Gen Anti Kekerasan

14 April, 2015 at 12:00 am

Heri KristantoroOleh Heri Kristantoro SPd MPd
Kepala SMP Negeri 4 Ambarawa Kabupaten Semarang

Rahasia keberhasilan adalah kedisiplinan. Orang yang terlatih disiplin akan lebih besar kemungkinannya meraih keberhasilan daripada orang yang tidak disiplin. Pelajar yang sungguh disiplin dalam belajar tentu akan meraih sukses.

Keberhasilan bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit. Hal ini harus dilatih sedini mungkin mulai dari lingkup keluarga.

Orangtua mempunyai kewajiban sangat berat dan hak primer untuk sekuat tenaga mengusahakan pendidikan anak, khususnya penanaman karakter disiplin. Mengutip sebagian tulisan dari Dorothy ”Jika anak dididik dengan kekerasan, maka Ia akan belajar mencaci maki, Jika anak dididik dengan penuh kasih sayang dan persahabatan, maka Ia akan belajar menghargai”. Orangtua tidak boleh “lepas tangan“ dari kewajiban ini dengan “mempercayakan” semuanya kepada para guru yang mengajar anak-anaknya. Benarkah sudah tidak ada lagi aksi kekerasan di dunia pendidikan kita? Ataukah pesan Ki Hajar Dewantoro untuk mewujudkan sekolah sebagai taman belajar sudah terwujud?

Jalan Pintas Disiplin
Setiap sekolah memiliki berbagai cara untuk menanamkan karakter disiplin pada peserta didiknya. Dengan peraturan tertulis yang dinamakan Tata Tertib Sekolah telah mengatur segala hal yang berkaitan dengan macam pelanggaran dan pemberian sanksi, yang berupa skor pelanggaran.

Ada juga yang menciptakan peraturan kelas yang mengatur kedisiplinan di lingkup kelas masing-masing. Semua itu diusahakan oleh pihak sekolah agar tercipta situasi yang kondusif untuk keberhasilan proses pembelajaran.Sistem reward juga diterapkan sekolah untuk memberikan penghargaan bagi peserta didik yang taat pada tata tertib sekolah.

Kreatifitas sekolah juga muncul, dengan adanya berbagai inovasi tata tertib sekolah yang dituangkan dalam buku saku tata tertib siswa, poster-poster yang menggugah karakter disiplin, bahkan ada yang menyebarkan virus kedisiplinan itu dalam mading sekolah maupun majalah sekolah.

Luar biasa memang usaha yang telah dilakukan sekolah untuk menanamkan karakter disiplin. Pertanyaannya adalah “Apakah karakter disiplin peserta didik kita sudah tertanam kuat dalam setiap perilakunya?”

Fenomena di lapangan, masih banyak kita temukan tindakan kekerasan yang diberikan kepada peserta didik yang melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Hukuman fisik masih menjadi solusi akselerasi untuk menakuti peserta didik agar “kapok” melakukan pelanggaran tata tertib sekolah. Hukuman itu dapat berupa: menguras bak kamar mandi, mengepel WC, hormat bendera, lari lapangan 10 kali, push up, set up, bahkan ada yang tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran.

Anehnya dalam pemberian hukuman setiap guru memiliki cara yang berbeda, sehingga peserta didik sebagai pihak yang dikenai dampak tata tertib sekolah mengalami pengalaman hukuman yang berbeda pula. Apakah dengan pola ini, peserta didik kita menjadi jera, ataukah justru menimbulkan karakter “dendam” di kemudian hari?

Rumus 90/10
Tindakan yang salah dalam mengatasi masalah, akan mempunyai dampak yang lebih parah, bahkan dapat dibawa sampai peserta didik kita dewasa. Anak adalah peniru yang ulung dari orang dewasa. Sungguh dampaknya berkepanjangan. Tetapi apabila mengatasi masalah dengan tepat, maka semakin kecil resiko negatif yang menyertainya.

Sama halnya dengan mengatasi pelanggaran kedisiplinan yang dilakukan oleh peserta didik di sekolah. Apabila pihak sekolah melakukan tindakan yang tepat, tentunya akan mampu mengatasi masalah dengan resiko yang kecil. Yang dibutuhkan bukan hukuman fisik yang menimbulkan dampak psikologis, tetapi hukuman yang mendidik yang harus dipahami untuk menunjukkan buahnya perbuatan.

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru Bab 8 Pasal 39 dijelaskan bahwa guru memiliki kebebasan memberikan saksi kepada peserta didik yang melanggar norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, peraturan tertulis maupun tidak tertulis yang ditetapkan guru, peratuaran tingkat satuan pendidikan, dan peraturan perundang-undangan dalam proses pembelajaran yang berada di bawah kewenangannya, sanksi dapat berupa teguran/peringatan, baik lisan maupun tulisan, serta hukuman yang mendidik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan. Hukuman yang mendidik itu dapat dikaitkan dengan budaya membaca dan menulis.

Seperti kita ketahui bersama, budaya membaca dan menulis di negara kita masih rendah, Hukuman mendidik itu dapat berupa menulis puisi, cerpen, melukis, membuat sinopsis novel, menerjemahkan bacaan teks Bahasa Inggris, membuat poster, pamlet, cerita/dongeng rakyat, kaligrafi, peta, ringkasan materi pelajaran dan masih banyak yang lainnya sesuai dengan karakteristik sekolah. Selain meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, sekaligus membangun budaya “ala bisa karena biasa”. Hukuman yang mendidik dapat membuat anak tidak takut datang ke sekolah, namun akan membangun kesan pada peserta didik bahwa sekolah adalah tempat belajar yang menyemaikan benih kasih sayang dan mengajarkan perilaku baik.

Akar Masalah
Kebanyakan sekolah menyusun tata tertib sekolah tidak melibatkan pihak yang dikenai sanksi apabila melakukan pelanggaran. Prinsip turun temurun peraturan kiranya masih mewarnai regulasi yang diciptakan di sekolah. Demikian juga dengan tata tertib peserta didik. Pihak sekolah sebagai penentu kebijakan tidak melibatkan peserta didik. Sekolah bersikap otoriter dalam menerapkan aturan. Aspirasi peserta didik dalam ikut menyusun kebijakan sekolah terabaikan.

Dalam wadah OSIS, perwakilan kelas, komite sekolah, pengurus paguyuban orangtua, merupakan kelompok yang sudah seharusnya digandeng oleh pihak sekolah untuk duduk bersama-sama dalam menyusun tata tertib sekolah. Kenyataannya, pihak sekolah belum melibatkannya dalam penyusunan tata tertib sekolah maupun program sekolah lainnya. Ironis kiranya, di negeri yang demokratis ini prinsip musyawarah mufakat dalam mengambil keputusan belum nampak dalam menyusun tata tertib sekolah. Bagaimana peserta didik mau patuh kalau aturannya tidak jelas?

Ditambah lagi guru memberikan sanksi beragam pada peserta didiknya. Lagi-lagi mereka tidak terlibat dalam penyusunan tata tertib sekolah, atau bahkan ikut membuat tetapi dalam pelaksanaannya tidak konsisten.

Nemo dat quod non habet
Orang Romawi berkata”Nemo dat quod non habet” yang artinya tidak seorang pun dapat memberikan apa yang tidak dipunyainya. Sama halnya dengan karakter kedisiplinan, pihak sekolah tidak mungkin menuntut peserta didiknya disiplin jikalau bapak ibu guru, staf tata usaha ,bahkan kepala sekolah tidak memiliki karakter disiplin.

Inilah tugas yang paling berat. Keteladanan menjadi magnet yang menggerakkan daya pesona logika peserta didik untuk meniru apa yang dilihat dan dilakukan. Salah satu cara kunci agar kita dapat memberikan contoh perilaku yang baik adalah memperlakukan mereka sebagaimana kita ingin diperlakukan.Diperlukan konsistensi seluruh komponen sekolah untuk menanamkan karakter disiplin pada peserta didiknya.

Dalam penyusunan tata tertib sekolah perlu melibatkan unsur siswa, orangtua siswa, komite sekolah, dan pihak sekolah untuk duduk bersama membahas permasalahan kedisiplinan dan disosialisasikan sebelum diterapkan kepada seluruh komponen sekolah. Kolaborasi antara orangtua dan pihak sekolah perlu terus dijalin sebagai upaya preventif memantau perkembangan peserta didik agar tercipta manusia yang berkarakter disiplin. Hukuman adalah sebuah pembelajaran agar peserta didik senantiasa konsekuen dan bertanggungjawab. Hukuman yang mendidik dapat menjadi solusi untuk mencetak gen anti kekerasan di dunia pendidikan kita agar tercipta generasi penerus bangsa yang cinta damai. (Email: herikristantoro@gmail.com. Blog: herikristantoro.blogspot.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , .

Perlunya Pendidikan Kritis Meningkatkan Hasil Belajar Siswa


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: