SKP, Dongkrak Kualitas Kinerja Guru

31 Maret, 2015 at 12:00 am

Heri KristantoroOleh Heri Kristantoro SPd MPd
Kepala SMP Negeri 4 Ambarawa Kabupaten Semarang

Setiap tahun pada awal Januari semua PNS di instansi pemerintah memiliki kewajiban untuk menyusun SKP ( Sasaran Kerja Pegawai ) tak terkecuali juga guru. SKP adalah rencana kerja dan target yang harus dicapai oleh seorang PNS dalam kurun waktu penilaian , bersifat nyata dan dapat diukur serta mengacu pada rencana kerja tahunan yang telah ditetapkan oleh instansi.

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2011 tentang penilaian prestasi kerja PNS, target adalah beban kerja yang akan dicapai dari setiap pelaksanaan tugas jabatan. Target merupakan hal penting dalam sebuah organisasi. Target sebagai tolok ukur seseorang untuk menunjukkan work performance. Target jangan terlalu tinggi karena bisa membuat frustasi, dan jangan pula terlalu rendah karena dapat membuat semangat menjadi kendur, bahkan mati. Target yang terukur serta terjangkau adalah target yang realistis dan tentunya setiap tahun mengalami kenaikan sebagai indikator nyata adanya inovasi dan kreativitas ( Jamal, 2012 : 131 ). Kreativitas adalah kemampuan PNS untuk menciptakan sesuatu gagasan/metode pekerjaan yang bermanfaat bagi unit kerja, organisasi atau negara.

Dalam menyusun SKP harus memenuhi persyaratan : jelas, dapat diukur, relevan, dapat dicapai dan memiliki target waktu. Setiap kegiatan tugas jabatan yang akan dilakukan harus didasarkan pada tugas dan fungsi , wewenang, tanggung jawab, dan uraian tugasnya yang secara umum telah ditetapkan dalam struktur organisasi dan tata kerja ( SOTK). SKP yang telah disusun harus disetujui dan ditetapkan oleh Pejabat Penilai sebagai kontrak kerja.

Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 1 Tahun 2013 tentang ketentuan pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 menyatakan bahwa penilaian prestasi kerja PNS bertujuan untuk menjamin obyektivitas pembinaan PNS yang dilakukan berdasarkan sistem prestasi kerja dan sistem karier yang dititikberatkan pada sistem prestasi kerja. Hasil penilaian prestasi kerja PNS dapat dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan dalam bidang pekerjaan, pengangkatan dan penempatan, pengembangan, penghargaan dan disiplin. Penilaian prestasi kerja PNS terdiri atas unsur SKP dengan bobot 60 % dan perilaku kerja dengan bobot 40 %.

Kualitas SKP Guru vs Kualitas Kinerja Guru
Benarkah kualitas SKP dapat mendongkrak Kualitas Kinerja Guru ? Padahal telah 1 tahun regulasi ini diterapkan. Bagaimana dengan kualitas SKP para guru kita ? Menurut pengamatan saya ,masih banyak guru dalam menyusun SKP hanya ikut-ikutan dengan teman-temannya satu instansi. Belum berdasarkan kemampuan yang dimiliki serta komitmen yang tinggi untuk mewujudkannya.

SKP hanya sekedar kewajiban yang harus dibuat tanpa usaha yang keras untuk mewujudkannya. SKP dianggap sebagai barang baru yang belum dituntut adanya pembuktian dengan data yang akurat. Apakah kepala sekolah juga sudah menerapkan penilaian prestasi kerja yang berbasis data yang akurat sehingga tepat dan adil dalam mengambil keputusan ? Kepala sekolah sebagai pejabat penilai juga masih terkungkung “ budaya ewuh pakewuh “ sehingga menimbulkan bias-bias penilaian.

Bagaimanakah langkah-langkah yang dapat dilakukan guru agar SKP yang disusun signifikan terhadap peningkatan kualitas kinerjanya ? Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah merefresh kembali kewajiban apa saja yang harus dilakukan guru. Guru adalah tenaga profesional yang memiliki tugas pokok menyusun perencanaan pembelajaran , proses , evaluasi dan bimbingan. Guru perlu meningkatkan dan dan mengembangkan kualifikasi akademik.

Dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan , guru juga dituntut untuk aktif dalam kegiatan penelitian di bidang pendidikan, menemukan teknologi tepat guna, membuat alat pelajaran/peraga/bimbingan, menciptakan karya tulis maupun kegiatan pengembangan kurikulum. Itu semua perlu dituangkan dalam SKP para guru sebagai indikator kualitas kinerjanya.

Dampak dari kualitas SKP yang dapat diwujudkan adalah perolehan angka kredit sebagai penghargaan kenaikan pangkat dan jabatan yang lebih tinggi. Sesuai Permenneg PAN & RB No. 16/2009, pasal 17 menyatakan bahwa mulai guru pertama / III b ke atas diperlukan angka kredit dari unsur PKB.

Kedua, adanya target yang realistis yang meliputi aspek kuantitas, kualitas, waktu dan biaya. Target produk kinerja yang dihasilkan misalnya : 1 laporan PTK dalam waktu 1 tahun, kualitas 100% dengan biaya Rp. 2.000.000,00 untuk menyusun proposal, instrumen, pengumpulan data, penyusunan laporan dan seminar diseminasi hasil penelitian. Hasil PTK harus diseminarkan minimal 3 sekolah yang berbeda dengan jumlah peserta 15 orang. Produk hasil PTK ini dapat juga dikirimkan ke jurnal baik tingkat Kabupaten, Provinsi maupun Nasional. Bonus yang diterima gurupun semakin besar dalam perolehan angka kredit.

Ketiga, kesungguhan dan konsistensi . Karakter ini perlu ditanamkan pada setiap guru agar target dapat tercapai. Ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Diperlukan kepemimpinan kepala sekolah yang kuat untuk selalu memberikan motivasi agar para guru produktif mewujudkan target yang telah tertuang dalam kontrak kerjanya. Kepala sekolah dapat memberikan reward untuk membangkitkan mental sukses para guru dalam mencapai prestasi kerja yang membanggakan.

Keempat, perubahan mindset/pola pikir bahwa menyusun SKP bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban “asal buat “, namun disertai motivasi untuk dapat mewujudkannya. Jennie S. Bev dalam buku “ Mindset Sukses “(2007), menyatakan bahwa sukses bukanlah tujuan, bukan pula perjalanan, sukses adalah pola pikir. Pola pikir biasanya berdampak pada tindakannya. Guru yang berpikir sukses maka kesuksesan sejati datang dengan sendirinya.

Semoga dengan komitmen yang kuat dan loyalitas kerja yang tinggi dari para guru kita dalam menyusun SKP yang berkualitas dapat meningkatkan pelayanan pendidikan bagi anak-anak bangsa di bumi pertiwi ini. Untuk itu dibutuhkan kebersamaan dari berbagai pihak agar SKP dibuat dengan sungguh-sungguh dan juga kepala sekolah memberikan penilaian prestasi kerja guru yang berbasis data/bukti. (Email : herikristantoro@gmail.com. Kontak person: 085725823555. Blog : herikristantoro.blogspot.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , .

Unnes, LPTK, dan Kemajuan Bangsa Dari Jurnal Refleksi Menjadi KTI


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: