Mental Pembelajar Peserta Didik

13 April, 2015 at 12:00 am

Oleh Drs Waidi MBA Ed
Alumnus Universitas Terbuka (UT) dan School of Education Leicester University Inggris, bekerja di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Penolakan terhadap ujian nasional (UN) muncul sesaat setelah pemerintah mewacanakan penerapannya. Penolakan itu mendalihkan ujian itu bertentangan dengan esensi pembelajaran yang membebaskan dan mengekang kreativitas guru. Namun pemerintah tetap menyelenggarakannya pada 13-15 April 2015 untuk jenjang SMA/SMK. Bila UN merupakan keniscayaan, bagaimana sebaiknya penyikapan peserta didik?

Teori persepsi tentang sikap (Jalaludin Rakhmat; 2003) mengatakan bahwa sebuah peristiwa (objek) selalu netral adanya, hanya sikap kita yang menentukan tindakan dan hasilnya. Sikap adalah pilihan bertindak terhadap objek tertentu. Huruf C adalah sebuah objek (huruf) cekung atau cembung, bergantung bagaimana kita memandangnya.

Ujian nasional pun adalah objek yang bisa melahirkan perbedaan sikap, serta tindakan dan hasil yang berbeda, bergantung bagaimana peserta memandangnya. Sebuah ilustrasi tentang sikap, pada suatu pagi seorang ibu mendapati benda asing di halaman rumahnya, yakni tas kresek hitam. Begitu mengambil dan membukanya, alangkah terkejutnya karena berisi kotoran sapi.

Di bagian luar tertempel kertas putih bertuliskan ”kiriman tetangga sebelah”. Apa responsnya? Bisa dianggap wajar bila ia marah terhadap tetangganya itu. Namun ada orang lain yang ketika mendapati pengalaman yang sama justru mengucap syukur karena kotoran sapi itu bisa dijadikan pupuk tanaman hias di belakang rumahnya.

Objeknya sama, kotoran sapi, namun menghasilkan sikap berbeda. Ada dua sikap dalam hal ini: negatif atau positif, mengumpat atau mensyukuri. Keputusannya itu sangat tergantung pada pola pikir yang tertanam di dalam pikiran bawah sadar pelaku. Demikian halnya dengan UN, yang akan menghasilkan perbedaan sikap: negatif atau positif.

Revolusi Sikap
Peserta didik pada umumnya lebih bersikap negatif terhadap UN. Targetnya jangka pendek atau kepentingan saat ini, yang penting lulus kendati menghalalkan segala cara. Mereka beranggapan hasil ujian lebih penting ketimbang kualitas diri dan mental pembelajar. Baginya UN adalah tujuan. Artinya bila gagal, mereka bersikap negatif, menganggapnya pembawa aib, penyebab patah hati.

Namun bila berhasil, mereka akan mengekspresikan di jalan sambil corat-coret, seolah-olah kesuksesan sudah berada di tangannya. Mereka lupa masih banyak tantangan lebih besar yang belum tentu mereka siap menghadapi. Sikap itu lahir dari pola pikir tertutup karena tak siap menghadapi hal-hal baru, termasuk konsekuensi logis dari UN.

Sikap dan mentalitas seperti inilah yang memerlukan revolusi melalui proses pembelajaran. Semestinya, pembelajaran harus mampu melahirkan manusia bermental pembelajar. Mental tersebut lahir dari mindset terbuka yang siap menerima hal-hal baru. Peserta didik dengan mental ini, senantiasa membuka diri untuk peningkatan kapasitasnya. Mereka selalu mengambil pelajaran (makna) positif dari peristiwa yang dialami.

Peserta didik dengan mental pembelajar, memandang UN sebagai siklus pembelajaran tahunan. Kehadirannya tidak membutuhkan persiapan khusus, apalagi bertindak reaktif dengan melakukan kejahatan pembelajaran. Baginya, ada UN atau tidak, mereka tetap belajar. Tiap kesulitan yang dihadapi merupakan vitamin pikiran.

Kelulusan tetap mereka kejar tapi bukan sebagai tujuan. Kegagalan disikapi sebagai momentum peningkatan motivasi, sekaligus media reflektif yang dapat mengantarkannya pada tahap kedewasaan dan kearifan tindakan. Pun keberhasilan tidak menjadikannya lupa diri tapi segera bersyukur kepada Tuhan YME atas karunia-Nya. Mental pembelajar seperti inilah yang ditunggu bangsa ini. (Sumber : Suara Merdeka, 13 April 2015).

 

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Membebaskan dari Stres UN Perlunya Pendidikan Kritis


ISSN 2085-059X

  • 649,871

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: