Strategi Membangun Kota Buku

2 April, 2015 at 12:00 am

Oleh Turah Untung
Alumnus Administrasi Negara Universitas Terbuka (UT), staf Pemerintah Kota Tegal

Hasil survei UNESCO tahun 2012 mencatat minat baca di Indonesia terendah di Asia Tenggara. Menurut badan itu, indeks minat membaca Indonesia baru 0,001, dalam arti dari 1.000 orang hanya 1 orang yang punya minat membaca. Adapun United Nations Development Program merilis angka melek huruf orang dewasa Indonesia baru 65,5%, sedangkan Malaysia sudah 86,4%.

Bila Yogyakarta lekat dengan sebutan Kota Pelajar atau Kota Pendidikan maka Kota Tegal beridentitas Kota Bahari karena terletak di pantai utara, dan itu membuat kota tersebut berkultur pesisiran, yang identik dengan kehidupan keras dan lugas ala nelayan. Meskipun begitu, kota ini terus berbenah, bertransformasi menuju kota berpendidikan.

Tentu bukan bermaksud menyaingi Yogyakarta, saat ini di Tegal ada perkembangan menarik dengan pertumbuhan perguruan tinggi yang menjadikan kota itu sebagai tujuan belajar generasi muda dari luar daerah. Tegal telah berubah menjadi magnet sebagai kota pelajar Jateng bagian barat, sebagai alternatif dari Purwokerto yang lebih dulu eksis. Iklim pendidikan yang telah terbangun seyogianya diimbangi ketersediaan referensi.

Seberapa memadai perpustakaan di Kota Tegal? Seberapa banyak toko buku yang komplet untuk menjawab kebutuhan masyarakat baca? Seberapa tinggi minat baca masyarakat? Apakah Kota Tegal sudah cerdas dengan kondisi itu? Di jantung kota, Perpusda ’’Mr Besar Martokoesoemo’’ dengan koleksi 25.837 buku, cukup untuk mengakomodasi kebutuhan referensi dan peminjaman buku.

Persoalannya ada pada minat baca mengingat data perpustakaan itu menyebut kunjungan 6.680 anggota didominasi pelajar/mahasiswa. Kantor-kantor kelurahan juga menyediakan satu ruangan yang disulap menjadi perpustakaan kendati masih sebatas menyediakan buku-buku ’’seadanya’’.

Persoalan masih sepinya perpustakaan kelurahan tentu bukan karena keminiman jumlah atau jenis buku melainkan lebih pada minat baca. Bahkan perpustakaan kelurahan ini mirip gudang buku mengingat banyak koleksi buku berdebu karena tak pernah tersentuh pembacanya. Harus diakui, keminiman sosialisasi membuat masyarakat masih abai terhadap budaya membaca.

Karena itu, Kantor Perpustakaan Daerah mengalakkan gerakan gemar membaca. Upaya itu dilakukan dengan merevitalisasi peran Ikatan Pustakawan Indonesia, memperkuat Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dengan salah satu motivatornya Dr Yusqon. Di kota itu secara swadaya muncul sejumlah penulis, seperti Atmo Tan Sidik (esai), Lanang Setiawan (novel), serta Yeye Haryoguritno dan Ratmana (cerpen).

Kemudian, Surialiandi Kustomo (buku sastra), Dwi Eri Santoso (puisi), Tambari (wangsalan Tegalan dan kumpulan berita), Nur Hidayat (kumpulan naskah drama dan opini), Yono Daryono (Tegal Stad), serta beberapa dosen UPS Tegal yang menulis buku untuk kepentingan akademis.

Pameran Buku
Kegairahan menulis buku mestinya diimbangi acara pameran buku, semisal Tegal Book Fair atau festival buku, minimal tiap tahun. Untuk mendongkrak minat baca, sekolah bisa menugaskan siswa untuk secara berkala meresensi buku.

Membudayakan membaca buku juga bisa dimulai dari keluarga. Lakukan gerakan mengungkapkan kasih sayang dengan buku, semisal memberi hadiah buku pada saat ada anggota keluarga berulang tahun. Orang tua di rumah bisa memulainya, diukung lingkungan sekolah dan masyarakat supaya tercipta satu langkah membangkitkan minat baca.

Apakah itu cukup memberikan penyadaran bahwa membaca itu penting? Di Kota Tegal belum ada toko buku besar yang bisa memenuhi kebutuhan buku masyarakat. Toko-toko buku yang ada, belum cukup komplet menyediakan ragam buku dan dengan harga terjangkau.

Tegal belum mempunyai sentra buku seperti Kwitang Jakarta, atau pusat buku bekas di Pasar Johar dan belakang Stasion Diponegoro Semarang. Tegal harus cerdas, dan buku harus jadi teman sejalannya. Bukankah sebaikbaik teman duduk adalah buku. (Sumber: Suara Merdeka, 2 April 2015)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Potret Profesionalisme Kepala Sekolah Tes Minat bagi Anak


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: