Kondusif Dengan Manajemen Konflik

27 Maret, 2015 at 12:00 am

Heri KristantoroOleh Heri Kristantoro SPd MPd
Kepala SMP Negeri 4 Ambarawa Kabupaten Semarang
Konflik merupakan salah satu karakteristik kehidupan manusia dari zaman purba hingga era globalisasi dewasa ini. Konflik terjadi di semua negara, di semua sistem sosial, dan di semua bidang kehidupan manusia. Dunia pendidikan pun tidak luput dari yang namanya konflik. Dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan, konflik timbul karena keterbatasan sumber daya organisasi, kesalahpahaman dalam menerjemahkan program, perbedaan tujuan, perbedaan persepsi dan kesalahan dalam menjalankan tugas.

Konflik sebagai sesuatu yang alamiah dalam batas tertentu dapat bernilai positif terhadap perkembangan sekolah jika dikelola dengan baik dan hati-hati. Sebaliknya jika melewati batas dapat menimbulkan akibat yang fatal. Dampak positif dari konflik memungkinkan ketidakpuasan yang tersembunyi muncul ke permukaan sehingga kita dapat melakukan penyesuaian.

Sedangkan dampak negatif dari konflik seperti menimbulkan perasaan tidak enak sehingga menghambat komunikasi dan bahkan menimbulkan ketegangan selain itu dapat menimbulkan perpecahan dalam sekolah yang dapat mengganggu iklim kerja sekolah.

Fakta di sekolah berbagai macam persoalan yang sering dijumpai adalah belum ada peningkatan ketepatan waktu dalam mengajar (jam datang dan pulang), hubungan antar warga sekolah kurang begitu dekat dan terkadang terdapat kesalahpahaman dengan berbagai sebab, kurang aktif mengikuti berbagai kegiatan akademik di sekolah seperti upacara bendera, rapat, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), pembimbingan siswa dan kegiatan ekstrakurikuler. Selain itu dalam administrasi akademik, seperti rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), mengupayakan media pembelajaran, mengisi daftar hadir kerja, pengembangan sistem evaluasi belum sepenuhnya dilaksanakan oleh para guru.

Hal ini tentunya menjadi pemicu timbulnya konflik dalam sekolah yang yang kemudian mengembang dan menimbulkan disharmoni relasi sosial, menjadikan suasana kurang kondusif yang akan berujung pada melemahnya semangat kerja dan pada akhirnya iklim kerja sekolah menjadi tidak kondusif. Dengan kata lain konflik yang tidak terselesaikan dapat merusak lingkungan kerja sekaligus orang-orang di dalamnya. Baik dari segi kuantitas ataupun kualitas konflik, tentunya sangat dibutuhkan sebuah manajemen konflik untuk mengurangi dan mengatasi konflik yang muncul. Manajemen konflik ini sendiri dapat dikemas dalam bentuk pelatihan yang dapat diterapkan di sekolah-sekolah sebagai upaya menciptakan iklim kerja sekolah yang nyaman dan kondusif.

Materi dalam pelatihan manajemen konflik dapat menguraikan topik-topik secara spesifik untuk kasus tertentu tetapi lebih mengarah pada refleksi pengalaman yang dilengkapi dengan penjelasan teoritis dan praktis yang lebih menonjolkan kebermanfaatan dan keterpaduan dengan situasi yang dihadapi oleh para pendidik yang terlibat dalam penyelesaian konflik. Materi pelatihan manajemen konflik setidaknya mengandung unsur pemahaman konflik, pengidentifikasian dan penganalisisan konflik, perumusan strategi dan bagaimana pengelolaan konflik itu sendiri.

Pelatihan manajemen konflik sebagai proses yang mengarahkan pada bentuk komunikasi (termasuk tingkah laku) dan bagaimana mereka mempengaruhi kepentingan (interests) dan interpretasi demi tercapainya penyelesaian suatu persoalan yang terjadi. Dalam pelatihan manajemen konflik langkah-langkah yang diambil individu mengarahkan perselisihan ke arah hasil tertentu yang mungkin atau tidak mungkin menghasilkan suatu akhir yakni berupa penyelesaian konflik dan mungkin atau tidak mungkin menghasilkan ketenangan, hal positif, kreatif dan bermufakat.

Pelatihan manajemen konflik di sekolah membantu warga sekolah umumnya dan para pendidik khususnya dalam memahami faktor-faktor apa saja yang menyebabkan timbulnya konflik, baik konflik di dalam diri maupun konflik antar perorangan dan konflik di dalam kelompok dan konflik antar kelompok. Pemahaman faktor-faktor tersebut akan lebih memudahkan tugasnya dalam hal menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi dan menyalurkannya ke arah perkembangan yang positif.

Di sinilah dituntut peran serta warga sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan yang selama ini dirasakan sangat kurang, partisipasi guru dalam pengambilan keputusan sering terabaikan, padahal terjadi atau tidak terjadinya perubahan di sekolah sangat tergantung pada para gurunya. Oleh karena itu guru dan warga sekolah harus memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan program-program sekolah. Guru perlu memahami bahwa apapun yang dilakukan di ruang kelas mempunyai pengaruh, baik positif maupun negatif terhadap motivasi siswa, cara guru menyajikan pelajaran, bagaimana kegiatan belajar dikelola di kelas, cara guru berinteraksi dengan siswa kiranya dilakukan oleh guru secara terencana dengan perbaikan dan perubahan baik dalam metode.

Kita menyadari keberadaan konflik ini tidak dapat dihindarkan dan selalu hadir dalam setiap aktivitas di sekolah, sehingga konflik yang muncul seharusnya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan iklim keterbukaan, mendorong warga sekolah dalam menemukan masalah yang menghambat pencapaian sasaran, menjelaskan pikiran masing-masing pihak yang sedang konflik, evaluasi terhadap program yang telah dilaksanakan dan pada akhirnya dapat mendorong perubahan sekolah, mendorong kreativitas warga sekolah, dan dapat mengurangi ketidakpuasan warga sekolah. Oleh karena itu kita dapat belajar bijak dengan adanya pelatihan manajemen konflik dan endingnya iklim kerja sekolah akan menjadi nyaman dan kondusif. (Email : herikristantoro@gmail.com. Blog : herikristantoro.blogspot.com).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , .

Quo Vadis : Permendikbud RI Nomor 5 Tahun 2015 Wujud Jati Diri dalam Usia Emas


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: