Dari Jurnal Refleksi Menjadi KTI

31 Maret, 2015 at 12:00 am

Lilik NurcholisOleh Drs Lilik Nurcholis MSi
Kepala SMP Negeri 2 Bawen Kabupaten Semarang, Fasilitator MBS USAID PRIORITAS Provinsi Jawa Tengah

Setiap guru pasti menuliskan refleksi sebagai bagian dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang disusunnya. Akan tetapi, kegiatan tersebut jarang dilakukan dan hanya menjadi pelengkap formalitas RPPnya . Alasan klasik yang umum disampaikan adalah lupa atau tidak sempat karena terburu waktu. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa guru juga belum benar-benar tahu sesungguhnya apa yang harus dikerjakan saat melakukan refleksi.

Secara harfiah, refleksi berarti cerminan atau gambaran. Dengan demikian sesungguhnya refleksi itu merupakan cerminan atau gambaran untuk mengumpulkan informasi tentang apa yang telah dikerjakan. Sebagaimana bila seseorang bercermin, bayangan yang ada di dalam cermin adalah gambaran tentang dirinya. Demikian juga dengan refleksi dalam pembelajaran adalah gambaran tentang jalannya pembelajaran dari sisi guru maupun siswa.

Bagi guru, hasil refleksi tersebut selanjutnya dapat ditulis dalam bentuk jurnal maka disebutlah jurnal refleksi. Refleksi bagi guru bermanfaat untuk memperoleh gambaran tentang kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan dari RPP yang telah dilaksanakan demi pencapaian tujuan pembelajaran. Sedang bagi peserta didik refleksi berfungsi sebagai konfirmasi dari pengalaman belajar yang diperolehnya setelah mengikuti pembelajaran saat itu.

Jurnal refleksi harus ditulis sesaat setelah pembelajaran berakhir sehingga cerminan dari kegiatan pembelajaran tersebut masih segar dalam ingatan. Jika jurnal refleksi ditulis terlalu lama jaraknya dengan pembelajaran yang sudah dilaksanakan, maka isi jurnal refleksi tidak akan objektif lagi karena sudah banyak yang terlupakan. Selain itu, jurnal refleksi akan berubah menjadi sebuah karangan yang dipenuhi rekaan dan pengungkapan idealisme. Oleh karena itu, jurnal refleksi sebaiknya ditulis spontan sesaat setelah pembelajaran berakhir agar informasi yang terkandung di dalamnya tetap objektif.

Perlu Pembiasaan
Tidak dipungkiri bahwa membiasakan guru menulis jurnal refleksi tidaklah semudah membalik telapak tangan. Banyak guru yang kesulitan dalam menulis jurnal refleksi. Kesulitan tersebut lebih dikarenakan guru belum memiliki kebiasaan menulis jurnal refleksi meskipun mereka berlatar belakang sebagai guru bahasa. Diperlukan latihan dan pembiasaan untuk menulis jurnal refleksi, meskipun jurnal refleksi itu sesungguhnya adalah catatan hasil refleksi dari kegiatan yang mereka lakukan sendiri. Oleh karena itu, memulai menulis jurnal refleksi merupakan langkah awal terbaik untuk membiasakan merekam kejadian-kejadian aktivitas kegiatan pembelajaran dalam bentuk tulisan.

Secara umum, jurnal refleksi dapat disusun dalam tiga bagian utama yaitu deskripsi, evaluasi diri dan rencana tindak lanjut. Deskripsi berisikan tentang gambaran aktivitas pembelajaran, utamanya menggambarkan kegiatan guru yang dapat dijabarkan dengan pedoman apa, di mana, kapan, siapa, bagaimana dan mengapa.

“Apa”, mendeskripsikan tentang aktivitas pembelajaran apa yang telah dilaksanakan guru terutama menyangkut materi pembelajarannya. “Di mana”, mendeskripsikan tentang tempat berlangsungnya pembelajaran baik menyangkut tingkat maupun kelas paralelnya. “Kapan”, mendeskripsikan tentang waktu berlangsungnya pembelajaran baik menyangkut hari, tanggal, jam pelajaran, semester serta tahun pelajarannya. “Siapa”, mendeskripsikan tentang pelaku yang terlibat aktif dalam pembelajaran tersebut baik guru, peserta didik maupun kolaboran jika ada. “Bagaimana”, mendeskripsikankan tentang gambaran singkat jalannya pembelajaran. “Mengapa”, mendeskripsikan tentang alasan yang mungkin perlu dikemukankan atas pertanyaan “bagaimana” yang berkenaan dengan kekuatan, kelemahan, peluang maupun tantangan pembelajaran yang dilaksanakan.

Evaluasi diri berisikan tentang bagaimana kemampuan guru dalam mengaktifkan siswa saat mengikuti pembelajaran yang berhubungan dengan kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan sesuai dengan RPP yang disusunnya. Hal yang terpenting dalam evaluasi diri adalah kejujuran dalam mengevaluasi dirinya sendiri. Manipulasi informasi merupakan hal yang harus dihindari jauh-jauh karena akan menyesatkan diri sendiri. Jangan sampai terjadi buruk muka cermin dibelah. Jika hal itu terjadi, maka jurnal refleksi tidak akan bermanfaat apapun untuk peningkatan profesionalisme guru dan perbaikan pembelajaran.

Sedangkan rencana tindak lanjut menguraikan tentang rencana apa yang akan dilakukan oleh guru berkenaan dengan usaha untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu pembelajaran yang dikelolanya berdasarkan hasil evaluasi diri tersebut.

Modal Menyusun KTI
Jurnal refleksi yang dihasilkan oleh guru sebenarnya merupakan modal besar bagi guru untuk melakukan penelitian tindakan kelas (PTK). Berdasarkan jurnal refleksi tersebut selanjutnya guru dapat merumuskan permasalahan dan mengajukan hipotesis untuk menjawab permasalahan tersebut. Jika permasalahan dan hipotesis telah dapat dirumuskan, selanjutnya guru tinggal menindaklajuti dengan menyusun siklus PTK. Sebagaimana umumnya, siklus PTK terdiri dari perencanaan (planing), tindakan (action), pengamatan (observation), dan refleksi (reflection).

Kebiasaan guru menulis jurnal refleksi sebenarnya juga bermanfaat bagi guru untuk mengasah kemampuannya dalam menulis. Kemampuan menulis tersebut pada gilirannya akan bermanfaat bagi guru untuk menghasilkan publikasi ilmiah yang sangat diperlukan untuk mendapatkan nilai Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) khususnya pada publikasi ilmiah dalam bentuk karya tulis ilmiah. Rendahnya kemampuan guru dalam menghasilkan karya tulis ilmiah inilah yang menyebabkan banyak guru berhenti pada golongan IV a sampai bertahun tahun atau bahkan sampai pensiun. Seperti kita ketahui, regulasi Penetapan Angka Kredit (PAK) yang lalu untuk kenaikan golongan dari IV ke IV b ke atas diperlukan nilai pengembangan profesi berupa karya tulis ilmiah.

Tuntutan regulasi terkini, Peraturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 mewajibkan guru memiliki nilai publikasi ilmiah/atau karya inovatif sejak memasuki golongan III b menuju golongan III c. Untuk itu, setiap guru dituntut mampu menghasilkan karya tulis ilmiah. Jika seorang guru sudah terbiasa dalam menulis jurnal refleksi, maka baginya bukan hal yang sulit untuk menghasilkan karya tulis ilmiah baik dalam bentuk laporan PTK, artikel maupun lainnya. (email:lienceha@yahoo.com, HP. 085741918838).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , .

SKP, Dongkrak Kualitas Kinerja Guru Standar Nasional Pendidikan Tinggi untuk Hadapi MEA


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: