Membincangkan Pendidikan

31 Januari, 2015 at 7:00 am

Eko SupriatnoOleh Eko Supriatno SIP MPd
Dosen Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) Banten.

“Pekerjaan apakah yang lebih mulia, atau yang lebih bernilai bagi negara, daripada mengajar generasi yang sedang tumbuh?”. (Cicero, Filsuf Romawi)
Pendidikan merupakan satu hal yang tidak ada bosannya untuk diperbincangkan, diteliti, bahkan diperdebatkan.

Membincangkan pendidikan juga merupakan hal yang menyenangkan disatu sisi tetapi juga menyedihkan disisi yang lain. Tetapi yang paling penting pendidikan merupakan jalan peradaban menuju masa depan yang lebih baik, masa depan yang memanusiakan.

Begitupun juga, “mata kita” tiada habisnya mengkritisi carut marut sistem pendidikan sendiri, namun yang dikritisi malah semakin melenggang, bahkan alergi untuk dikritik.

Padahal sejatinya Pendidikan adalah aksi pembebasan manusia dari belenggu kebodohan. Baik itu berupa kebodohan secara intelektual, moral, ataupun spiritual.

Pendidikan adalah hak setiap manusia, bahkan kewajiban setiap manusia untuk mendapatkan pendidikan. Karena jika manusia itu tidak berpendidikan, maka manusia akan terbelenggu dalam kubangan kebodohan dan penindasan.

Pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan, organis, harmonis, dinamis guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Dan pendidikan, pada hakikatnya bertujuan untuk membangun manusia seutuhnya dalam rangka mengemban amanat sebagai khalifatullah di muka bumi.

Membincangkan pendidikan sangatlah penting. Membincangkan pendidikan menurut penulis diistilahkan dengan Pedagogis kritis. Pedagogis kritis adalah dimana kritik bisa menjadi kekuatan perlawanan atas sistem pendidikan yang carut marut tadi. Seperti halnya pendidikan kita yang masih terkesan hegemonik, diskriminatif, dan hanya terpaku pada misi reproduksi kelas sosial.

Pedagogis kritis harus mengandung sifat yang reformis. Namun ia perlu diasah agar menjadi revolusioner. Yaitu dengan mendorong Pedagogis kritis tersebut ke level yang lebih radikal dan holistik. Menggunakan pembacaan yang historis dan dialektik terhadap Pedagogis kritis tersebut, akan jauh lebih bermanfaat untuk memperkaya diskursus kritis kita terhadap kondisi pendidikan hari ini.

Tapi sayang, pedagogis kritis atau tradisi membincangkan, meneliti, dan mendebatkan pendidikan itu kini luntur atau bahkan lenyap. Indikasinya, semakin deras kritik dilontarkan atas suatu kebijakan pendidikan, semakin keukeuh kebijakan dipertahankan. Indikasi ini memiliki dua dimensi. Sikap pembuat kebijakan yang amat kenyal semakin sulit ditembus atau karena pisau kritik yang sangat tumpul.

Dalam mimbar ini, setidaknya penulis memaparkan 3 (tiga) pedagogis kritis:

Pertama, komersialisasi pendidikan. Neoliberalisasi ekonomi yang menggurita di segala bidang telah pula menjalar ke pendidikan dan membawa pemahaman baru bahwa pendidikan adalah untuk mencari keuntungan (education for profit). Komersialisasi pendidikan membuktikan pemerintah lepas tangan terhadap pendidikan anak bangsa, karena bagi mereka yang berasal dari keluarga miskin akan semakin sulit untuk melanjutkan pendidikan. komersialisasi pendidikan atau membisniskan pendidikan sudah jelas bentuknya ketika pemerintah melepaskan tanggungjawab dalam biaya pendidikan dan menyerahkannya pada sektor swasta melalui berbagai peraturan pendidikan.

Opsi-opsi sebagai upaya penyelamatan dunia pendidikan seperti mengeluarkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), bukanlah solusi karena tidak membawa pengaruh yang signifikan terhadap perbaikan dunia pendidikan. Bahkan persoalan-persoalan yang baru muncul kembali karena indikasi terjadinya penyelewengan dana BOS sangat mungkin terjadi. Menurut penulis dana BOS seharusnya tidak perlu dijadikan sebuah program, karena persoalan pembiayaan operasional sekolah akan terjawab apabila implementasi dari anggaran dana pendidikan 20 persen benar-benar direalisasikan dengan benar. Diskriminasi dalam dunia pendidikan juga semakin merajalela dan ini sudah mulai terlihat dari tingkat SD yakni siapa yang berduitlah yang menyekolahkan anaknya di sekolah swasta bertaraf internasional.

Sementara bagi anak-anak buruh, petani dan yang berasal dari keluarga miskin lainnya hanya bersekolah di SD negeri dengan kualitas minim. Ditingkat kampus juga akan semakin banyak kelas-kelas berdasar besar sumbangannya terhadap dana pembiayaan di kampus. Demikian juga dengan program Ujian Nasional (UN) yang menurut penulis hanya formalitas belaka, karena tidka tepat menyamaratakan ukuran kelulusan di Indonesia.

Mengingat ketidakmampuan pemerintah dalam melakukan pemerataan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia, yakni dengan masih minimnya kualitas pendidikan di desa dibandingkan dengan di kota. Jelas pemerintah hari ini telah menjual pendidikan kepada kepentingan kapitalis.

Kedua, pendidikan pekerti yang masih lemah. Dewasa ini, di sekitar kita, ramai dibicarakan tentang bagaimana format pendidikan yang cocok untuk dapat diterapkan pada saat ini. Mengingat, akhir-akhir ini tidak jarang dijumpai orang yang berpendidikan tinggi, tetapi memiliki moral yang ‘bejat’. Sebaliknya, banyak orang yang berpendidikan rendah justru memiliki perilaku yang baik. Apakah ada kesalahan dengan model pendidikan yang diterapkan? Atau ‘memang’ pendidikan itu yang tidak dapat menjawab pelbagai masalah kemanusiaan? Terlepas dari itu semua, sesungguhnya kita telah ‘sadar’ akan pentingnya kehadiran pendidikan dalam rangka membentuk kepribadian umat.

Kasus kekerasan pada siswa di sekolah seolah tidak ada hentinya; mulai dari kekerasan laten yang dapat berwujud pada buku-buku pelajaran maupun kuesioner, kekerasan seksual, tindakan pornografi, hingga kekerasan fisik yang terpampang secara jelas. Semua itu menghantui setiap orang tua yang justru terlalu berharap lebih kepada sebuah lembaga pendidikan yang bernama sekolah.

Miris dan tragis. Bagi setiap orang tua yang peduli kepada nasib anaknya, ketakutan ini benar-benar akan selalu membayangi. Sebuah sekolah, yang seharusnya menjadi sebuah zona aman dan nyaman bagi tumbuh dan berkembangnya anak, nyatanya tidak cukup memberikan kedua hal tersebut.

Paradigma bahwa pendidikan hanya untuk mentransfer pengetahuan sudah seharusnya dibebaskan. Sejatinya pendidikan dilakukan untuk membentuk watak dan pengendalian diri sehingga akan menjadi sebuah kesalahan fatal jika orang tua hanya memercayakan pendidikan pada sekolah. Ini karena sejatinya pendidikan berawal dari rumah.

Ketiga, Sistem pendidikan formal yang masih kaku. Pendidikan formal masih menjadi pilihan utama masyarakat dalam menuntut ilmu. Sebab kualitasnya dianggap lebih terjamin dibandingkan sistem nonformal. Itu dilihat dari kurikulum dan materi-materi yang diberikan. Kegagalan jalur formal dalam meningkatkan mutu pendidikan, kata dia, bukan disebabkan oleh rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM), tapi sistem yang digunakan. Dalam pendidikan formal, sistemnya sangat kaku. Aturan-aturan yang dibuat berkesan membelenggu.

Sudah saatnya sekarang kita menolak sistem pendidikan yang kaku, formalistik bahkan penuh dengan intimidasi. Pendidikan bukan suatu jalan yang menyenangkan tapi suatu jalan penuh siksaan yang tak jelas kemana arahnya. Kritik terhadap pendidikan baik dari sistem kurikulum maupun pendekatan sepertinya memang bukan sekedar isu lokal tapi merupakan isu yang telah mengglobal. Kasus-kasus kekerasan dalam dunia pendidikan tidak saja terjadi di Indonesia tapi juga banyak terjadi dibelahan bumi lainnya. Dominasi guru yang berperan menjadi pemegang otoritas tertinggi di kelas dan sekolahan memunculkan kediktatoran ditingkat kelas atau sekolahan.

Sebagai insan yang berpendidikan, kita tentu masih terus berharap akan datangnya perubahan fundamental terhadap sistem pendidikan kita. rasa optimis menatap masa depan wajib terbersit di lubuk hati kita semua, meskipun banyak sekali problem yang belum terentaskan.

Meskipun banyak problem yang dihadapi oleh pendidikan nasional, namun itu semua tidak boleh menyurutkan semangat kita. Bagaimanapun juga, pendidikan merupakan investasi bagi masa depan bangsa. Sebab, melalui pendidikan, masa depan bangsa sedang dirancang sebaik mungkin dengan cara mempersiapkan sumber daya manusia yang tidak kalah kualitasnya dengan negara-negara lain.

Rasa optimis menjadi “kata kunci” (key word) bagi semua idealisme perubahan itu. Seperti Paulo freire yang telah berhasil memerdekakan rakyat Brazil dari buta huruf, keterbelakangan, dan kemiskinan.

Kita tidak bisa membayangkan, betapa besar rasa optimis seorang Freire sewaktu berjuang dengan sekuat tenaga dan pikirannya untuk membebaskan rakyat Brazil dari buta huruf, keterbelakangan, dan kemiskinan itu.

Sebagai seorang yang berada di dunia pendidikan kita tidak perlulah merasa putus asa. Pada akhirnya semua akan sadar dan terbangun dari lelap tidurnya dunia pendidikan sekarang. Banyak yang harus dilakukan oleh kita sebagai umat manusia agar pendidikan sebagai wadah menjadikan generasi yang berilmu serta berakhlak mulia dapat terwujud.

Pendidikan itu membebaskan. Tidak ada paksaan di dalamnya. Mulai dari sejak dini semuanya harus mengenal apa yang ada di dalam dunia pendidikan bisa bermanfaat. Kedepan, meskipun tujuan akhir kita untuk bisa lebih bermanfaat untuk orang lain, itulah pegangan kita. Dunia pendidikan memang harus sempurna.

Sekali lagi kita perlu mengingat kembali perkataan Cicero, “Pekerjaan apakah yang lebih mulia, atau yang lebih bernilai bagi negara, daripada mengajar generasi yang sedang tumbuh?”. (Kontak person: 081385628075/087805670739. Email: eko_mpd@yahoo.co.id.).

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Menggugat Ritual Pendidikan Menggugat Dikotomi PTN-PTS


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: