Menggugat Ritual Pendidikan

31 Januari, 2015 at 12:00 am

Oleh Sarjuni SAg Mhum
Wakil Rektor III Unissula, Sekretaris Komisi Pemberdayaan Perempuan dan Pemuda MUI Jateng

SYAHDAN, seorang pembesar Jepang tengah dalam perjalanan. Ia melihat sebongkah emas yang diduga terjatuh dari sebuah karavan yang lewat sebelumnya. Saat itu, ia berpapasan dengan pencari kayu sedang memikul seikat kayu.

’’Ambillah emas itu untukmu,’’ kata pembesar Jepang itu kepada pencari kayu tersebut.

Bukannya segera mengambil emas itu, pencari kayu tersebut mendekat dan seperti ingin memberi nasihat kepada sang pembesar tadi. ’’Tuan sepertinya orang yang terhormat. Mengapa bicara tuan maaf begitu rendah. Saya memang seorang pencari kayu, tapi saya bangga hidup dari hasil keringat sendiri. Jangan pernah tuan meminta saya mengambil sesuatu yang bukan hak saya.’’ (Hidyatullah; 2011).

Sang pembesar terkesima mendengar perkataan pencari kayu tersebut. Dilihatnya, ia orang biasa, dan kemungkinan hidup dalam banyak keterbatasan tapi menjaga tegak karakter serta menjunjung tinggi integritas dan kejujuran.

Di dalam Islam kisah senada dengan sangat mudah kita temukan. Salah satunya sebagaimana diriwayatkan Abdullah bin Dinar. Kisah itu yakni pada suatu hari Abdullah berjalan dengan Khalifah Umar bin Khattab dari Madinah menuju ke Makkah.

Di tengah perjalanan, mereka berjumpa dengan seorang penggembala sedang menggiring sejumlah kambing. Khalifah ingin rnenguji sampai di mana kejujuran dan keamanahan penggembala tersebut.

Khalifah berkata,’’ Wahai penggembala, juallah kepadaku seekor kambing dari ternak gembalaanmu itu.’’ Jawab penggembala, ’’Tuan, aku hanya seorang budak.” Khalifah melanjutkan lagi,’’Katakan saja nanti kepada tuanmu bahwa kambing itu telah dimakan serigala.’’ Pengembala menjawab dalam nada tanya,’’ Kalau begitu di mana Allah?” Ya, sangat pendek jawabnya, yakni, ’’di mana Allah?’’

Anekdot tersebut saat ini barangkali telah menjadi semacam utopia, sesuatu yang hanya ada dalam tataran ideal dan kita sangat sulit menemukannya dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini, kehidupan telah dikuasai oleh peradaban materi yang cenderung mengajak manusia untuk menjadi seorang hedonis. Orang berlomba-lomba mengumpulkan sebanyak-banyaknya materi walaupun harus dengan menempuh cara-cara ilegal.

Bahkan pendidikan dikatakan sukses bila mampu melahirkan lulusan yang siap kerja dan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya materi. Jika demikian patut dipertanyakan apakah hal itu tujuan asasi pendidikan. Kriteria tersebut tidak sepenuhnya salah, namun tidak pula benar. Mencetak lulusan yang siap kerja adalah penting, tetapi itu bukan tujuan utama pendidikan.

Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) secara tegas mengamanatkan bahwa fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter. Adapun tujuan pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Mendasarkan fungsi dan tujuan tersebu, kita bisa menemukan alurnya secara benar yakni tugas utama pendidikan adalah membangun akhlak atau karakter. Karena itu Theodore Roosevelt, Presisen Ke-26 AS menyatakan mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukannya aspek moral adalah ancaman berbahaya kepada masyarakat.
Ritual Pendidikan

Di dalam Islam, tugas utama pendidikan adalah menanamkan adab. Adab merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Allah, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Harus diakui bahwa saat ini ritual pendidikan memang terus berjalan, tapi tujuannya tidak pernah tercapai. Pendidikan memang telah menghasilkan SDM bidang teknik, kesehatan, ekonomi, dan sebagainya tetapi belum atau tidak menghasilkan manusia-manusia yang beradab mengingat pendidikan juga ternyata gagal mewujudkan peradaban. Bahkan sebaliknya pendidikan telah berperan cukup signifikan mencetak segelintir manusia biadab. Karut-marut penegakan hukum di Indonesia dewasa ini tidak lepas dari peran pendidikan.

Karena itu, lembaga pendidikan harus mereorientasikan kembali fungsi dan tujuan pendidikan. Ia bukan sekadar menjalankan ritual pendidikan melainkan tetapi harus benar-benar menjalankan fungsi sebagai pusat pendidikan akhlak/karakter sehingga bisa mencetak manusia-manusia beradab.

Lembaga pendidikan jangan hanya sebagai sarana transfer pengetahuan dan pengembangan keterampilan tapi juga harus menjadi pelopor gerakan moral dan sosial serta bisa menjadi agen pengadaban. Ia harus menjadi pelopor dalam menciptakan manusia-manusia yang adil dan beradab supaya dapat membangun peradaban Indonesia yang lebih bermartabat. (Sumber: Suara Merdeka, 31 Januari 2015).

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Optimalkan Kurikulum Membaca Membincangkan Pendidikan


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: