Sekolah dan Listrik Mengusik Nurani

27 Februari, 2015 at 12:24 am

Oleh S Djatmiko Hadi
Dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang

ILMU adalah penerang hati, dan ilmu bisa ditimba di sekolah. Listrik adalah penerang rumah untuk belajar menimba ilmu.

Bila sekolah tak ada, dan listrik pun tak menyala, bagaimana ilmu bisa didapat? Inilah pertanyaan yang membuat nurani kita terusik. Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (16/2/15) melansir data bahwa berdasarkan hasil pendataan potensi desa yang dilakukan tiga kali dalam sepuluh tahun terakhir, 10.985 desa belum memiliki sekolah dasar (SD), termasuk madrasah ibtidaiyah (MI), atau mencapai 13,37% dari total 82.190 desa se-Indonesia.

Dari 10.985 desa yang tidak memiliki SD tersebut, 2.438 desa atau kelurahan di antaranya memiliki jarak tempuh sedikitnya tiga kilometer (km) ke SD terdekat, sedangkan 86,63% desa lainnya sudah memiliki sarana SD.

Untuk sarana pendidikan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), termasuk madrasah tsanawiyah (MTs), sudah ada di 6.799 kecamatan, atau mencapai 96,11% dari seluruh kecamatan di Indonesia. Adapun 275 kecamatan lainnya atau 3,89% tidak memiliki sarana pendidikan SLTP.

Dari 275 kecamatan yang belum memiliki sarana pendidikan SLTP tersebut, 66,91% atau 184 kecamatan, mempunyai jarak tempuh ke SLTP terdekat lebih dari 6 km. Untuk sarana pendidikan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA), termasuk madrasah aliyah (MA), terdapat 816 kecamatan atau 11,54% yang belum memiliki sarana pendidikan tersebut, dan 508 kecamatan di antaranya mempiliki jarak tempuh ke SLTAterdekat lebih dari 6 km.

Di sisi lain, data Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, ada sekitar 15,9% atau 10 juta rumah tangga yang belum teraliri listrik di seluruh Indonesia, dan 84,12% rumah tangga lainnya sudah menikmati listrik hingga akhir 2014.

Angka ini turun dibandingkan dengan tahun 2013 yang mencapai 19 juta rumah tangga. Dua fakta itu menjadi tantangan tersendiri bagi Mendikbud Anies Baswedan dan Menteri ESDM Sudirman Said. Keduanya harus mendayagunakan anggaran yang tersedia bagi pembangunan gedunggedung sekolah baru, dan elektrifikasi serta pembangunan pembangkit-pembangkit listrik baru.

Alokasi anggaran pendidikan dalam APBN-P 2015 yang disahkan DPR pada Jumat (13/2/2015) mencapai Rp408,5 triliun atau 20,59% dari total belanja negara, yang dianggarkan melalui belanja pemerintah pusat Rp 154,3 triliun serta melalui transfer ke daerah dan dana desa Rp 254,1 triliun.

Alokasi anggaran pendidikan tersebut memiliki sejumlah sasaran, yakni (1) meningkatnya taraf pendidikan penduduk; (2) meningkatnya rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun ke atas; (3) meningkatnya angka melek aksara penduduk pada kelompok usia 15 tahun ke atas; (4) meningkatnya angka partisipasi murni (APM) SD/MI dan APM SMP/MTs.

Selain itu; (5) meningkatnya angka partisipasi kasar (APK) SMA/SMK/MA/Paket C dan APK Perguruan Tinggi (usia 19-23 tahun); (6) meningkatnya kualitas dan relevansi pendidikan; dan (7) meningkatnya kualifikasi dan kompetensi guru, dosen, dan tenaga kependidikan.

Sementara itu, total kapasitas terpasang pembangkit listrik mencapai 53,352 megawatt (MW), terdiri atas PLN 37.243 MW, pengembang listrik swasta (independent power producer/IPP) 10.798 MW, PPU 2.634 MWdan izin operasi non-BBM 2.677 MW.
Bank Asing

Dalam lima tahun ke depan, PLN mendapat tugas membangun 10.000 MW dari total proyek pembangkit listrik 35.000 MW. Dana yang dibutuhkan mencapai Rp 120 triliun. Saat ini, PLN baru mengantongi dana Rp 50 triliun, dan Badan Anggaran DPR pada 12 Februari 2015 menyetujui Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk PLN sebesar Rp 5 triliun.

Tetapi PLN sudah mendapatkan kreditur lima bank asing yang ingin meminjamkan dana untuk proyek listrik tersebut, yakni World Bank, Asian Development Bank (ADB), Japan International Cooperation Agency (JICA), Agence Francaise de Development (AFD), dan Kreditanstalt fur Wiederaufbau (KfW). Untuk proyek pembangkit 10.000 MW itu, PLN akan lebih banyak membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). PLN akan membangun 234 proyek pembangkit.

Di Sumatera 46 pembangkit, dan lahan untuk 28 pembangkit di antaranya sudah siap dengan kapasitas 4,25 gigawatt (GW) atau setara 4.250 MW. Di Jawa ada 21 pembangkit, dan 14 pembangkit di antaranya sudah memiliki lahan berkapasitas 8,38 GW. Di Bali akan dibangun kapasitas 200 MW, Nusa Tenggara 828,9 MW, Kalimantan 1,8 GW, Sulawesi 2,35 GW, Maluku 308,8 MW, dan Papua 292,10 MW.

Dengan kata lain, dengan penambahan pembangkit 7.000 MW-8.000 MW yang saat ini sedang berlangsung, PLN akan membangun sedikitnya 18.000 MW dalam lima tahun ke depan. Sebelum mendapat tugas membangun 10.000 MW, PLN tengah mengerjakan pembangkit dengan kapasitas 7.000 MW-8.000 MW. Publik berharap rencana tersebut bisa terwujud. (Sumber : Suara Merdeka, 27 Februari 2015)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

UN Siswa Berkebutuhan Khusus Historisitas Roemah Martha Tilaar


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: