Membangun Budaya Baca di Sekolah

14 April, 2015 at 12:00 am

 Edi TakariyantoOleh Drs Edi Takariyanto
Wakil Kepala SMP Negeri 2 Bawen Kabupaten Semarang
Nara Sumber Budaya Baca USAID PRIORITAS Provinsi Jawa Tengah

 

Budaya adalah sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia dan menjadi suatu kebiasaan. Budaya akan dimiliki atau melekat pada diri seseorang setelah melalui proses belajar. Budaya baca merupakan kebiasaan yang dimiliki seseorang melalui proses belajar dalam rangka memahami kata – kata atau kalimat yang tertulis, menginterpretasikan, dan merefleksikan.

Untuk menumbuhkan budaya baca harus didahului dengan adanya minat baca yang tinggi Namun sayang minat baca penduduk Indonesia tergolong paling rendah jika dibandingkan dengan Negara Asean lainnya. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Unesco tahun 2012 minat baca penduduk Indonesia hanya memperoleh nilai 0.001. Artinya dari sekitar 1000 penduduk Indonesia hanya ada 1 orang yang mempunyai minat baca yang tinggi.

Minat baca yang rendah merupakan indikator belum adanya kebiasaa baca yang baik bagi penduduk Indonesia Demikian juga dengan keadaan di sekolah, kebiasaan membaca masih sangat memprihatinkan baik dari sisi siswa maupun guru serta masyarakat sekolah lainnya. Karena tu, membangun budaya baca seakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan di sekolah. Namun, budaya baca tetap harus dikembangkan di sekolah dalam rangka mendukung tercapainya tujuan pendidikan.

Propaganda Membaca
Propaganda seakan memiliki konotasi yang negatif karena sering digunakan untuk propaganda Kaisar Jepang dalam perang dunia II sebagai pemimpin, pelindung dan cahaya Asia atau untuk propaganda Nazi. Namun, sebenarnya propaganda merupakan penerangan dengan meyakinkan orang lain agar mengikuti tindakan tertentu. Propaganda juga sering diikuti dengan janji atau pemberian hadiah sebagai daya tariknya. Untuk melakukan propaganda kebiasaan membaca, sekolah harus memulai dengan kebiasaan membaca bagi guru sebagai panutan bagi seluruh masyarakat sekolah. Jika kebiasaan membaca bagi guru sudah tumbuh baru propaganda ke masyarakat sekolah lainnya dapat dilakukan.

Menumbuhkan kebiasaan membaca bagi guru juga bukanlah hal mudah. Selama ini guru telah merasa nyaman dengan keberadaannya dan merasa cukup dengan pengetahuannya untuk mengelola pembelajaran yang secara rutin dilakukan. Tetapi, dengan diberlakukannya Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 mulai 1 Januari 2013 guru harus melakukan perubahan. Dalam peraturan tersebut, guru harus melakukan Publikasi Ilmiah (PI) dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah (KTI) untuk mengusulkan kenaikan pangkat. Untuk membuat KTI, guru harus memiliki bekal pengetahuan dan pengalaman yang cukup yang dapat diperoleh dengan membaca dan mengkaji buku. Kesempatan ini dapat digunakan untuk memulai propaganda membaca di ranah guru.
.
Setelah tumbuh kebiasaan membaca bagi guru, maka akan sangat mudah guru melakukan propaganda membaca di ranah siswa dan masyarakat sekolah lainnya. Di ranah siswa, propaganda kebiasaan membaca dapat dilakukan dengan melakukan berbagai macam kompetisi atau lomba-lomba antar siswa dengan cabang kompetisi/lomba dari kegiatan yang berbasis pada aktivitas membaca. Di antara kompetisi/lomba tersebut antara lain lomba baca/menulis cerpen, puisi, sinopsis, cerita, karya ilmiah remaja, mengisi majalah dinding dan yang sejinisnya. Untuk mendukung suksenya kebiasaan membaca, hadiah lomba berupa buku-buku terkini yang dapat menginspirasi siswa.

Sanksi Membaca
Reward dan punishment merupakan bagian dari pendidkan. Reward dapat digunakan untuk memotivasi siswa dalam mencapai pestasi sedang punishment digunakan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab. Guna mendukung penumbuhan kebiasaan membaca segala bentuk reward dan punishment yang diberikan kepada siswa dapat diubah dalam bentuk dukungan terhadapa kegiatan kebiasaan membaca. Reward pencapaian prestasi tertentu dapat diberikan berupa buku, sedang punishment diberikan dalam bentuk sanksi membaca.

Sanksi membaca dapat diberlakukan untuk segala pelanggaran yang dilakukan oleh siswa. Agar sanki tersebut benar-benar dilakukan oleh siswa dan bermanfaat, maka perlu ditindaklanjuti dengan membuat resum hasil membaca yang diketahui oleh orang tua siswa. Selanjutnya, resum dari sanksi membaca harus diperiksa oleh tim atau guru yang ditugasi dan dikembalikan ke siswa. Jika sanksi membaca tidak ditindaklanjuti, maka sanksi hanya akan menjadi bagian dari tata tertib yang akhirnya basi dan tidak dilupakan.

Agar sanksi membaca tidak semata-mata sebagai hukuman tetapi tahap penumbuhan budaya baca, maka bacaan yang diwajibkan untuk dibaca dipilih bacaan yang menarik, sesuai dengan perkembangan siswa, bukan bacaan dari buku teks pelajaran serta panjang bacaan rasional. Bacaan dapat berupa novel, cerpen, cerita rakyat, dan buku-buku motivasi. Panjang bacaan dapat ditentukan untuk satu bab, satu babak atau satu bagian tertentu dari bacaan yang dipilih. Selain untuk alasan rasionalisme, pengambilan sebagian dari bacaan digunakan untuk menumbuhkan rasa penasaran terhadap isi bacaan secara keseluruhan sehingga siswa berkeinginan dari dirinya sendiri untuk membaca lagi sampai tuntas. Jika keinginan-keinginan itu tumbuh dalam diri siswa, maka sanksi membaca berhasil untuk menumbuhkan kebiasaan membaca bagi siswa.

Mengubah Perilaku
Mendidik adalah sebuah usaha sadar untuk mengubah perilaku. Perubahan perilaku yang akhirnya menjadi kebisaan akan tumbuh menjadi budaya. Perubahan-perubahan perilaku tersebut dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, baik secara argumentatif, persuasif maupun indoktrinasi. Pada tataran akhir usaha untuk merubah keadaan adalah dengan cara dipaksa dengan indoktrinasi. Namun hal yang lebih sulit dari manajemen perubahan adalah bagaimana caranya untuk mempertahankan perubahan dan menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan.

Kebiasan-kebiasaan membaca yang telah tumbuh di lingkungan sekolah selanjutnya perlu dikembangkan agar menjadi budaya. Jika kebiasaan membaca yang telah tumbuh tidak dirawat dan diperhatikan, maka kebiasaan itu akan hilang lagi dan kembali pada kebiasaan lama. Untuk itu, suasana pendukung perlu diciptakan agar budaya baca tersebut dapat tumbuh dan berkembang. Iklim pendukung budaya baca diantaranya dapat diciptakan dengan menyediakan sudut-sudut baca di sekitar sekolah, dan menyediakan buku-buku bacaan terkini yang menarik dan menginspirasi.

Suasana sekolah yang mendukung untuk tumbuhnya kebiasaan membaca akan mengubah kebiasaan membaca berkembang menjadi budaya baca. Perubahan kebiasaan menjadi budaya memerlukan proses dan waktu yang lama. Untuk itu, dibutuhkan program-program yang mendukung berkembangnya kebiasaan membaca secara berkelanjutan. Apabila kebiasaan membaca tersebut telah mengakar di seluruh masyarakat sekolah, maka akan menjadi budaya di sekolah tersebut. (Kontak Person: 085740681345. Email: editakariyanto@gmail.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , .

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Mengembalikan Kedaulatan Guru


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: