru mulai pangkat IIIb untuk melaksanakan PKB dalam pengusulan kenaikan pangkat yang lebih tinggi. Sistem penilaian kinerja pegawai negeri sipil yang meliputi penilaian prestasi kerja dan sasaran kerja pegawai.

Adanya wacana sistem penggajian baru bagi PNS, model pesangon bagi yang akan purnatugas. Semuanya mengalir deras bagai aliran sungai yang siap mengisi ruang-ruang kosong tanpa kompromi. Benar ungkapan yang mengatakan siapa yang tidak peka terhadap perubahan, maka akan terlindas oleh perubahan itu sendiri. Bahkan belum sempat paham adanya regulasi baru, sudah muncul peraturan baru.

Kepala sekolah adalah pimpinan yang menjalankan perannya dalam memimpin sekolah sebagai lembaga pendidikan. Kepala sekolah memiliki otoritas dalam mengelola sekolah guna mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dalam menjalankan tugasnya, dibantu oleh wakil kepala sekolah , urusan kurikulum, humas, kesiswaan, keuangan, tata usaha dan bidang-bidang lainnya. Semua komponen pembantu kepala sekolah saling bekerja sama agar tercipta sinergi yang harmonis sehingga tujuan tercapai.

Realitas
Bagaimanakah manajemen pengelolaan sekolah kita yang ideal? Itulah pertanyaan yang sering menggelitik kepala sekolah dalam memanage sekolah agar dapat berjalan dengan baik. Masih banyak program sekolah yang berjalan tidak sesuai dengan kebutuhan sekolah. Penempatan orang yang tidak tepat dalam pembagian tugas sekolah masih mewarnai sistem pengorganisasian, sulitnya mengatur tugas tambahan dengan tugas pokok sebagai guru.

Rencana pengembangan sekolah ke depan juga belum menjadi kajian bersama seluruh komponen sekolah. Sekolah lebih“asyik”melaksanakan kewajiban-kewajiban rutinnya, daripada membuat terobosan-terobosan baru yang menggenjot kemajuan sekolah sesuai dengan karakteristiknya.

Kepala sekolah tidak mumpuni dalam mengelola sekolah karena kurang didukung oleh sumber daya yang ada. Arus informasi mandeg, tidak sampai pada bidang yang bertanggungjawab. Masing-masing urusan berjalan sendiri-sendiri, seolah-olah bukan satu kesatuan yang berjuang bersama untuk mewujudkan visi misi sekolah yang merupakan nadi penggerak mencapai tujuan bersama.

Jurus Jitu Mengelola Sekolah
Perubahan adalah sesuatu yang alamiah dan tidak dapat dihindari. Keberadaannya tetap ada dan selalu ada. Dinamika sekolah juga senantiasa mengalami perubahan. Salah satu faktor penting dalam mengelola sekolah adalah sosok kepala sekolah. Tidak hanya profesional dalam teori, tetapi lebih dibutuhkan kepala sekolah yang “ membumi” artinya paham terhadap kondisi sekolah. Bagaimana kondisi peserta didiknya, guru-gurunya, staf tata usahanya, satpam, petugas perpustakaan, laboran dan seluruh komponen hidup sekolah. Mereka adalah manusia yang memiliki kemampuan yang siap digunakan setiap saat bila sesuai dengan “tangki cinta” masing-masing.

Pendidikan humaniora bagi kepala sekolah sangat penting. Kepemimpinan berbasis hati akan lebih manusiawi, daripada kepemimpinan yang kaku. Kondisi kerja yang nyaman yang kondusif akan lebih memacu guru untuk bergairah dalam bekerja. Prof Fuad Hasan mengatakan sebagus apapun kurikulum, yang paling menentukan adalah gurunya. Kepala sekolah perlu melibatkan komponen sekolah mulai dari melaksanakan evaluasi diri, penyusunan profil sekolah, rencana pengembangan sekolah, rencana kerja tahunan berdasarkan usulan program dari masing-masing bidang, pengalokasian dana yang mendukung program, pelaksanaan program, evaluasi dan rencana tindak lanjut.

Kelemahan sekolah kita masih minimnya alat evaluasi untuk mengukur keberhasilan program sekolah. Agar program sekolah dapat tercapai dibutuhkan kompetensi kepala sekolah dalam memberikan keteladanan, cerdas memilih bawahan, berorientasi pemberdayaan, mengedepankan kaderisasi, menjaga keseimbangan, aktif bekerja sama dengan pihak lain, kreatif mengembangkan kemandirian dana, proaktif meningkatkan diversifikasi dan menciptakan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan.

Apa yang dibutuhkan?
Sudah saatnya untuk mengubah mindset kepemimpinan kepala sekolah menjadi sosok pemimpin perubahan. Perubahan sekolah harus dimulai dari pimpinannya dulu. Kepala sekolah harus bersedia untuk menjadi perubahan itu sendiri. Bagaimana mau mengubah kebiasaan-kebiasaan yang tidak produktif kalau beliau sendiri tidak produktif?

Kepala sekolah adalah pemimpin untuk menggerakkan seluruh sumber daya yang ada di sekolah sehingga dapat melahirkan etos kerja dan produktivitas yang tinggi untuk mencapai tujuan. Kepala sekolah sebagai pemimpin perubahan berperan sebagai katalisator yang meyakinkan sekolah tentang perlunya perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Untuk menjadi pemimpin perubahan diperlukan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas. Semoga ada komitmen bersama seluruh kepala sekolah untuk meningkatkan pelayanan di bidang pendidikan dengan menjadikan dirinya (sebagai pemimpin perubahan. Email : herikristantoro@gmail.com Blog : herikristantoro.blogspot.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , .

UN Online dan Mitos Efisiensi Menyoal Bocornya Soal UN


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: