Menulis Cerdas Masa Depan Jepara

9 April, 2015 at 12:00 am

Oleh Indria Mustika SPd MPd
Guru Jurusan Tata Busana SMKN 2 Jepara, koordinator salah satu kegiatan dalam Festival Kartini Jepara III Tahun 2015 serta Jepara Batik and Tenun Fashion Weeks 2015
Ada kecemasan kuat menghantui peserta Simposium ’’Rekonstruksi Budaya Jepara untuk Membangun Masa Depan’’yang berlangsung pada 20 September 2012 di pendapa kabupaten. Kecemasan itu muncul sewaktu Alex Komang, sebagai salah satu inisiator acara tersebut bersama Wakil Bupati Jepara Dr Subroto SE MM mengingatkan betapa banyak budaya lokal yang makin kurang diminati para pewarisnya. Karena itu, salah satu rekomendasi untuk menjawab kegelisahan itu adalah merancang kegiatan budaya yang bukan hanya mengedepankan kemeriahan, penguatan budaya, dan kearifan lokal, melainkan juga memiliki spektrum promosi kuat. Muaranya tidak lain untuk lebih menyejahterakan masyarakat.

Nama Festival Kartini dipilih dilatarbelakangi keyakinan bahwa RA Kartini merupakan kekuatan absolut Jepara yang tak hanya mengangkat derajat dan martabat perempuan Indonesia tapi kreativitasnya pun terbukti telah menyejahterakan masyarakat Jepara. Kegiatan yang digelar tanggal 8-21 April 2015 itu mengambil dua momentum, yaitu tanggal penobatan Ratu Kalinyamat pada 10 April 1549 dan peringatan hari kelahiran Kartini tanggal 21 April. Sebenarnya perkembangan seni ukir Jepara dimulai dari langkah Kartini membina 12 seniman ukir dari Belakang Gunung. Sebelum ditinggalkan ke Rembang, perajin di bengkel RA Kartini itu sudah mencapai 50 orang. Kartini mengajari mereka tentang desain dan motif baru yang lebih diterima pasar, termasuk mempromosikan melalui tulisan dan pameran, serta mendidik perajin untuk mengelola usaha.

Greget Festival Kartini tak lepas dari figur Hadi Priyanto, Kabag Humas Setda Jepara. Ia dipercaya jadi ketua panitia festival tiga tahun berturut-turut. Di tangan penulis buku Kartini Pembaharu Peradaban, Mozaik Seni Ukir dan Legenda Jepara serta Ketua Lembaga Pelestari Seni Ukir, Batik dan Tenun Jepara itu sebuah kegiatan yang sekilas tampak biasa, mampu menarik perhatian. Bahkan pada saat Festival Kartini 2014, Gubernur Jawa Tengah dihadirkan untuk pencanangan ornamen ukiran ketika membuka lomba ukir dan Jurusan Dekorasi Ukir di SMKN 2 Jepara. Ini langkah monumental memperkuat branding Jepara The World Carving Centre, yang lama dideklarasikan namun tidak ada gregetnya dalam memperkuat identitas daerah itu.

Ada beberapa tantangan bagi Jepara dalam usia ke- 466 yang ingin dijawab lewat Festival Kartini III Tahun 2015.

Pertama; ketidaksetiaan ahli waris terhadap budayanya sendiri. Indikatornya adalah penurunan minat generasi muda pada seni ukir dan makin ditinggalkannya kearifan budaya lokal, tergerus oleh kemajuan teknologi. Mendongeng tidak lagi jadi media pembelajaran karakter, seni ketoprak juga tak lagi dilestarikan. Daya Tarik Kedua; kemudahan investasi justru mendorong generasi muda tak lagi memilih mengembangkan seni ukir bagi masa depannya. Ketiga; persaingan antarkota yang demikian kuat untuk menarik wisatawan, perhatian para investor dan juga perhatian pemerintah pusat harus dijawab dengan kegiatan kreatif sekaligus produktif semacam Jepara Batik and Tenun Fashion Weeks. Keempat; menambah daya dukung potensi alam yang makin berkurang dengan mengembangkan potensi budaya supaya kembali menjadi daya tarik dan kekuatan daerah. Kelima; menyadarkan masyarakat dan birokrasi untuk cerdas memanfaatkan APBD agar tidak sekadar jalan sesuai DPAserta menutup ruang kreativitas dan partisipasi masyarakat lokal.

Bila Festival Kartini dipilih strategi budaya membangun masa depan Jepara yang bertumpu pada kearifan budaya lokal sekaligus sebagai upaya memenangi persaingan antardaerah, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan. Pasalnya, masa depan Jepara bergantung dari politic willyang kuat dari eksekutif dan legislatif. Tahun depan merupakan tahun pengujung pemerintahan Ahmad Marzuqi-Subroto, sekaligus tahun terakhir pengabdian kreator Festival Kartini, Hadi Priyanto sebagai PNS. Pertama; dalam penyusunan APBD 2016 diharapkan ada alokasi memadai dan memasukkan Festival Kartini sebagai kegiatan. Kedua; memasukkan kegiatan kreatif secara integratis pada semua SKPD. Keempat; meminta komitmen pengusaha dan BUMN/BUMD untuk mengalokasikan dana CSR guna pengembangan festival itu, sekaligus mengawal perda tentang CSR yang sudah diundangkan namun berkesan tidak punya gigi. Kelima; mendirikan Yayasan Kartini supaya menjadikan Festival Kartini makin bermakna bagi upaya ’’menulis’’ masa depan Jepara. Tugas yayasan tak hanya menggelar festival tetapi juga melakukan upaya untuk mewariskan nilai dan semangat Kartini yang makin luntur dan samar-samar. (Sumber : Suara Merdeka, 9 April 2015)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tags: , .

Tes Minat bagi Anak Ujian Online sebagai Solusi Jujur


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: