Branding Internasional Kampus

23 Februari, 2015 at 12:17 am

Oleh Djoko Santoso
Guru besar Unair dan ahli ginjal RSUD dr Soetomo Surabaya

Sebentar lagi proses seleksi penerimaan mahasiswa baru lewat jalur undangan dimulai. Calon mahasiswa siap-siap memilih program studi, fakultas, dan perguruan tinggi yang diminatinya serta disesuaikan dengan nilai hasil belajarnya. Ada kabar baik. Tahun ini Universitas Airlangga (Unair) masuk urutan keempat perguruan tinggi nasional yang di-ranking QS World University. Urutannya adalah UI (skor 310), ITB (461-470), UGM (551-600), dan IPB/Unair (700+).

Banyak yang bangga masuk Unair, apalagi masuk fakultas kedokteran (FK). FK dipandang kian bergengsi karena memiliki rumah sakit (RS) pendidikan sendiri selain bersama RSUD dr Soetomo milik Pemprov Jatim. Civitas academica-nya juga dikenal memiliki segudang prestasi dan reputasi, baik nasional maupun internasional.

Itu semua merupakan proses panjang dengan kerja keras semua civitas-nya. Sebagai organisasi yang kompleks, budaya kelembagaan universitas sangat memengaruhi atmosfer kehidupan kampus. Itu memengaruhi pula kualitas dosen dan alumninya, produk penelitiannya, produk pengabdian masyarakatnya, perannya di berbagai lembaga pemerintahan dan swasta, serta relasinya dengan masyarakat internasional.

Atmosfer kampus yang dinamis, kritis, dan terbuka memungkinkan munculnya berbagai pemikiran dan ide pembaruan di berbagai bidang keilmuan. Jika pemikiran dan ide pembaruan tersebut hanya berkutat di internal kampus, yang terjadi adalah bak pepatah ”kodok dalam tempurung”. Berbagai pemikiran dan ide pembaruan itu baru teruji dan bermanfaat jika dilempar ke serta direspons dan diimplementasikan oleh masyarakat luar kampus seperti asosiasi profesi, praktisi swasta, kalangan pemerintahan, serta pers.

Bagaimana universitas bisa menghasilkan produk berkualitas dengan proses yang bagus dan berinteraksi dengan masyarakat luar kampus secara dinamis? Otaknya ada pada manajemen universitas. Diperlukan rezim rektorat yang punya visi ke depan, piawai menangani tata kelola internal, sekaligus terampil berinteraksi dengan masyarakat luar kampus, baik nasional maupun internasional.

Sebagai ”presiden” universitas, rektor harus mampu menangani urusan internal dan eksternal. Urusan internal adalah tata kelola universitas (akademik, keuangan, kemahasiswaan, kepegawaian, dan lain-lain). Sedangkan urusan eksternal adalah membangun hubungan dan kerja sama dengan berbagai kalangan serta lembaga di luar kampus, baik nasional maupun internasional.

Dalam tatanan global sekarang ini, kerja sama dengan berbagai kampus dan lembaga internasional adalah keniscayaan. Kemajuan dan keunggulan yang dimiliki universitas luar negeri ternama bisa dipelajari dan kemudian diserap. Universitas yang menghasilkan pemenang nobel di bidang kedokteran, misalnya, pasti memiliki SDM berkualitas serta kurikulum dan tata kelola yang bagus.

Karena itu, kerja sama dengan universitas ternama luar negeri jelas akan menaikkan rating. Dalam kaitan ini Knight (1996) menganjurkan untuk menggunakan pendekatan konsep internasionalisasi dari program pendidikan dengan tetap menghormati karakter dasar suatu bangsa serta mempertimbangkan latar belakang sejarah, tradisi, dan budaya lokal sendiri.

Internasionalisasi dalam pengelolaan perguruan tinggi adalah proses mengintegrasikan dimensi interkultural ke dalam fungsi pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Internasionalisasi bukan hanya dalam arti geografis semata, misalnya sekadar menerima mahasiswa asing atau mengirimkan mahasiswa ke luar negeri tanpa didasari konsep kerjasama yang strategis.

Lebih dari itu, internasionalisasi harus dipandang sebagai proses integrasi kegiatan (terutama pengajaran dan penelitian) dalam kerangka kerja sama mutualistik untuk kemajuan bersama sekaligus membangun persahabatan dengan mitra luar negeri. Pengalaman bekerja sama secara internasional dan memahami visi antarbangsa akan sangat membantu upaya bersama membangun masa depan peradaban dunia yang saling membutuhkan.

Kegiatan dalam konsep internasionalisasi yang terintegrasi, masih menurut Knight, terdiri atas empat komponen: aktivitas, kompetensi, etos, dan proses. Aktivitas, meliputi pembelajaran universitas menggunakan kurikulum, pertukaran mahasiswa/dosen, serta dukungan teknis –semuanya harus menggambarkan proses internasionalisasi.

Kompetensi, alumninya mempunyai kompetensi yang diakui secara internasional sebagai produk dari pengajaran yang mencerminkan proses internasionalisasi. Etos, seluruh kegiatan perguruan tinggi harus dinaungi atmosfer dengan budaya dan etos kerja yang mendukung proses internasionalisasi serta interaksi interkultural. Proses, dalam arti seluruh kegiatan, mulai pengajaran, penelitian, hingga pengabdian masyarakat, terintegrasi sejak konsep, kebijakan, prosedur, sampai kegiatan yang mencerminkan internasionalisasi.

Empat pendekatan itulah yang menggambarkan internasionalitas yang saling melengkapi dan inklusif eksklusif. Dinamika kegiatan dengan konsep internasionalisasi ini akan membentuk arah baru bagi perguruan tinggi. Dari penjelasan di atas jelaslah, internasionalisasi perguruan adalah tugas berat dan tidak mudah. Rektor dituntut untuk memiliki sikap, wawasan, dan pemahaman yang baik tentang posisi Indonesia dalam tataran global.

Apakah Unair sekarang sudah menginternasional? Dalam tahap tertentu, tentu saja sudah. Lihat saja salah satu indikatornya, banyak mahasiswa asing yang kuliah di Unair. Sebaliknya, banyak pengajar Unair yang belajar di mancanegara serta hal sebaliknya, dosen dan visiting professor dari luar negeri pun datang untuk berkiprah. Ada banyak bentuk kerja sama Unair dengan berbagai perguruan tinggi asing. Dan nama Unair juga masuk dalam list QS World University tadi.

Tetapi, selain kuantitas, sisi kualitas harus ditingkatkan tanpa henti. Misalnya dengan meningkatkan partisipasi mahasiswa asing dalam riset-riset lokal serta sebaliknya, meningkatkan partisipasi mahasiswa kita dalam riset-riset internasional. Perlu menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan kemajuan internasional dan memperluas jangkauan kerja sama dengan lembaga internasional.

Menjadikan Unair sebagai pilihan utama adalah sebuah proses, bukan tujuan. Unair harus fokus, bagaimana produknya (program, kegiatan, dan alumni) bisa diterima serta diakui masyarakat luas, baik nasional maupun internasional. Inilah tugas berat ”presiden” universitas kebanggaan arek Suroboyo tersebut. (Sumber: Jawa Pos, 23 Februari 2015).

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Belajar di Luar Negeri UN Siswa Berkebutuhan Khusus


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: