Optimalkan Kurikulum Membaca

30 Januari, 2015 at 12:00 am

Jejen MusfahOleh Kurniawan Adi Santoso
Peneliti minat baca siswa di sekolah, Sidoarjo

Membaca itu sangat penting. Milan Kundera mengatakan peradaban sebuah bangsa bisa lestari bila manusia gemar membaca. Sayangnya, hingga kini, kegemaran membaca belum menjadi budaya bangsa. Padahal akses teks semakin mudah. Membaca belum menjadi sebuah kebutuhan.

Guru saja, yang notabene bergelut bidang pendidikan, banyak yang malas membaca. Maka, wajar bila di lingkungan sekolah, meski kegiatan membaca sudah masuk kurikulum, tak terlalu disambut gembira guru dan murid.

Tak ayal bila UNESCO, pada tahun 2012, mencatat indeks minat baca Indonesia baru mencapai 0,0001. Dengan kata lain, dalam setiap 1.000 orang, hanya ada satu berminat membaca. Berdasarkan hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) 2012, tingkat membaca pelajar Indonesia menempati urutan ke-61 dari 65 negara anggota PISA.

Indonesia hanya mengumpulkan skor membaca 396 poin. Tingkat membaca penduduk tertinggal dari Thailand (50) dan Malaysia (52). Banyak faktor penyebab, di antaranya kurang penggalakan dan pendukung minat baca melalui program sekolah yang terintegrasi dengan pelajaran. Tak ada penyediaan bahan bacaan melalui perpustakaan sekolah. Pengelolaannya pun kurang optimal.

Di banyak sekolah, perpustakaan tak ubahnya pelengkap kemewahan saja. Kadang hanya menjadi fasilitas untuk menunjang akreditasi. Nasib perpustakaan sekolah hanya menjadi gudang buku. Ia hanya difungsikan sebagai tempat penyimpanan, tanpa dikelola dengan baik.

Maklum, banyak sekolah tak memiliki pustakawan andal. Petugas perpustakaan hanya guru biasa yang memunyai jam pelajaran di bawah jatah standar. Wajar bila pengelolaan perpustakaan pun menjadi tidak optimal.

Sekolah memang mendorong anak untuk bisa membaca. Namun, tidak mengondisikan anak membudayakan membaca. Dia hanya menjadi bagian pengajaran, tanpa tindak lanjut untuk membiasakannya.

Siswa membaca hanya pada saat pelajaran dan menjelang ujian. Anak lebih asyik menghabiskan waktu untuk bermain, nonton tv, dan sebagainya. Bisa dikatakan sejak kecil anak dikondisikan begitu. Mereka tidak diajari memiliki kesadaran menyisihkan sebagian waktunya untuk membaca.

Jepang, misalnya, dalam sebulan rata-rata anak muda mampu melahap lima buku berkategori berat dan puluhan jilid komik. Di mana pun, baik di sekolah, kampus, atau kafe mereka membawa buku. Bahkan di dalam kereta mereka juga membaca buku. Tidak ada yang menghabiskan perjalanan dengan ngobro, tapi membaca. Bangsa ini belum menyelami ungkapan Ernest Hemingway (1899-1961), “Tidak ada teman setia sebagaimana buku.”

Budaya seperti itu tidak berarti mereka tidak akrab dengan piranti canggih, tapi menu utama mereka tetap membaca. Kultur atau hasil didikan formal di Jepang mungkin memang sepenuhnya diarahkan kepada penyadaran bahwa baca-tulis adalah sebuah upaya memasuki dan kemudian menciptakan peradaban.

Masalah Besar
Minat baca yang rendah menjadi masalah besar bangsa ini dan harus secepatnya dicarikan solusi, apalagi ke depan tantangan bangsa semakin kompleks. Akhir 2015 ini, diberlakukan pasar bebas regional atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Pasar bebas tidak hanya menyangkut arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga tenaga kerja professional seperti dokter, guru, pengacara, atau akuntan. Jadi, kemampuan membaca informasi sungguh urgen demi mampu bersaing di pasar bebas tersebut.

Untuk menumbuhkan budaya gemar membaca memang perlu upaya strategis, seperti dengan memulainya dari sekolah. Lebih dari 90 persen kemajuan pengembangan ilmu pengetahuan yang dicapai negara-negara maju. Salah satunya disebabkan sinergi kegiatan belajar formal anak didik di kelas dan ketekunan dalam membaca yang digalakkan di luar kelas.

Lewat pendidikan di sekolah, murid bisa memulai cinta membaca. Sejak jenjang pendidikan dini, anak diperkenalkan buku dan berdialog dengan teks. Guru membantu siswa dengan bertanya isi buku atau pesan pengarang. Mereka belajar berdialog dengan teks, bukan sekadar membaca sambil lewat.

Di sekolah dasar, siswa dikondisikan belajar memperkaya kosakata dan menumbuhkan daya analisis menggunakan bacaan berjenjang sesuai dengan tingkat kognitif dan kematangan. Bacaan berjenjang biasanya dibedakan dari sisi kompleksitas buku.

Kelak, di tingkat menengah, siswa terbiasa mendiskusikan buku beragam dan teks beragam bentuk dengan tingkat kesulitan sesuai dengan kebutuhan. Pada akhirnya, keterbiasaan dengan buku akan menumbuhkan cinta membaca.

Di samping itu, perpustakaan sekolah harus dioptimalkan. Salah satunya dengan cara menjadikannya tempat inovasi pembelajaran, yakni pendekatan pembelajaran berbasis perpustakaan (library-based learning). Ini memanfaatkan perpustakaan sekolah sebagai ruang dan sumber belajar. Hal ini tentu sangat berguna bagi para siswa. Sebab, di dalam perpustakaan mereka bisa mendapat pengetahuan yang lebih luas.

Agar keberadaan perpustakaan sekolah benar-benar menjadi sarana pembelajaran, perlu program atau kegiatan yang dilakukan pengelola. Program harus berorientasi pada pengetahuan dan pengembangan minat baca siswa. Karena salah satu indikator keberhasilan sebuah perpustakaan adalah meningkatnya minat baca.

Untuk mencapainya dibutuhkan pustakawan yang cinta membaca. Sebab salah satu prasyarat utama dalam menjalankan program tersebut adanya pustakawan sebagai penggerak. Pustakawan sekolah harus mempunyai idealisme tinggi, kreatif, dan berwawasan luas. Jadi, bukan seseorang yang ditempatkan untuk mengisi kekosongan jam pelajaran dan hanya berorientasi pada gaji.

Pustakawan sekolah juga harus mampu menjalin komunikasi dengan para guru dan kepala sekolah untuk menyinergikan pembelajaran di sekolah dengan sumber-sumber informasi di perpustakaan. Dengan begitu diharapkan perpustakaan sekolah mampu mewujudkan budaya membaca yang lebih bermutu.

Bila sekolah sudah menjadi tempat pembiasaan membaca, niscaya akan keluar generasi muda yang gemar membaca. Generasi yang gemar membaca akan menjadi generasi yang mempunyai kemampuan bernalar bagus, yakni mencakup daya berpikir logis, keterampilan mengolah informasi dari bacaan, dan kemampuan menyimpulkan dengan pemikiran sendiri. Sehingga diharapkan akan mempu memanfaatkan pengetahuan, teknologi, aturan hukum, serta mampu memanfaatkan kekayaan budaya secara tepat guna bagi kemakmuran bangsa ini. | (Sumber: Koran Jakarta, 30 Januari 2015).

Entry filed under: Artikel Dosen Fakultas Tarbiyah. Tags: , .

Pendidikan Seks di Sekolah Menggugat Ritual Pendidikan


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: