Historisitas Roemah Martha Tilaar

5 Maret, 2015 at 12:00 am

Oleh Hendra Kurniawan MPd
Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, kelahiran Gombong

Roemah Martha Tilaar (RMT) di Jalan Sempor Lama 28 Wonokriyo Gombong Kebumen adalah rumah pengusaha besar kosmetik itu setidak-tidaknya hingga berusia 10 tahun. Maka ketika ia meresmikan rumah tersebut pada 6 Desember 2014, hadirlah sisi emosional. Momentum itu seperti kembali membangkitkan romantika masa kecilnya, sekaligus mengingatkan kehangatan kota kecamatan itu.

Gombong merupakan kecamatan di Kabupaten Kebumen yang menyimpan potensi besar, termasuk dalam bidang budaya dan pariwisata. Masyarakat kecamatan itu sangat plural, baik agama maupun suku. Ini membuat budaya yang berkembang juga beragam dan tak menutup terjadinya akulturasi.

Budaya memang meniadakan sekat. Tak hanya seni budaya dan pariwisata, Roemah Martha Tilaar dapat berperan dalam upaya mengenalkan sejarah Gombong, kecamatan itu, kepada masyarakat. Studi mengenai sejarah lokal sangat terkait dengan aspek tradisi kesejarahan yang tumbuh dari kebutuhan masyarakat. Sejarawan Sartono Kartodirdjo berpendapat sejarah berfungsi untuk kembali menghidupkan masa lampau.

Keterciptaan suasana kesejarahan (historisitas) dalam pikiran orang, membentuk perasaan kesejarahan (historical sense) dan kesadaran sejarah (historical consciousness). Martha Tilaar bersama Wulan Tilaar, putrinya, yang mengetuai Yayasan Warisan Budaya Gombong, menangkap hal ini dengan baik.

Untuk itu, kehadiran Roemah Martha Tilaar diharapkan makin mendorong tumbuhnya perasaan kesejarahan dan kesadaran sejarah dalam diri masyarakat Gombong, khususnya mengenai sejarah lokalnya. Gombong memiliki peran sejarah tersendiri yang mendukung sejarah nasional. Dalam Perang Jawa (1825-1830), beberapa pengikut Pangeran Diponegoro berjuang melawan Belanda sampai di Gombong.

Kita bisa menyebut Kiai Gajahnguling, Kertopati, dan Kiai Giyombong yang juga menjabat bekel di Dukuh Giyombong (Gombong). Demikian pula pada 1948, sewaktu Agresi Militer II Belanda, Gombong turut memegang peran penting sebagai tapal batas daerah kantong, tepatnya di Sungai Kemit.

Keberadaan beberapa bangunan kuno di Gombong bisa menjadi saksi sejarah. Ada beberapa titik kawasan dan bangunan yang memberikan ciri kejayaan pada masa lalu. Benteng Van Der Wijck lengkap dengan tangsi militer dan rumah dinas tentara Belanda di Sedayu.

Kompleks pemakaman Belanda (kerkhoff) di Semanding. Rumah Sakit Djawatan Kesehatan Tentara (DKT) hingga Gereja Santo Mikael. Demikian pula kawasan bangunan bergaya Indis ataupun yang bercampur dengan arsitektur Tionghoa di Jalan Sempor Lama, termasuk Roemah Martha Tilaar.

Wadah Budaya
Kawasan Stasiun Gombong dan bangunan- bangunan kuno di sekitarnya yang pernah menjadi markas tentara NICA pada masa Agresi Militer Belanda. Tak ketinggalan Kelenteng Hok Tek Bio yang sarat budaya. Pemkan bisa menetapkan kawasan dan bangunan bernilai sejarah dan budaya itu sebagaicagar budaya sekaligus situs sejarah.

Bupati Kebumen Buyar Winarso, saat peresmian berharap Roemah Martha Tilaar dapat menjadi wadah budaya dan inspirasi bagi masyarakat Gombong. Untuk itulah pemerintah dan masyarakat perlu didorong turut mencintai dengan melu handarbeni kekayaan sejarah dan budaya di kota Gombong. Kehadiran Roemah Martha Tilaar dengan program-programnya dapat menjadi pioner bagi pelestarian aset budaya dan situs sejarah di Gombong.

Diharapkan upaya ini akan berbuah manis dengan kebangkitan potensi budaya dan sejarah lokal di Gombong yang sampai sekarang seakan-akan mati suri. Tentu butuh pula kesadaran masyarakat dan sinergi yang baik dengan pemda.

Apabila perlindungan terhadap cagar budaya dan situs sejarah terwujud dan dikelola dengan baik, niscaya Gombong makin memantapkan diri sebagai tempat tujuan pariwisata budaya dan sejarah yang secara otomatis akan menggerakkan sektor ekonomi masyarakat. (Sumber: Suara Merdeka, 5 Maret 2015).

Entry filed under: Artikel Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tags: , .

Sekolah dan Listrik Mengusik Nurani Unsur Pendidikan Agama Islam Dalam Roman Katak Hendak Jadi Lembu Karya Nur Sutan Iskandar


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: