Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

14 April, 2015 at 12:00 am

Ro’yatiOleh Dra Ro’yati
Guru Bahasa Indonesia MTsN Slawi Kabupaten Tegal Jateng.
Email: royati.aski@gmail.com

 

Pengantar redaksi:
Artikel ini judul lengkapnya dari penulis adalah Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IX A MTs Negeri Slawi Tahun Pelajaran 2013/2014 pada Materi Cerpen melalui Pendekatan Membaca Pemahaman. Demi efisiensi redaksi menyingkatnya menjadi Meningkatkan Hasil Belajar Siswa.

Abstraksi
Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP/MTs bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya sastra Indonesia.
Permasalahan yang diangkat pada penelitian tindakan kelas ini adalah: apakah Pendekatan Membaca Pemahaman dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas IX.A Semester Ganjil MTs.Negeri Slawi Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2013/2014?

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana/pengaruh Pendekatan Membaca Pemahaman terhadap hasil belajar siswa kelas IX.A Semester Ganjill MTs. Negeri Slawi Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2013/2014.

Subjek yang dijadikan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah siswa-siswi kelas IX A MTs.Negeri Slawi Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 36 anak, terdiri atas: 18 laki-laki dan 18 perempuan. Prosedur penelitian tindakan kelas ini ditempuh dalam 2 siklus, pada setiap akhir siklus dilakukan tes akhir siklus.

Hasil pengamatan dan refleksi siklus I dan siklus II, dapat disimpulkan: Pertama, pembelajaran Bahasa Indonesia pada materi cerpen melalui pendekatan membaca pemahaman lebih efektif dibandingkan dengan metode ceramah.
Kedua, prestasi belajar bahasa Indonesia (cerpen) siswa sebagai subjek penelitian dapat ditingkatkan melalui membaca pemahaman. Pada siklus I, rata-rata kelas 65,8, meningkat menjadi 77,6 pada siklus II.
Ketiga, siswa yang tuntas secara individual pada siklus I hanya 20 siswa (56%) dan pada siklus II meningkat menjadi 33 siswa (92%) dan dinyatakan tuntas secara klasikal karena dapat melampaui 85 % dari jumlah subjek penelitian pada siklus I sebesar 83 % meningkat pada siklus II sebesar 90 %.
Keempat, meningkatnya mutu proses pembelajaran ditinjau dari aspek aktivitas belajar pada siklus I sebesar 83 % meningkat pada siklus II sebesar 90 %, hal ini menunjukan terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa sebesar 7 %.

Berdasarkan pada hasil penelitian tindakan kelas ini disarankan bagi guru bahasa Indonesia untuk lebih kreatif dalam memilih metode pembelajaran agar tercipta pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan bagi siswa

A. Pendahuluan

1. Latar Belakang
Hasil pengajaran apresiasi sastra di MTs Negeri Slawi kelas IX A dari tahun 2012/2013 bahwa hasil pembelajaran unsur-unsur intrinsik cerpen sangat rendah, hanya mencapai 40% keberhasilan. Dari jumlah 40 orang, mendapat nilai baik atau tuntas hanya 16 orang siswa sedangkan 24 orang siswa mendapat nilai belum tuntas dengan nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) 75.

Pemecahan masalah pada siswa kelas IX A MTs Negeri Slawi semester gasal tahun pelajaran 2013 karena adanya kesalahan dalam menerapkan metode dan strategi pembelajaran. Metode yang dilakukan oleh guru kurang tepat karena guru menggunakan metode ceramah. Penerapan metode ceramah ini hanya membuat siswa pasif dan terkesan dipaksakan. Pendekatan pembelajaran yang seperti itu perlu diganti dengan pendekatan yang lain yang bermakna, kreatif, efektif dan menyenangkan bagi siswa. Oleh karena itu, untuk meningkatkan nilai tersebut perlu diadakan penelitian tindakan kelas yang berkaitan dengan pemahaman siswa terhadap unsur-unsur intrinsik cerpen.

2. Rumusan dan Batasan Masalah

a. Rumusan Masalah
1) Bagaimanakah penerapan pendekatan membaca pemahaman pada materi cerpen
Kau Pembunuh Sahabatku pada siswa kelas IX A MTs Negeri Slawi?
2) Apakah hasil belajar siswa pada materi cerpen Kau Pembunuh Sahabatku pada
siswa
Kelas IX A MTs Negeri Slawi dapat ditingkatkan melalui pendekatan membaca
pemahaman?

b. Batasan Masalah
1) Aspek cerpen yang ditinjau hanya terbatas unsur intrinsik, itu pun hanya meliputi
unsur tema, alur, latar, penokohan dan sudut pandang
2) Cerpen yang dijadikan sasaran penelitian hanya terbatas pada cerpen Kau
Pembunuh Sahabatku karya Tazkiyatunnisa (Siswa MTs Negeri Slawi kelas IXU,
Cerpen yang dimuat pada Majalah MTs Negeri Slawi “Attarbiyah” Semester Ganjil
Tahun Pelajaran 2013/2014 juga ada pada Web: http:// http://www.lokerseni.web.id/2013/09/cerpen-persahabatan-romantis-kau.html.
3) Masalah kemampuan siswa hanya terbatas pada kemampuan memahami cerpen
3. Tujuan

a. Menerapkan pendekatan membaca pemahaman pada materi cerpen Kau Pembunuh
Sahabatku pada siswa kelas IX A MTs Negeri Slawi
b. Meningkatkan kemampuan memahami tema, alur, latar dan sudut pandang pengarang
dalam cerpen Kau Pembunuh Sahabatku pada siswa kelas IX A MTs Negeri Slawi
Tahun Pelajaran 2013/2014.

4. Manfaat
a. Bagi Siswa
1. Berani bertanya dan mengemukakan pendapat sehingga tercipta interaksi yang baik.
2. Terbiasa dengan praktek membaca pemahaman, unyuk dapat meningkatkan hasil
belajar.
3. Terbiasa untuk memecahkan masalah dan menemukan sendiri penyelesaian yang
tentunya sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari.
4. Mampu merefleksikan pengetahuan yang telah dipelajari sesuai dengan kompetensi
dasar.
5. Saling bekerja sama dalam menyelesaikan tugas yang merupakan tanggung jawab
bersama.

b. Bagi Guru
1. Meningkatkan kreativitas guru dalam menerapkan pembelajaran melalui pendekatan membaca pemahaman yang memenuhi standar proses sesuai dengan arah dan tujuan Pendidikan Nasional.
2. Sebagai upaya guru dalam meningkatkan mutu proses pembelajaran yang bermuara pada hasil belajar yang optimal berdasarkan atas KKM yang telah ditetapkan.
3. Menambah wawasan bagi peneliti atau guru yang lain dalam melaksanakan Penelitian
Tindakan Kelas.
4. Meningkatkan profesionalisme guru sesuai dengan tugas dan fungsinya.
5. Mewujudkan situasi dan kondisi belajar yang kondusif dan produktif dalam rangka
meningkatkan mutu proses pembelajaran.
6. Mengubah paradigma”guru menjelaskan-siswa mendengarkan” menjadi paradigma
”siswa aktif mengkonstruksi makna- guru membantu”

c. Bagi Sekolah
1. Mengembangkan interaksi positif sesama guru bahasa Indonesia sebagai upaya
meningkatkan mutu proses pembelajaran dan hasil belajar siswa secara optimal
berdasarkan KKM yang telah ditetapkan.
2. Meningkatkan kerja sama sesama guru sehingga terjalin rasa tanggung jawab bersama dalam mengemban amanat untuk melaksanakan tugas edukatif yang sebaik-baiknya..
3. Meningkatkan suasana kehidupan sekolah yang kondusif, efektif dan produktif dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran

B. Kajian Pustaka
Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah terjadinya proses pembelajaran yang
ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan oleh guru setiap selesai memberikan materi
pelajaran pada satu pokok bahasan. Cerpen diartikan sebagai karya sastra yang berbentuk
cerita pendek yang menceritakan sebagian kisah hidup pelaku dan isi ceritanya tidak sampai
mengubah nasib pelaku. Membaca pemahaman adalah suatu proses untuk mengenali atau
mengidentifikasi teks, kemudian mengingat kembali isi teks.

C. Metode Penelitian

1. Setting Penelitian
a.. Tempat Penelitian
Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan di MTs Negeri Slawi Kabupaten
Tegal. Jalan Prof. Moh. Yamin Slawi Kabupaten Tegal.
b. . Waktu Penelitian
Waktu pelaksanaan penelitian dari bulan Juli s.d. Desember 2013 selama 6 bulan pada
semester gasal tahun pelajaran 2013/2014

2. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas terdiri dari 2 siklus
dengan langkah pada setiap siklus meliputi: (1) Perencanaan (planning). (2) Pelaksanaan
Tindakan (acting). (3)Pengamatan (observasing). (4)Refleksi (reflekting).

3. Teknik Pengumpulan Data
a. Teknis Tes
b. Teknik Observasi

4. Teknik Pengolahan Data
a. Teknik Deskripsi Kuantitatif
b. Teknik Deskripsi Kualitatif
d. Hasil Penelitian

1. Paparan data

1. Tindakan Guru Pada Kegiatan Siklus I
Mutu proses pembelajaran dari aspek tindakan guru pada kegiatan siklus 1 sebesar 80 %
dengan merujuk pada kriteria keberhasilan termasuk dalam kategori baik artinya
pelaksanaan tindakan yang dilakukan oleh peneliti dalam proses pembelajaran. Siklus 1
menunjukan pengelolaan kelas yang baik sehingga mutu proses pembelajaran termasuk
baik.

2. Tindakan Guru Pada Kegiatan Siklus II
Penilaian kualitas pembelajaran terhadap tindakan guru (action) dengan sebesar 86 %
dengan merujuk pada kriteria keberhasilan termasuk dalam kategori sangat baik artinya
pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan oleh peneliti dalam proses pembelajaran pada
siklus II menunjukan pengelolaan kelas yang sangat baik sehingga mutu proses
pembelajaran lebih bermakna.

3. Aktivitas Siswa Siklus I
Mutu proses pembelajaran dari aspek aktivitas siswa pada kegiatan siklus 1 sebesar 83 %.
Dengan merujuk pada criteria keberhasilan termasuk dalam kategori baik artinya pada
pelaksanaan proses pembelajaran menunjukkan aktivitas semangat belajar yang tinggi, hal
ini ditunjukkan dengan semakin hidupnya suasana diskusi kelompok yang melibatkan
semua anggota kelompok.

4. Aktivitas Siswa Siklus II
Penelitian aktivitas siswa sebesar 90 % dengan merujuk pada kriteria keberhasilan
termasuk dalam kategori sangat baik artinya pelaksanaan proses pembelajaran dalam
kondisi aktivitas belajar siswa menunjukan semangat belajar yang sangat baik sehingga
.
5. Hasil Belajar Siklus 1 dan Siklus II:
a). Ketuntasan Individual.
Dari sejumlah 36 siswa ternyata terdapat siswa yang tuntas belajar dengan mendapat nilai
sekurang-kurangnya 75 (Batas tuntas individual) pada tes siklus 1 sebanyak 20 siswa,
setelah tindakan siklus 2 sebanyak 33 siswa. Sedangkan siswa yang belum tuntas dengan
nilai kurang dari 75 (Batas tuntas individual) pada kondisi siklus 1 sebanyak 16 siswa
dan pada siklus II sebanyak 3 siswa.

b). Ketuntasan Klasikal
Ketuntasan klasikal hasil belajar sebanyak 36 siswa ternyata pada tes siklus I sebesar 56
%, setelah tindakan siklus II mengalami peningkatan menjadi 92 % sehingga terjadi
peningkatan 36 %. Jadi peningkatan ketuntasan klasikal setelah adanya tindakan dari
kondisi siklus I sebesar 56 % menjadi 92 % sebesar 36 %.

Data kuantitatif yang merupakan data hasil belajar menunjukan, bahwa pembelajaran
dengan metode ceramah dari sejumlah 36 siswa kelas IX A MTs Negeri Slawi semester
ganjil tahun pelajaran 2013/2014 terdapat siswa yang tuntas belajar sebanyak 20 siswa
sehingga KKM klasikal sebesar 56 %, sedangkan pembelajaran dengan penerapan
membaca pemahaman sebanyak 33 siswa yang tuntas sehingga KKM klasikal sebesar
92 %. Berarti terjadi peningkatan ketuntasan klasikal dari 56 % menjadi 92 % yaitu
sebesar 36 %.
Ketuntasan klasikal sebesar 92 % artinya telah mencapai KKM yang ditetapkan
sebesar 85 % (kondisi ideal).

Dengan demikian, dinyatakan telah mencapai indikator keberhasilan.
Akan tetapi masih ada beberapa siswa yang belum tuntas sebanyak 3 siswa atau sebesar
8 %, sehingga mereka diadakan proses remidial dengan tugas perorangan hingga
mereka dapat tuntas dalam belajarnya.

2. Deskripsi Temuan dan Refleksi
1. Deskripsi Temuan
Pada siklus I, aktivitas dan kemandirian siswa sudah terlihat cukup meskipun belum
menunjukkan angka memuaskan, hal ini terjadi karena siswa belum terbiasa bekerja sendiri.
Jumlah siswa yang tuntas hanya 20 orang (56 %) dengan nilai rata-rata 65,8. Pada siklus II
terjadi peningkatan, siswa yang tuntas menjadi 33 orang (92 %) dengan nilai rata-rata kelas
mencapai 77,6. Berdasarkan pada data siklus II ini dapat disimpulkan bahwa ketuntasan
belajar siswa secara klasikal telah tercapai.

Pada siklus II, angka perbaikan pembelajaran semakin meningkat akibat dari bimbingan dan
arahan guru yang dilakukan secara terus-menerus sehingga siswa mulai terbiasa dengan
metode membaca pemahaman dan bekerja secara kelompok. Dengan jumlah anggota
kelompok 4 siswa, mereka dapat bekerja sama secara aktif terutama dalam mengerjakan
tugas-tugas kelompok sehingga efektivitas pembelajaran semakin meningkat. Siswa
semakin mandiri karena masing-masing siswa mendapat peran sendiri-sendiri di dalam
kelompok. Hal ini dapat dilihat dari ketuntasan belajar siswa mencapai 92 % (33 siswa dari
36 subjek penelitian terlibat). Dengan demikian hanya ada 3 orang siswa (8 %) yang belum
tuntas atau belum merespon secara positif.

2. Refleksi
Meskipun angka-angka yang ditunjukkan oleh data-data hasil pengamatan di atas
menunjukkan keberhasilan yang signifikan, tetapi ada beberapa faktor yang mungkin dapat
mengurangi faktor validitas dan reabilitas hasil temuan, di antaranya:

a). Adanya pengaruh proses pembelajaran yang berulang-ulang dapat saja memberikan
kontribusi yang besar terhadap peningkatan hasil pembelajaran. Bisa saja keberhasilan di
atas bukan hanya akibat adanya kerja kelompok tetapi mungkin adanya pengulangan
proses pembelajaran.

b). Respon positif siswa terhadap pembelajaran dengan metode membaca pemahaman,
mungkin saja karena masih jarang dialami. Karena sebelumnya siswa merasa bosan
pembelajaran dengan metode Ceramah. Dengan pendekatan membaca pemahaman dan
diskusi, mereka diberi kebebasan untuk melakukan eksplorasi sekaligus merupakan
variasi bagi siswa dalam kegiatan belajar.

3. Pembahasan
Berdasarkan data temuan dan refleksi selama siklus I dan II, penerapan membaca
pemahaman memiliki pengaruh yang positif terhadap peningkatan aktivitas siswa serta
hasil belajar siswa.

Data kuantitatif yang merupakan data hasil belajar menunjukan, bahwa pembelajaran
dengan metode ceramah (siklus 1) dari sejumlah 36 siswa kelas IXA MTs Negeri Slawi
semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014 terdapat siswa yang tuntas belajar sebanyak
20 siswa sehingga KKM klasikal sebesar 56 %, sedangkan pembelajaran dengan
penerapan membaca pemahaman (siklus II) sebanyak 33 siswa yang tuntas sehingga
KKM klasikal sebesar 92 %. Berarti terjadi peningkatan ketuntasan klasikal dari 56 %
menjadi 92 % yaitu sebesar 36%.

Ketuntasan klasikal sebesar 92 % artinya telah mencapai KKM yang ditetapkan sebesar
85 % (kondisi ideal). Dengan demikian, dinyatakan telah mencapai indikator
keberhasilan. Akan tetapi masih ada beberapa siswa yang belum tuntas sebanyak 3 siswa
atau sebesar 8 %, sehingga mereka diadakan proses remidial dengan tugas perorangan
hingga mereka dapat tuntas dalam belajarnya.

Pembahasan hasil akhir penelitian tindakan kelas ini dengan hipotesis yang diajukan
yaitu ”Jika pendekatan pembelajaran membaca pemahaman diterapkan maka hasil
belajar dalam pembelajaran bahasa Indonesia kompetensi dasar unsur intrinsik cerpen
dalam pemecahan masalah pada siswa kelas IX A MTs Negeri Slawi semester ganjil
tahun pelajaran 2013/2014 dapat meningkat” dinyatakan terbukti.

Hal ini dapat dibuktikan bahwa ketuntasan klasikal hasil belajar sebanyak 36 siswa
ternyata pada tes siklus I sebesar 56 % sebanyak 20 siswa yang tuntas dan setelah
tindakan siklus II menjadi 92 % sebanyak 33 siswa yang tuntas belajar sehingga terjadi
peningkatan 36 %. Dengan demikian telah terjadi peningkatan ketuntasan klasikal
setelah adanya tindakan dari kondisi siklus I sebesar 56 % menjadi 92 % yaitu 36 %.

Dengan tercapainya KKM sebesar 92 % berarti telah mencapai batas minimal KKM
yang ditetapkan sebesar 85 % dan dinyatakan berhasil karena ada peningkatan. Terbukti
dengan adanya peningkatan nilai rata-rata hasil belajar secara klasikal, dari kondisi
siklus I sebesar 65,8 meningkat menjadi 77,6 pada siklus II (kondisi akhir). Dengan
demikian maka penelitian ini dinyatakan berhasil dan selesai.

E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
a). Dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan menerapkan pendekatan membaca
pemahaman dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar pada siswa kelas IX A
MTs Negeri Slawi semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014
b) Dengan tercapainya KKM sebesar 92% berarti telah mencapai batas minimal KKM yang ditetapkan sebesar 85 % bahkan mencapai skor maksimal KKM. . Selain itu juga terbukti dengan adanya peningkatan nilai rata-rata hasil belajar secara klasikal, dari kondisi siklus I sebesar 65,8 meningkat menjadi 77,6 pada siklus II (kondisi akhir). Hal ini menunjukan penelitian ini berhasil dan dinyatakan selesai. Meskipun demikian masih ada siswa yang belum tuntas belajar sebanyak 3 siswa atau sebesar 8%. Mereka yang belum tuntas perlu diadakan remidial dengan pemberian tugas secara individual agar dapat mencapai KKM yang telah ditetapkan.

2. Saran-saran
1). Untuk Guru
a. Dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia dengan menerapkan pendekatan membaca pemahaman supaya diterapkan juga dalam proses pembelajaran mata pelajaran yang lain guna meningkatkan mutu pembelajaran sehingga hasil belajar dapat mencapai KKM yang ditetapkan.
b. Penggunaan berbagai macam sumber bahan ajar terutama yang kontektual, aktual dan faktual
supaya diberdayakan agar siswa mampu meningkatkan penguasaan terhadap materi pelajaran dan sekaligus meningkatkan daya kreativitasnya..
c. Meningkatkan kemampuan siswa dalam mengembangkan gagasan baru yang konstruktif dengan menggunakan model pembelajaran membaca pemahaman secara kreatif, inovatif, menyenangkan sesuai dengan standar proses.
2) Untuk Pengawas dan Pejabat terkait
a. Menggali kompetensi paedagogis guru untuk mewujudkan guru yang profesional dalam rangka pengembangan sekolah.
b. Mewujudkan situasi belajar mengajar yang kondusif, efektif, efisien dan produktif dalam rangka meningkatkan suasana kehidupan sekolah yang damai dan harmonis.
c. Memberikan motivasi kepada guru untuk dapat melakukan inovasi pembelajaran dengan berbagai macam model pembelajaran guna meningkatkan prestasi belajar siswa.
d. Meningkatkan wawasan guru untuk memperoleh perubahan dan pengembangan skill (keterampilan), attitude (sikap), knowledge (pengetahuan) dan appreciation (penghargaan).
e. Mendorong dan memberikan kesempatan kepada guru untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (Class Action Research) dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran sehingga hasil belajar siswa dapat mencapai KKM yang ditetapkan.
f. Memberikan kesempatan kepada guru untuk meningkatkan kompetensi dirinya sebagai guru yang profesional untuk ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan seminar, forum ilmiah, pengembangan karya ilmiah, program pendidikan dan pelatihan.

Daftar Pustaka
Anindyarini, Atikah., dkk. 2008. Bahasa Indonesia Untuk SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: Putra Nugraha..
Doyin, Mukh. 2011. Tata Tulis karya Ilmiah. Semarang: Bandungan Institute.
Eko, Sus Indah M, S.Pd. 2003. Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia Untuk kelas 1 SLTP. Bogor: Yudhistira
Hamalik, Omar. 2005. Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung: Sinar Baru.
Istikomah, dkk. 2011. Siap UN Bahasa Indonesia,Semarang: Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah.
Karnoto, Bambang K, dkk. 2012. SPM Plus Sukses Menghadapi UN 2013. Jakarta: Erlangga.
Poerwadarminta, W.J.S. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Supardi, Suhardjono. 2012. Strategi Menyusun Penelitian tindakan Kelas. Yogyakarta: Andi Offset
Tarigan, Hendry Guntur, Prof. DR. 2000. Membaca Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa
Majalah MTs Negeri Slawi “Attarbiyah” Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2013/2014
Web: http:// http://www.lokerseni.web.id/2013/09/cerpen-persahabatan-romantis-kau.html.
http://suluhpendidikan.blogspot.com/2010/06/membaca-pemahaman.html
http://dinulislami.blogspot.com/2013/02/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-
hasil.html#sthash.GT7RYBLf.dpuf
http://www.hasiltesguru.com/2012/04/pengertian-hasil-belajar.html
http://belajarpsikologi.com/pengertian-belajar-menurut-ahli

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Tsanawiyah (MTs). Tags: , .

Gen Anti Kekerasan Membangun Budaya Baca di Sekolah


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: