Upaya Pengurangan Resiko Bencana Melalui Pendidikan

7 Maret, 2015 at 12:00 am

Wawan SarudiOleh Wawan Sarudi M.Pd
Guru SMP Negeri 3 Wates Kediri
Indonesia merupakan daerah yang rawan terhadap bencana diantaranya gempa bumi, tsunami, longsor, banjir, gunung meletus, rob atau banjir air laut, kebakaran hutan/lahan. Letak geografis Indonesia yang merupakan negara bersabuk vulkanik dan dikelilingi cincin api yang melingkari bagian selatan dan timur serta terletak pada pertemuan tiga lempeng utama dunia yakni lempeng Australia, Eurasia dan Pasifik. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai Negara yang secara letak rawan terhadap bencana. Hal tersebut mengisyaratkan kepada kita semua bahwa penanggulangan bencana perlu dilaksanakan secara serius agar tidak sampai menimbulkan korban yang sangat besar. Penanggulangan bencana sendiri akan dapat berhasil dengan baik apabila kita semua menyadari risiko bencana yang ada, serta memiliki kemampuan untuk mengantisipasi bencana yang mungkin terjadi atau lebih kita kenal dengan kesiapsiagaan terhadap bencana. Kesiapsiagaan bencana sendiri dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan yang cukup kepada masyarakat mengenai bencana karena dampak bencana dapat diminimalkan secara berarti jika masyarakat mempunyai informasi yang cukup dan mempunyai pengetahuan pencegahan serta ketahanan terhadap bencana.

Sekolah Siaga Bencana

Dalam laman http://www.sigana.web.id/index.php/prb/sekolah-siap-siaga-bencana.html disebutkan bahwa Sekolah Siaga Bencana (SSB) merupakan upaya membangun kesiapsiagaan sekolah terhadap bencana dalam rangka menggugah kesadaran seluruh unsur-unsur dalam bidang pendidikan baik individu maupun kolektif di sekolah dan lingkungan sekolah baik itu sebelum, saat maupun setelah bencana terjadi. Adapun tujuannya adalah Membangun budaya siaga dan budaya aman disekolah dengan mengembangkan jejaring bersama para pemangku kepentingan di bidang penanganan bencana, Meningkatkan kapasitas institusi sekolah dan individu dalam mewujudkan tempat belajar yang lebih aman bagi siswa, guru, anggota komunitas sekolah serta komunitas di sekeliling sekolah, Menyebarluaskan dan mengembangkan pengetahuan kebencanaan ke masyarakat luas melalui jalur pendidikan sekolah. Untuk mewujudkan Sekolah Siaga Bencana tentunya diperlukan komitmen dari Kepala Sekolah dan komunitas sekolah, dukungan dari Dinas Pendidikan dan Pemerintahan diwilayahnya, dukungan dari organisasi terkait pengurangan risiko bencana, melakukan penguatan kapasitas pengetahuan dan keterampilan bagi guru dan siswa sekolah, serta melakukan latihan berkala yang jelas dan terukur.

Mengintegrasikan Pengurangan Resiko Rencana (PRB) ke dalam pendidikan

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pengurangan Risiko Bencana (PRB) adalah upaya untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan akibat satu jenis bencana pada suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat. Pada tahun 2010 Mendiknas kala itu mengeluarkan Surat Edaran Mendiknas Nomor 70a/SE/MPN/2010 yang berisi himbauan kepada para Gubernur, Walikota dan Bupati di seluruh Indonesia untuk menyelenggarakan penanggulangan bencana di sekolah melalui 3 hal yaitu: 1). Pemberdayaan peran kelembagaan dan kemampuan komunitas sekolah, 2). Pengintegrasian PRB ke dalam kurikulum satuan pendidikan formal, baik intra maupun ekstra kurikuler; dan 3). Membangun kemitraan dan jaringan antar pihak untuk mendukung pelaksanaan pengurangan resiko bencana di sekolah.

Pada tahun 2013 Mendikbud yang pada waktu itu dijabat M.Nuh yang dikutip dari http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/2091 juga mengatakan mengenai perlunya memasukkan mitigasi bencana kedalam pendidikan. Materi mitigasi bencana, termasuk ancaman dan risiko bencana, telah dimasukkan dalam Kurikulum 2013. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengatakan, penyampaian materi mitigasi bencana tidak perlu dimasukkan dalam mata pelajaran khusus, tetapi bisa melalui kegiatan ekstrakurikuler, seperti Pramuka.. Kemdikbud telah menyusun materi khusus mengenai kebencanaan, mulai dari pengenalan tanda-tanda bencana alam hingga proses evakuasi. Setiap daerah memiliki karakteristik ancaman bencana yang berbeda, mulai dari gempa, banjir, longsor, hingga letusan gunung api, sehingga materinya dibuat sekolah dan disesuaikan dengan karakteristik ancaman bencana yang dihadapi sesuai karakteristik ancaman bencana yang rawan terjadi di sekolah tersebut. Materi mitigasi bencana untuk sekolah pun sudah menjadi buku dan CD yang disusun Kemdikbud bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Dalam upaya mitigasi bencana tersebut BNPB juga telah mengeluarkan Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 4 Tahun 2012 yang bertujuan Mengidentifikasi lokasi sekolah/madrasah pada prioritas daerah rawan bencana gempa bumi dan tsunami serta Memberikan acuan dalam penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari bencana baik secara struktural dan non-struktural.

Implementasi Pendidikan Pengurangan Resiko Bencana (PRB)

Berkenaan dengan integrasi pengetahuan pengurangan risiko bencana kedalam kurikulum sekolah, dilakukan melalui 2 pilihan cara, yaitu; 1) integrasi kedalam kurikulum yang berjalan, dengan mengintegrasikan substansi PRB kedalam mata pelajaran, muatan lokal dan ekstra kurikuler tertentu, dan 2) membuat kurikulum baru berbasis PRB, didalamnya terdapat mata pelajaran, muatan lokal dan ekstra kurikuler PRB. Namun demikian, melihat beratnya beban kurikulum bagi siswa saat ini, serta masih minimnya kapasitas/kemampuan guru mengenai PRB, maka prioritas pilihan yang lebih ideal adalah: 1) Mengintegrasikan PRB kedalam mata pelajaran dari kurikulum yang berjalan, 2) Mengintegrasikan PRB kedalam muatan lokal dari kurikulum yang berjalan, 3) Mengintegrasikan PRB kedalam kegiatan ekstra kurikuler dari kurikulum yang berjalan, 4) Menyelenggarakan mata pelajaran PRB untuk muatan lokal dibawah kurikulum baru berbasis PRB, dan 5) Membuat kegiatan ekstra kurikuler PRB dibawah kurikulum baru berbasis PRB.

Pengurangan resiko bencana yang diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah, dalam jangka pendek bertujuan untuk membuat peserta didik merasa aman saat terjadi bencana dan dapat menjadi agen perubahan penyebaran pengetahuan terutama bagi keluarga mereka dan masyarakat disekitanrnya. Dalam jangka panjang PRB ini bertujuan mempersiapkan anak-anak sebagai generasi mendatang dengan pengetahuan pencegahan, mitigasi, dan kesiapan terhadap bencana untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang tangguh terhadap bencana. Untuk itulah sekolah selayaknya dapat menjadi tempat yang aman terhadap bencana, sekaligus tempat anak-anak mempelajari pengetahuan tentang penyelamatan diri dalam mengurangi dampak bencana.

Langkah yang bisa dilakukan adalah memasukkan kurikulum pendidikan bencana di sekolah, yang bisa disisipkan ke dalam mata pelajaran yang terkait dan relevan terhadap materi pengurangan resiko bencana, misalnya pelajaran IPA, IPS, Sains, Bahasa Indonesia, Matematika, atau Agama. Oleh karena itu, faktor yang penting dan perlu diperhatikan oleh guru adalah langkah proses pembelajaran yang dikembangkan di kelas dari perencaanan, pelaksanaan, sampai penilaian pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan terkait materi pengurangan resiko bencana. Untuk itu, dibutuhkan guru yang inovatif, kreatif, aktif, menyenangkan dan tangguh. Hingga akhirnya menciptakan peserta didik yang berkarakter dan juga tangguh. Semoga. (Kontak person :085854426615, Email: infokediri@ymail.com)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , .

Unsur Pendidikan Agama Islam Dalam Roman Katak Hendak Jadi Lembu Karya Nur Sutan Iskandar UN Berbasis Komputer


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: