Menjaga Profesionalitas Guru

10 Februari, 2015 at 12:00 am

Oleh Kurniawan Adi Santoso
Guru SDN Sidorejo, Krian, Sidoarjo, Jatim, calon peserta sertifikasi

Menjadi guru zaman sekarang ini enak dan lebih sejahtera dengan adanya sistem sertifikasi. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen membuat mereka profesional dan diberi tunjangan sekali gaji pokok dengan berbekal sertifikat.

Awalnya, pelaksanaan sertifikasi bagi guru dalam jabatan dilakukan melalui uji kompetensi dengan penilaian portofolio dan pemberian sertifikasi pendidik secara langsung kepada guru yang memenuhi persyaratan.

Yang belum lulus, diharuskan melengkapi portofolio. Antara lain dengan mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Pada 2015 ini, proses sertifikasi diubah melalui PPGJ tadi. Seleksinya lebih ketat. Calon peserta sertifikasi harus mengikuti uji kompetensi, lalu menyusun dokumen rekognisi pembelajaran lampau (RPL). Dokumen RPL meliputi: pengalaman pembelajaran dan pengembangan diri.

Dia juga menganalisis buku ajar sesuai Kurikulum 2013 (K-13) dan beberapa syarat lain. Berdasar penilaian RPL, ditetapkan sebagai peserta loka karya di LPTK selama 16 hari, diakhiri ujian tulis formatif (UTF).

Berikutnya, peserta melaksanakan pemantapan kemampuan mengajar (PKM). Proses yang ketat untuk memperoleh guru profesional, sehingga pantas memperoleh tunjangan. Selama ini, tunjangan sertifikasi belum mampu meningkatkan profesionalitas guru secara signifikan.

Survei Bank Dunia menunjukkan bahwa sertifikasi guru tidak mengubah perilaku dan praktik mengajar. Dia juga belum meningkatkan prestasi guru dan siswa secara signifikan. Memang bila dilihat di lapangan, tunjangan sertifikasi membuat guru mata duitan, sehingga lebih rajin belanja di mal daripada ke toko buku atau perpustakaan.

Yang tambah luas tanah, bukan wawasannya. Guru membeli motor, bukan buku. Tunjangan sertifikasi tidak untuk meningkatkan profesionalitas. Banyak guru dengan jam terbang tinggi, namun metode mengajarnya masih konvensional. Pembelajaran masih berpusat pada guru, tidak terjadi interaksi multiarah.

Jadi pembejalaran tidak aktif, kreatif, dan menyenangkan. Mengajar dianggap sebagai pekerjaan rutin dan keseharian, bukan tugas profesional. Guru kurang termotivasi membarui diri, sehingga tidak kreatif. Tidak ada inovasi pembelajaran, sehingga terasa mandek.

Banyak guru sebagai ujung tombak pendidikan lupa akan komitmen selaku pendidik karena terjebak manisnya tunjangan sertifikasi. Pengabdian seperti cerita Oemar Bakrie tidak ada lagi. Guru harus membangun kembali komitmen yang merupakan kekuatan dari dalam untuk melaksanakan tugas dan kewajiban mengajar- mendidik.

Dengan begitu, dia akan mampu memahami tugas dan tanggung jawabnya. Dia cepat tanggap terhadap perubahan dan mau berinovasi demi tanggung jawab profesionalitasnya. Pengabdian yang tulus harus tumbuh dari dalam sanubari sebagaimana tecermin dalam sikap mental.

Guru harus mau selalu mengembangkan kompetensi sesuai dengan perkembangan zaman. Misalnya, pergantian kurikulum tak boleh merisaukan. Caranya terus berbenah untuk menyeleraskan diri dengan perubahan.
Kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional tak sekadar teoritis. Dengan begitu, sebagai ujung tombak pendidikan, guru mampu menjaga profesionalitas meski terus digempur budaya materialistis.

Kesadaran
Komitmen itu bisa dibangun dengan membangkitkan kesadaran akan tugasnya sebagai pengajar dan pendidik. Ia bisa mengantarkan peserta didik menjadi individu yang dewasa, cerdas, berkarakter, beretika, dan berbudi pekerti luhur. Ditambah nilai kompetensi akan membuat siswa mampu bersaing dalam dunia nyata.

Guru harus kreatif dan tak boleh puas dengan cara lama. Ia harus terus berusaha menemukan cara-cara baru dalam menggali potensi unik siswa. Tiap hari harus kreatif agar pembelajaran terus menarik.

Evaluasi cara kerja agar menemukan berbagai terobosan guna memperbaiki cara mengajar. Pembaruan bisa melalui perbaikan metode mengajar, asal sesuai dengan materi.

Ciptakan suasana belajar menjadi aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan. Perbaikan tersebut diharapkan meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan memecahkan berbagai masalah di kelas.

Program-program perbaikan tadi harus juga dicatat agar guru terbiasa menggunakan langkah-langkah yang sistematis dan kritis. Urutannya mengidentifikasi, merumuskan, dan mencari pemecahan berbagai masalah.

Dengan berpikir kritis, guru tak akan pernah kehabisan ide kreatif. Dia selalu ada ide segar yang membuatnya menemukan sistem pembelajaran dengan banyak model. Maka, sudah waktunya guru menyadari uang yang didapat untuk membangkitkan motivasi mengajar.

Untuk itu, dia harus selalu mampu memunculkan kreativitas. Dia harus kreatif meramu berbagai metode mengajar dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Dengan begitu, peningkatan kesejahteraan tersebut tak akan mubazir karena diiringi peningkatan kualitas dan profesionalitas. Dana hanya bisa memenuhi kepuasaan rohani, bila didapat dengan kerja keras. (Sumber: Koran Jakarta.Com, 10 Pebruari 2015)

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , .

K-13 dan Catatan E-Sabak Belajar di Luar Negeri


ISSN 2085-059X

  • 647,506

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: