UN Siswa Berkebutuhan Khusus

26 Februari, 2015 at 12:22 am

Oleh Ade Tuti Turistiati
Lulusan S-2 Sydney University, Australia

Ujian Nasional (UN) sudah di ambang pintu, sekitar April dan Mei 2015. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah memutuskan bahwa UN tidak lagi berfungsi sebagai penentu kelulusan. Namun, siswa atau malahan orang tua dan guru sudah memulai persiapan menyambut UN.

Sekolah-sekolah telah menyelenggarakan try out UN. Demikian juga lembaga-lembaga bimbingan belajar. Tempat kursus mulai dibanjiri murid kelas 6, 9, dan 12. Para murid mengikuti kelas khusus persiapan UN, baik biasa ramai-ramai maupun privat.

Bagaimana dengan orang tua murid berkebutuhan khusus di sekolah reguler (sekolah inklusif), terutama yang belum mengetahui adanya alternatif UN inklusif? Mereka cemas anaknya kelas 6, 9, atau 12 mengikuti UN reguler dengan tingkat kesulitan soal yang sering kali jauh di atas kemampuan. Atau mengikuti ujian bersama siswa SLB (Sekolah Luar Biasa).

Siswa berkebutuhan khusus mengalami keterbatasan atau ketidakmampuan secara fisik, psikis, atau sosial seperti autisme, down syndrome, kesulitan belajar, dan sebagainya. Interaksi anak berkebutuhan khusus dengan lingkungan relatif terbatas atau bahkan tidak mampu.

Dinas Pendidikan Jawa Barat berdasarkan Permendiknas No 70 tahun 2009 mengizinkan sekolah penyelenggara pendidikan inklusif untuk menguji kemampuan belajar siswa berkebutuhan khusus dengan alat tes dimodifikasi. Tes tersebut dinamakan UN inklusif dan dilaksanakan bersamaan dengan penyelenggaraan UN siswa regular.

UN inklusif kini sudah banyak diikuti penyelenggara pendidikan tidak hanya di Jawa Barat, tapi juga di Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Namun, sangat disayangkan UN inklusif baru dapat diikuti sekolah-sekolah di Jawa. Sosialisasi penyelenggaraan UN inklusif belum menjangkau sekolah-sekolah luar Jawa.

Di Jawa Barat UN inklusif diselanggarakan sejak tahun 2006/2007. Pertama kali soal UN inklusif dibuat Dinas Pendidikan Provinsi untuk siswa tuna grahita. Hanya ada satu tipe soal untuk beragam siswa berkebutuhan khusus. Hal ini menimbulkan concerns para pendidik dan orangtua karena dianggap terlalu mudah bagi sebagian kecil murid. Di sisi lain terlalu sulit bagi kebanyakan siswa berkebutuhan khusus. Kemudian terjadi pembaruan terutama terkait pembuatan soal, penyelenggaraan, dan validitas ijazah.

UN inklusif adalah kegiatan pengukuran dan penilaian pencapaian kompetensi lulusan secara fleksibel sesuai dengan materi yang dipelajari murid berkebutuhan khusus yang tercantum dalam rencana pendidikan individu (RPI) pada mata pelajaran yang diujikan. Dengan kata lain, materi UN inkluif disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik siswa berkebutuhan khusus.

Soal-soal UN inklusif dibuat guru yang menangani anak berkebutuhan khusus. Materi UN inklusif tersebut divalidasi Dinas Pendidikan Provinsi melalui gugus Pendidikan Khusus Pendidikan Layanan Khusus atau PK-PLK Kabupaten/Kota. Dengan ini diharapkan setiap penyelenggara pendidikan inklusif dapat lebih leluasa mengembangkan potensi anak didik untuk menjadi individu cerdas, terampil, dan mandiri.

Sosialisasi

Gaung UN inklusif lebih banyak terdengar di Jawa Barat karena belum merata di Jawa, apalagi luar Jawa. Ada baiknya pemerintah lebih intens menyosialisasikan UN inklusif melalui media, pelatihan, dan sebagainya.

orangtua sering menanyakan legalitas ijazah UN inklusif. Apakah itu dapat diterima andai siswa pindah ke sekolah inklusif ke Sumatera atau Kalimantan. Ini perlu ada jawaban pasti.

Selain itu, lembaga pendidikan tinggi pun seharusnya dapat melayani secara khusus calon mahasiswa pemegang ijazah UN inklusif. Anatra lain dengan menyediakan penyelenggaraan tes untuk siswa berkebutuhan khusus. Misalnya, penyandang autis yang sangat mudah terganggu atau terpecah konsentrasinya di tengah orang banyak, diberi diberi ruang tes tersendiri.

Menurut Permendiknas No 70 Tahun 2009 pendidikan inklusif didefinisikan sebagai sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberi kesempatan kepada semua peserta didik dengan kelainan, serta berpotensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya. Prinsip dasar pendidikan inklusif, memberi kesempatan kepada semua anak, termasuk berkebutuhan khusus, untuk dapat belajar bersama-sama siswa reguler, tanpa memandang kelainan, perbedaan, atau kesulitan mereka.

Dalam rangka mendukung program pendidikan inklusif siswa berkebutuhan khusus, perlu pemahaman berbagai pihak yang terlibat seperti orangtua, guru, siswa, atau teman sekolah. Mereka setidaknya memahami karakteristik murid bersangkutan, cara berinteraksi, kelebihannya yang perlu ditingkatkan. Mereka juga harus memahami materi pendidikan yang diperlukan, dan cara mendidik sesuai dengan karakteristik dan kemampuan.

Perlu terobosan untuk membekali guru agar berkompetensi melakukan proses belajar-mengajar murid berkebutuhan khusus. Di antaranya, saling sharing antarsekolah. Juga perlu diadakan loka karya atau program magang di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif yang kompeten.

Bisa juga bekerja sama dengan lembaga pendidikan yang secara praktis memberi pengetahuan dan keterampilan khusus siswa khusus. Pendidikan tinggi dapat melayani dan memfasilitasi agar murid berkebuthan khusus menempuh pendidikan di lembaganya.

Dengan lebih banyak guru yang berkompeten mendidik siswa berkebutuhan khusus di sekolah inkusif dan sosialisasi yang efektif kepada orangtua atau masyarakat anak mendapat kesetaraan proses belajar. Situasi akan semakin baik bila terdapat dukungan pemerintah, lembaga tinggi, serta pihak-pihak terkait. Ini akan membuat makin banyak anak berkebutuhan khusus memperoleh kesempatan meraih pendidikan. Dengan begitu mereka siap menghadapi masa depan dengan lebih mandiri. (Sumber: Koran Jakarta, 26 Februari 2015).

 

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: .

Branding Internasional Kampus Sekolah dan Listrik Mengusik Nurani


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: