Perlunya Pendidikan Kritis

13 April, 2015 at 12:00 am

Ali SyahbanaOleh Ali Syahbana
Dosen Kopertis Wilayah II dpk Universitas PGRI Palembang

Walaupun Filsuf Nietzsche banyak tidak disukai orang, namun ia pernah berujar, ”Tak sempurnalah seseorang membalas jasa gurunya, bilamana ia terus-menerus bertahan sebagai muridnya saja.” Maksudnya seseorang yang secara terus-menerus tetap mengekor pendapat gurunya, bukanlah dianggap sebagai membalas jasa gurunya, malah mengebiri gurunya, sebaiknya ia mampu mengembangkan pemikirannya sendiri. Dengan mampu berdikari, berarti gurunya telah berhasil mendidiknya.

Mari kita belajar dari tiga tokoh besar ilmu pengetahuan yaitu Socrates, Plato, dan Aristoteles. Walaupun Plato banyak menerima pendapat gurunya, yaitu Socrates, namun Plato mampu mengembangkan pendapatnya sendiri. Begitu juga Aristoteles, ia mampu keluar dari bayang-bayang gurunya, Plato. Aristoteles bahkan menganjurkan metode eksperimen yang jauh berbeda dengan ajaran Plato yang cenderung bersifat idea.

Begitu juga dengan Imam Syafi’i yang pernah lama berkhidmat belajar ilmu fikih kepada Imam Maliki, Beliau mampu keluar dari bayang-bayang kebesaran gurunya. Imam Syafi’i telah mampu mengembangkan madzhab fikih tersendiri yang dapat disejajarkan dengan madzhab gurunya. Bukankah kita telah mengenal empat madzhab fikih terbesar yang mempunyai pengikut paling banyak di antara madzhab-madzhab fikih lainnya, yaitu madzhab Hanafi, madzhab Maliki, madzhab Syafi’i, dan madzhab Hambali.

Untuk menuju hal yang demikian, tentunya diperlukan pendidikan kritis. Murid mesti diajarkan tidak hanya mengekor saja apa yang dikatakan gurunya, namun ia mesti dapat mengikuti dengan kritis pendapat gurunya tersebut. Dengan sikap kritis ini, diharapkan si murid mampu mengembangkan pemikirannya.

Selain itu, pendidikan kritis sangat diperlukan siswa agar di masa mendatang mereka dapat mengikuti perkembangan zaman dengan sikap kritis, tidak hanya diombang-ambingkan arus zaman, mengikuti saja dan ditarik kesana-kemari bagai kerbau dicocok hidungnya, dan akhirnya terdampar di pinggiran pantai zaman.

Melalui pendidikan kritis akan melahirkan anak-anak bangsa yang tangguh dengan segala kesadarannya. Kebiasaan berpikir kritis membuat mereka mampu menyaring informasi, memilih layak atau tidaknya suatu kebutuhan, mempertanyakan kebenaran yang terkadang dibaluti kebohongan, dan segala hal yang dapat saja membahayakan kehidupan mereka. Sehingga mereka mampu mengatasi permasalahan kehidupan secara baik, efisien, benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Oleh karena itu, pendidikan kritis mesti sudah diterapkan pada anak-anak usia SMP. Anak seusia SMP sudah mampu menerapkan pola berpikir yang dapat menggiringnya untuk memahami dan memecahkan permasalahan. Dengan mengacu pada pendapat Piaget (tokoh psikologi perkembangan) mengenai ciri-ciri kemampuan kognitif anak pada level SMP bahwa berpikir kritis telah dapat diterapkan pada anak SMP tersebut.

Hanya saja kebiasan berpikir kritis ini belum ditradisikan di sekolah-sekolah. Seperti yang diungkapkan kritikus Jacqueline dan Brooks (Santrock, 2007), sedikit sekolah yang mengajarkan siswanya berpikir kritis. Sekolah justru mendorong siswa memberi jawaban yang benar daripada mendorong mereka memunculkan ide-ide baru atau memikirkan ulang kesimpulan-kesimpulan yang sudah ada. Terlalu sering para guru meminta siswa untuk menceritakan kembali, mendefinisikan, mendeskripsikan, menguraikan, dan mendaftar daripada menganalisis, menarik kesimpulan, menghubungkan, mensintesakan, mengkritik, menciptakan, mengevalusi, memikirkan dan memikirkan ulang. Akibatnya banyak sekolah meluluskan siswa-siswa yang berpikir secara dangkal, hanya berdiri di permukaan persoalan, bukannya siswa-siswa yang mampu berpikir secara mendalam.

Selain itu, pola pengajaran lama yang membuat guru dominan di kelas memang memasung kreativitas siswa untuk bebas berpendapat. Guru tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk memiliki jawaban yang berbeda. Sehingga jarang sekali muncul murid-murid yang mampu berpikir kritis secara mandiri. Mereka takut mempunyai jawaban atau pandangan yang berbeda dengan gurunya. Guru pun selalu tidak menerima bila terdapat murid yang mempunyai jawaban yang berbeda darinya.

Untuk mendukung pengembangan berpikir kritis, guru mesti menguasai banyak tentang materi yang diajarkannya, agar guru mengerti variasi solusi dari masalah yang telah diajukan. Guru mesti mampu melihat celah dari materi yang mungkin dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan sikap kritis siswa. Walaupun mungkin siswa tidak menanyakannya, guru dapat memulainya dengan memberikan stimulan-stimulan. Misalnya mempersilahkan murid untuk memberikan pendapat yang berbeda, memperkenankan murid untuk melihat peluang jawaban dari sisi yang lain, mempertanyakan kepada murid apakah jawaban yang disajikan guru memang benar adanya.

Tujuan paling utama dari pendidikan kritis ini adalah agar siswa mengerti dengan benar bahwa kebenaran yang diyakininya memang benar adanya, bukan karena mengikuti pendapat orang saja. Mereka akan selalu dapat bertanya tentang pemahaman/nilai yang mereka anut atau yang mereka terima. Bahkan kalau dapat mereka mampu mengembangkan pemikirannya.

Apalagi sekarang ini dengan makin gencarnya berbagai gerakan penanaman paham ekstrim yang menyimpang pada generasi muda, maka generasi muda perlu dibekali kemampuan menimbang kebenaran dari paham tersebut. Mereka perlu diberi ruang untuk mempertanyakan kembali pemahaman yang ada tersebut.

Namun pembelajaran cara berpikirnya juga mesti seimbang, tidak hanya mempunyai sikap kritis yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Mereka perlu diajarkan untuk melihat kebenaran secara proporsional, kalau memang benar terimalah sebagai kebenaran, namun jika salah mesti diluruskan. Jangan dibiarkan bersikap kritis hanya untuk dikatakan berbeda, atau hanya untuk merasa lebih pintar atau lebih benar dari yang lain. Sebab sikap kritis yang kebablasan juga akan mengakibatkan kehancuran.

Bagi pemerintah, sikap kritis ibarat mata pedang, karena selalu saja sikap kritis tersebut dianggap berseberangan dan membahayakan pemerintahan. Jika pendidikan kritis diajarkan di sekolah, suatu saat nanti akan merongrong pemerintahan. Namun mengingat pentingnya sikap kritis ini diajarkan di sekolah, maka pemerintah mesti mencari cara atau format yang baik agar pembelajarannya tidak keluar dari koridor yang benar, dan anak didik yang dihasilkan mampu bersikap kritis dengan disertai rasa tanggung jawab dan bermoral. (Sriwijaya Post, 13 April 2015). Kontak person 081373340681. Email: syahbanaumb@yahoo.com.

Entry filed under: Artikel Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tags: , .

Mental Pembelajar Peserta Didik Gen Anti Kekerasan


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: