Unsur Pendidikan Agama Islam Dalam Roman Katak Hendak Jadi Lembu Karya Nur Sutan Iskandar

5 Maret, 2015 at 12:05 am

Ro’yatiOleh Dra Ro’yati
Guru Bahasa Indonesia MTsN Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

 

I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Dalam Makalah ini, penulis akan meninjau dari nilai-nilai pendidikan Agama Islam. Adapun yang melatarbelakangi penulisan judul tersebut sebagai berikut:
1. Penulis tertarik pada roman “Katak Hendak Jadi Lembu” karena roman ini merupakan satu di antara dua roman terbaik karya Nur Sutan Iskandar. Sebagaiman dikatakan oleh A. Teeuw (2000,132) bahwa “Katak Hendak Jadi Lembu mengandung segala kebaikan karangan-karangan Iskandar, juga tentang komposisi dan psykologi, mempunyai kebaikan-kebaikan yang menurut perasaan saya membuatnya jadi karangan yang terbagus”.
2. Pada Kata Pengantar Roman “Katak Hendak Jadi Lembu” ini dinyatakan sebagai berikut: “Katak Hendak Jadi Lembu merupakan salah satu sastra yang menarik, yang tarbit pertama kali pada tahun 1935”
3. Dilihat dari segi isi, roman “Katak Hendak Jadi Lembu” mengandung ajaran moral yang bermanfaat bagi pendidikan seperti pendidikan agama, budi pekerti, pendidikan keluarga.

B. Rumusan Masalah
Bentuk karya sastra ada dua macam yaitu prosa dan puisi. Karya sastra yang berbentuk prosa meliputi cerpen, novel, dan roman. Adapun karya sastra yang berbentuk puisi di antaranya Distikon, Terzina, Quatrin, Sekstet, dan Septime.

Hal yang membedakan antara cerpen, novel dan roman terletak pada luas atau sempitnya permasalahan yang ditampilkan di dalamnya. Dalam sebuah roman, permasalahan yang ditampilkan lebih luas karena meliputi seluruh persoalan hidup sang tokoh cerita dari lahir hingga meninggal. Dalam novel, permasalahan hidup sang tokoh cerita agak dipersempit, bisa dua pertiga atau hanya setengah dari kehidupannya. Kemudian dalam cerpen, persoalan lebih dipersempit lagi, bisa sepertiga atau hanya merupakan fragmen-fragmen kehidupan sang tokoh cerita.

Dalam Makalah ini penulis membahas salah satu karya yang berbentuk prosa yaitu roman. Agar masalah yang dibahas tidak terlalu luas, penulis membatasi masalah itu hanya dari segi unsur pendidikan agama Islam. Dari segi pendidikan agama Islam, penulis akan menguraikan tentang nilai-nilai yang terdapat dalam roman “Katak Hendak Jadi Lembu Karya Nur Sutan Iskandar”, apakah faktor pendidikan lebih berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian seseorang ataukah faktor lain yang lebih dominan.

C. Metode Pembahasan
Setelah membaca roman “Katak Hendak Jadi Lembu Karya Nur Sutan Iskandar’, kemudian penulis mengadakan penelitian kepustakaan. Dalam hal ini penulis mencari dan menghimpun bahan-bahan yang berhubungan dengan unsur pendidikan agama Islam.

D. Sistematika Penyusunan
Untuk memudahkan pembahasan, makalah ini dibagi dalam tiga bab.

Bab pertama, Pendahuluan. Pada pendahuluan ini dikemukakan tentang latar belakang, rumusan masalah, metode pembahasan dan sistematika penyusunan.

Bab kedua, unsur pendidikan agama Islam dalam roman “Katak Hendak Jadi Lembu”. Pada bab ini dikemukakan pengertian pendidikan, pengertian pendidikan agama Islam dan nilai-nilai pendidikan agama Islam yang terdapat dalam roman “Katak Hendak Jadi Lembu”.

Bab ketiga, kesimpulan dan saran. Pada bab ini dikemukakan simpulan dari uraian sebelumnya dan saran-saran yang bermanfaat bagi kemajuan pendidikan.

II. Unsur Pendidikan Agama Islam Dalam Roman
Dunia pendidikan di Indonesia saat ini tengah menghadapi problema yang cukup berat dan kompleks(Abuddin, 2003;226). Masyarakat saat ini sedang mengalami suatu revolusi kehidupan yang tidak saja melibatkan masalah material, akan tetapi juga masalah-masalah nilai dan moralitas yang selama ini mendasari harapan-harapan dan tujuan-tujuan hidup umat manusia. Hidup/perilaku manusia ditentukan oleh lingkungannya dan tidak mempunyai tanggung jawab pribadi, maka ia akan berbuat hanya berdasarkan apa yang dicondisioning untuk berbuat.

A. Pengertian Pendidikan
Pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur, yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah. Keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan oleh keluarga dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan.(Abuddin, 2003;232).

Pendidikan adalah modifikasi prilaku yang dicapai melalui condisioning yang diberi penguatan, yang dikukuhkan lewat alat teknologis. Materi dan metodologinya ditentukan oleh teknologi penunjangnya, (Muzayin,2000:60). Sedangkan Djamaluddin (2000:36) mengatakan bahwa Pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia dan berlangsung sepanjang hayat, yang dilaksanakan di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Karena pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Pendidikan juga merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui proses kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.

Pendidikan memberikan kemungkinan seseorang memiliki kemampuan berpikir. Dengan berpikir yang baik, orang bias merumuskan pokok-pokok pikiran agar bisa diaktualisasikan. Aktualisasi berarti pula komunikasi dan memahami kerangka pikir orang lain.(Suhadi,2003:58).

Dengan demikian penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa pendidikan adalah proses budaya untuk meningkatkan kemampuan berpikir seseorang dan menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah.

B. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama biasanya diartikan pendidikan yang materi bahasanya berkaitan dengan keimanan, ketakwaan, akhlak dan ibadah kepada Tuhan.. Dengan demikian pendidikan agama berkaitan dengan pembinaan sikap mental spiritual yang selanjutnya dapat mendasari tingkah laku manusia dalam berbagai bidang kehidupan. Pendidikan agama tidak terlepas dari upaya menanamkan nilai-nilai serta unsur agama pada jiwa seseorang.(Abuddin, 2003:195).

Setelah penulis mengetahui pengertian pendidikan, pendidikan agama maka perlu diketahui pengertian pendidikan agama Islam. Menurut Djamaludin,(2000:37) Pendidikan agama Islam merupakan bagian dari pendidikan Islam, di mana tujuan utamanya ialah membina dan mendasari kehidupan anak didik dengan nilai-nilai agama dan sekaligus mengajarkan ilmu agama Islam sehingga ia mampu mengamalkan syariat Islam secara benar sesuai pengetahuan agama.

C. Hal-Hal yang Berhubungan dengan Pendidikan Agama Islam:
1. Dasar Pendidikan Yang Islami
Dasar pendidikan Islam (Abuddin, 2003:182) adalah taukhid. Taukhid merupakan hal yang amat fundamental dan mendasari segala aspek kehidupan para penganutnya, tak terkecualinya aspek pendidikan.

2. Peran Pendidikan yang Islami Menghadapi Tantangan Masa Depan.
Peran Pendidikan yang Islami (Abuddin,2003:187) adalah pendidikan yang mendasarkan konsepsinya pada ajaran tauhid. Dengan dasar ini maka orientasi pendidikan Islam diarahkan pada upaya mensucikan diri dan memberikan penerangan jiwa , sehingga setiap diri manusia mampu meningkatkan dirinya dari tingkatan iman ke tingkat ihsan yang melandasi seluruh bentuk kerja kemanusiaannya(amal saleh).

Pendidikan yang Islami dalam hal ini sangat berperan dalam rangka upaya mengefektifkan aplikasi nilai-nilai agama yang dapat menimbulkan transformasi nilai dan pengetahuan secara utuh kepada manusia, masyarakat dan dunia pada umumnya. Pendidikan yang Islami akan tetap diperlukan untuk mengatasi berbagai masalah kemanusiaan yang dihadapi pada masyarakat modern saat ini dan di masa mendatang.

3. Faktor-Faktor Penyebab Timbulnya prilaku Menyimpang (Abuddin, 2003: 191)
a) Longgarnya pegangan terhadap agama. Dengan longgarnya pegangan seseorang pada ajaran agama, maka hilanglah kekuatan pengontrol yang ada di dalam dirinya. Dengan demikian satu-satunya alat pengawas dan pengatur moral yang dimilikinya adalah masyarakat dengan hokum dan peraturannya.

b) Kurang efektifnya pembinaan moral yang dilakukan oleh rumah tangga, sekolah, maupun masyarakat. Pembinaan moral di rumah tangga misalnya harus dilakukan dari sejak anak masih kecil sesuai dengan kemampuan dan umurnya. Zakiyah Darajat dalam Abuddin(2001,192) mengatakan bahwa Imoral bukanlah suatu pelajaran yang dapat dicapai dengan mempelajari saja, tanpa membiasakan hidup bermoral dari sejak kecil. Moral itu tumbuh dari tindakan kepada pengertian. Masyarakat juga harus mengambil peranan dalam pembinaan moral. Masyarakat yang lebih rusak perlu segera diperbaiki dan dimulai dari diri sendiri, keluarga dan orang-orang yang terdekat dengan kita.

c) Derasnya arus budaya materialistis, hedonistis dan sekularistis.

d) Belum adanya kemauan yang sungguh-sungguh dari pemerintah

Dengan demikian, penulis dapat menyimpulkan bahwa pembinaan moral erat hubungannya dengan pendidikan agama. Oleh karena pendidikan agama perlu ditingkatkan kualitasnya dengan melibatkan unsur kedua orang tua/rumah tangga, sekolah dan masyarakat serta dengan mempergunakan berbagai cara yang efektif . Berbagai situasi dan kondisi lingkungan harus dijauhkan dari hal-hal yang dapat merusak moral.

4. Akhlak Terpuji atau Akhlak Karimah (Ibrahim, 2009:69)
a) Pengertian Akhlak Terpuji atau Akhlak Karimah.
Akhlak Karimah ialah segala sikap, ucapan, dan perbuatan yang baik sesuai ajaran Islam. Kendatipun manusia menilai baik, namun apabila tidak sesuai dengan ajaran Islam maka hal itu tetap tidak baik.

b) Pentingnya Akhlak Terpuji atau Akhlak Karimah.
Akhlak Karimah sangat penting dalam kehidupan manusia. Di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, sering kita jumpai orang yang secara lahiriyah tidak gagah, tidak kaya, tidak pula pandai namun dihormati orang lain secara tulus dan sebaliknya. Semua itu ditentukan oleh akhlaknya masing-masing.

c) Perintah untuk Memiliki Akhlak Karimah.
Setiap muslimin dan muslimat wajib memiliki akhlak karimah. Tuntunan akhlak karimah adalah ajaran Islam itu sendiri.Antara lain:

1) Perintah untuk hidup tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, terdapat dalam (Al- Qur’an surat al-Ma’idah/5: 2)
2) Perintah untuk berbuat Ihsan/berbuat baik kepada Kedua Orang Tua, terdapat dalam (Al- Qur’an surat Luqman/31:14)
3) Perintah untuk berbuat adil dan membantu kerabat serta larangan berbuat keji, mungkar dan permusuhan. terdapat dalam (Al- Qur’an surat An-Nahl/16:90)
5. Sifat-Sifat Terpuji Bagi Diri Sendiri dan Orang Lain.
a) Sifat-sifat terpuji bagi diri sendiri (Masan,2003:78) antara lain: sabar, rajin, teliti, hemat, ikhlas.
b) Sifat-sifat terpuji terhadap orang lain (Masan,2003:88) antara lain: jujur, pemaaf, pemurah,menempati janji.
6. Sifat-Sifat Tercela Bagi Diri Sendiri dan Orang Lain
a) Sifat-sifat tercela bagi diri sendiri (Masan, 2003:160) antara lain: Ujub dan takabur, riya dan sum’ah, malas,
b) Sifat-sifat tercela terhadap orang lain (Masan, 2003:169) antara lain: dendam, iri hati, menipu, fitnah, bohong, khianat, buruk sangka, bakhil.

Setelah penulis mengetahui pengertian pendidikan, pendidikan agama, pendidikan agama Islam dan Hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan agama Islam maka penulis akan menghubungkan dengan isi roman Katak Hendak Jadi Lembu.

Tokoh utama, Suria dan tokoh tambahan, Zubaidah adalah pasangan suami istri. Masing-masing memiliki sikap dan tingkah laku yang bertolak belakang. Dalam diri Suria sikap dan tingkah laku yang semuanya menunjukan sifat yang tercela sedangkan Zubaidah memiliki sikap yang terpuji. Oleh karena itu, mereka sering bertengkar.

Suria sebagai pegawai mantri kabupaten di Sumedang. Ia mendapat gaji tidak begitu besar. Akan tetapi sikap hidupnya menyamai orang-orang yang berpangkat tinggi, baik dalam cara berpakaian, cara bicara, pergaulannya maupun dalam pengeluaran kebutuhan hidupnya. Dengan demikian kehidupan keluarganya selalu kekurangan. Selain itu, Suria juga memiliki sikap angkuh, sombong, tinggi hati dan suka mementingkan diri sendiri. Karena sikap dan tingkah laku Suria sehingga istri dan anak-anaknya menderita. Hal ini dapat dipahami melalui kutipan di bawah ini:

Rupa senang, Nampak dari luar sentosa, selesai, tetapi di dalam kusut sebagai benang dilanda ayam. Bagaimana hidup akan senang, kalau tiada berkecukupan, kalau baying-bayang yang tiada sepanjang badan, kalau belanja tiada diukur dengan pendapatan? Gaji Suria kecil, pintu rejeki kami sangat sempit. Aku tahu dan Suria pun lebih tahu lagi! Tetapi ia……priayi, Amtenar BB, mesti hidup lebih daripada orang kebanyakan! Lonjaknya, gayanya, jika akan lebih mesti sama dengan amtenar lain-lain! Ia harus mulia di mata orang! Akan mencapai ketegakan serupa itu akan memelihara derajat jangan sampai turun, walau pasak lebih besar daripada tiang sekalipun, ia tiada peduli apa-apa rupanya. Aku yang memegang rumah tangga, yang selalu pasti mengetahui peri keadaan dalam rumah sampai ke sudut-sudut bilik dan ke bilik-bilik tungku, aku senantiasa menanggungkan sekalian akibat perbuatannya. Aku selalu berhadapan dengan orang warung, aku yang bertentangan dengan si penagih utang! (Iskandar, 1995:23).

Pada bagian lain juga disebutkan sebagai berikut:
“anakku di mana ibumu yang akan membelai-belai kedua sebagai selama ini dengan kasih sayang ? Karena aku maka kamu wahai anak-anakku, jadi piatu bahkan yatim juga” (Iskandar, 1995:171).

Sebagai seorang ibu yang telah mendapat pendidikan agama sejak kecil, Zubaidah mengetahui tugas dan kewajibannya. Di antaranya ia taat menjalankan agama seperti shalat dan setia kepada suaminya, meskipun tingkah laku suaminya selalu menyakitkan hati Zubaidah. Untuk memperjelas uraian di atas, hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini: ”Terbang semangat Zubaidah, ibu yang berhati lemah lembut itu, demi terpikir olehnya nasib anak-anaknya dalam masa yang akan datang”. (Iskandar, 1995 :24)

Pada bagian lain juga disebutkan sebagai berikut:
Memang, ia mesti melepaskan diri dari kesengsaraan. Kalau hendak selamat… akan tetapi tiba-tiba ia tepekur. “Selamat, seorang diri sedang suamiku…”Tidak, sebentar itu juga pikiran yang demikian mendapat bantahan yang sekeras-kerasnya dari pihak rasa peri kemanusiaannya. Sebagai seorang perempuan yang budiman dengan segera ia tunduk kepada rasa kewajibannya, yang timbul di dalam kalbunya. Ia istri orang, ia terikat kepada Suria dengan tali nikah. Selagi pertalian itu belum terputus, harus dimuliakannya. Kewajiban istri kepada suami wajib dijalankannya dengan tulus dan ikhlas. Tersungkur sama-sama makan pasir, terlentang sama-sama terminum air. Elok buruk mesti ditanggung berdua karena begitu barangkali suratan awalnya. (Iskandar, 1995:118).

Setelah kita lihat contoh-contoh di atas, penulis akan memperjelas lagi tentang pelaku utama Suria. Suria adalah anak tunggal dari seorang petani yang kaya. Dia memiliki sifat kemanja-manjaan, pesolek, dan tinggi hati. Setelah Suria lulus sekolah atas permintaan bapaknya, dia bekerja di kantor agar hidupnya dihormati dan disegani masyarakat. Cita-cita Suria pun demikian sehingga Suria semakin sombong, boros dan gila hormat. Sikap semacam itu dibawanya hingga berumah tanggadan memiliki tiga orang anak. Dengan demikian ia sangat menderita hingga menjelang ajalnya.

Lain halnya latar belakang tokoh tambahan, Zubaidah, digambarkan sebagai berikut:Haji Hasbullah digambarkan sebagai seorang haji yang kaya dan alim di Tasik Malaya. Dia mempunyai seorang anak gadis bernama Zubaidah.

Sebagai orang tua yang alim, ia mengetahui tugas dan kewajibannya, yaitu mendidik anaknya agar kelak menjadi seorang ibu yang memiliki kepribadian baik dan terpuji. Haji Hasbullah mendidik Zubaidah dengan sungguh-sungguh, terutama dalam hal adab sopan santun dan masalah agama. Hal demikian terlihat dalam kutipan berikut ini: Zubaidah, setelah tamat belajar di sekolah rendah, didiknya di rumah dengan budi bahasa yang halus, baik tentang perkara sopan santun, baik pun tentang perkara agama. Sebagai menatang minyak penuh ia berlaku kepada Zubaidah itu. Seboleh-bolehnya anaknya yang hanya seorang itu dapat hendaknya memelihara namanya yang baik itu. Demikian cita-citanya. (Iskandar, 1995:27).

Bila dibaca dan dipahami kutipan di atas maka terlihat dengan jelas adanya jalur pendidikan luar sekolah yaitu keluarga yang terdapat di dalam rumah tangga Haji Hasbullah. Keadaan rumah tangga yang seperti itulah yang harus ada dalam setiap keluarga yang baik. Keluarga yang demikian pantas dijadikan teladan.

Sikap dan perbuatan Haji Hasbullah tersebut diikuti pula oleh anaknya, Zubaidah. Zubaidah pada waktu kecil telah mendapat pendidikan dengan baik dari pendidikan sekolah dan dari orang tuanya maka setelah berkeluarga, ia pun menjadi orang tua yang baik pula. Zubaidah dalam roman Katak Hendak Jadi Lembu ini digambarkan sebagai seorang ibu yang memiliki tiga orang anak. Masing-masing bernama Abdul halim, saleh, dan aminah. Salah satu di antara mereka hidup bersama kakeknya, yaitu abdul halim. Sedangkan dua orang lainnya hidup bersama ibunya, Zubaidah.

Hubungan Zubaidah dengan anak-anaknya di rumah sangat akrab. Hal demikian karena Zubaidah senantiasa bersikap manis dan lemah lembut. Zubaidah mendidik dan mengajari mereka dengan senyum simpul dan sopan. Apabila anak-anaknya berbuat salah, Zubaidah selalu menegur atau mengingatkannya dengan dengan cara yang tidak menyinggung perasaannya. Dengan demikian mereka menjadi penurut dan patuh pada perintah ibunya. Hal ini dapat dipahami melalui kutipan berikut:

Berangkat, ibu,”Kata kedua anak itu kepada ibunya yang berdiri di beranda muka memperhatikan mereka itu berjalan ke luar pekarangan. “Baik-baaik di jalan, anak, jaangan berlari. Enah…!” demikian kata Zubaidah dengan kasih sayang yang tergambar terang dalam seri dan caya mukanya. (Iskandar, 1995:18-19)

Pada bagian lain juga disebutkan sebagai berikut:
Zubaidah pun menjulurkan kepalanya ke hadapan dan berseru dengan lemah lembut dan manis, “ Aleh, – sudah gelap, anak, bawa adikmu masuk! Enah, cuci kaki dan tanganmu, masuklah. Ingat baik-baik, apa kerjamu lagi! “O, ya, mengapal, “sahut kedua anak yang dipanggil itu sekaligus dan sebentar itu jua mereka itu pun berlari-lari ke belakang dengan riang……ya, sesudah sembahyang (Iskandar, 1995:66)

Dari kutipan-kutipan di atas, dapat kita pahami bahwa sikap dan perbuatan Zubaidah yang demikian menunjukan adanya hubungan yang baik antar orang tua (ibu) dengan anak-anaknya. Bilamana hal ini dilakukan dalam setiap keluarga, niscaya akan menumbuhkan situasi rumah tangga yang harmonis dan bahagia.
Demikianlah unsur pendidikan agama Islam yang terdapat dalam kupasan roman”Katak Hendak Jadi Lembu” kaya Nur Sutan Iskandar.

III. Kesimpulan Dan Saran
A. Kesimpulan

1. Melalui roman ”Katak Hendak Jadi Lembu” ini pengarang dengan tegas mengkritik sikap hidup kaum priayi (Suria, tokoh utama) yang selalu ingin dihormati dan bersikap boros, sombong dan menganggap rendah orang lain serta egois. Pengarang menghimbau kepada para pembaca agar tidak menirunya.

2. Tema dalam roman ”Katak Hendak Jadi Lembu” ini adalah pertentangan batin atau konflik jiwa. Oleh karena di dalamnya menggambarkan perangai , alam jiwa yang selalu bertentangan. Dalam roman ini menitikberatkan bahwa pendidikan luar sekolah/ keluarga yaitu pendidikan agama sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian seseorang.

3. Bahasa yang digunakan Nur Sutan Iskandar sangat sederhana dan diungkapkan dengan kalimat yang menarik. Dengan demikian mudah dipahami oleh pembaca.

B. Saran

1. Kepada para sastrawan agar terus meningkatkan kualitas karyanya, terutama hal-hal yang mengandung unsur pendidikan. Dengan demikian para pembaca secara sadar akan mendapat pelajaran yang dapat diteladani dari karya sastra itu.

2. Kepada para pendidik, terutama yang mengajar Bahasa dan sastra Indonesia agar dapat memberikan pengetahuan apresiasi baik apresiasi sastra maupun apresiasi dari segi pendidikan agama Islam yang cukup..Dengan demikian anak didik akan mampu memahami karya sastra yang bernilai tinggi dan dapat menghayati isinya dengan baik. Dengan harapan anak didik dapat mengambil contoh dari perbuatan-perbuatan yang baik, yang terkandung di dalam karya sastra itu. (Telepon kantor:  : (0283) 491124. Email : royati.aski@gmail.com)

DAFTAR PUSTAKA

  • Alfat, Masan, Drs. H. dkk., 2003, Aqidah Akhlak MTs Kelas 8, Semarang: karya Toha Putra.
  • Arifin, Muzayin, Prof. H.,M. Ed., 2000, Pendidikan Islam Dalam Arus Dinamika masyarakat, Jakarta: Golden Terayon Press.
  • Djamaluddin, Drs. H. dan Aly Abdullah Drs., 2000, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Bandung: CV. Pustaka Setia, Cetakan ke-3.
  • Ibrahim,T. dan Darsono, H., 2009, Membangun Akidah dan Akhlak Untuk Kelas IX MTs, Solo: Tiga serangkai Pustaka Mandiri.
  • Iskandar, Nur Sutan, 1995, Katak Hendak Jadi Lembu, Jakarta: Balai Pustaka
  • Nata, Abuddin, Prof. Dr. H.M.A., 2001, Managemen Pendidikan, Jakarta: Prenada MediaPoerwadarminta, W.J.S., 2005, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka
  • Suhadi, 2003, Pemberdayaan Pendidikan Masyarakat, Jakarta:Asatrus Cetakan 1

Entry filed under: Artikel Guru Madrasah Tsanawiyah (MTs). Tags: , .

Historisitas Roemah Martha Tilaar Upaya Pengurangan Resiko Bencana Melalui Pendidikan


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: