Pendidikan Seks di Sekolah

29 Januari, 2015 at 12:05 am

??????????Oleh Haryati
Guru SMA Negeri 1 Kertek, Wonosobo, Jateng.

Pergaulan bebas tengah melanda sebagian remaja. Ironisnya, pergaulan bebas di era global ini sudah dianggap perkara biasa. Inilah yang menjadi keprihatinan kalangan orang tua dan lembaga pendidikan.

Kemudahan kalangan remaja mengakses situs-situs pornoaksi dan pornografi melalui dunia maya, kian memicu tumbuh dan berkembangnya fenomena pergaulan bebas. Media massa kerap memaparkan kasus remaja yang terlibat free sex.

Jika apa yang diungkapkan FX Triyas Hadi Prihantoro dalam “Refleksi, Suara Guru” benar (Suara Merdeka, 24/1/2015), bahwa sebagian besar remaja telah terlibat seks bebas, betapa mengerikan kenyataan tersebut.

Dia mengungkapkan hasil survei KPAI menunjukan 4.726 responden siswa SMP/SMA di 17 kota besar, 62,7 persen mengaku sudah tidak perawan lagi dan 21,2 persen mengaku pernah melakukan pengguguran kandungan akibat seks di luar nikah.

Sementara itu, data BKKBN menunjukan 51 persen remaja di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), telah melakukan seks bebas. Ini artinya dari 100 remaja wanita, 51 sudah tidak gadis lagi.

Dari data tersebut, lembaga pendidikan, dalam hal ini sekolah, selain orang tua dan masyarakat, menjadi pihak yang ikut bertanggungjawab untuk memfilter agar remaja dan anak sekolah, tidak semakin terjangkiti virus pergaulan bebas.

Bila gejala tersebut dibiarkan berlalu saja, maka bukan tidak mungkin dari tahun ke tahun remaja putri yang melahirkan atau melakukan aborsi akibat seks pranikah, angkanya akan kian meningkat. Hal itu tentu tidak boleh terjadi.

Merebaknya fenomena seks bebas selain karena faktor ekternal seperti dampak kemajuan tehnologi di dunia maya dan efek tontonan pornografi/pornoaksi melalui layar kaca, juga akibat faktor internal, yakni minimnya pendidikan seks di kalangan remaja.

Karena pemahaman seputar seks yang minim, maka wajar jika para remaja lalu lari mencari sendiri perihal serba-serbi seks melalui situs porno dunia maya maupun tontonan yang didownload lewat internet. Inilah sisi negatif perkembangan dunia tehnologi informasi.

Pendidikan Seks
Pendidikan seks sebenarnya bukan perkara asing di kalangan remaja yang saat ini duduk dibangku SMP, SMA hingga yang sudah menjadi mahasiswa. Sebab, dalam pelajaran IPA (Biologi), sudah banyak disinggung soal anatomi tubuh manusia.

Dalam anatomi tubuh manusia sudah barang tentu ada organ seks yang sampaikan oleh guru. Demikian pula dalam pelajaran agama Islam dan PPKn ada bahasan khusus menyangkut etika pergaulan antar lawan jenis dari sisi agama maupum moral.

Penyuluhan masalah seks untuk remaja juga kerap digelar pihak terkait, seperti Dinas Kesehatan, BKKBN, Polri maupun LSM yang bergiat dalam pendampingan anak dan remaja. Ini artinya, pemahaman remaja dan pelajar soal seks sebenarnya sudah kerap diterima.

Sayangnya, pendidikan seks yang diterima remaja di sekolah atau melalui penyuluhan oleh steakholder remaja, cenderung bersifat di permukaan dan tidak selamanya disampaikan dengan cara tepat serta sesuai dengan dunia remaja.

Anak pun masih lebih banyak memperoleh pendidikan seks di luar. Sementara, orang tua, diakui atau tidak, masih sedikit sekali yang mau memberikan pendidikan seks pada anak-anaknya, baik sejak dini maupun ketika anak sudah menginjak dewasa.

Padahal, menurut psikolog dari RSUD Hj Anna Lasmanah Banjarnegara Gones Saptowati S Psi Psi MA pendidikan seks perlu diberikan sejak dini baik oleh sekolah maupun orang tua di sekolah.

Pendidikan seks pada anak bisa diberikan baik dari sudut pandang psikologis, biologis, sosio kultural maupun medis. Bahkan pendidikan seks merupakan hak setiap anak. Sehingga anak tidak memandang tabu masalah seks.

Pendidikan seks yang diberikan di sekolah juga masih setengah hati. Sebab, guru masih memandang tabu, jika memberikan pemahaman seks pada remaja secara detail dan terbuka.

Karena masih dipandang tabu, siswa yang sudah mengenal pacaran jarang yang mau menyampaikan curahan hati (curhat) pada guru atau orang tua, ketika sang pacar mulai menyerempet-nyerempet ke hal-hal yang berbau seks bebas.

Lantaran tidak ada filter yang tepat, baik dari orang tua maupun sekolah, dampak dari kebebasan anak menonton adegan porno melalui android, internet dan video, anak cenderung lebih bebas dalam mengekpresikan perilaku seksnya.

Lalu bagaimana model pendidikan seks yang tepat pada anak? Guru harus merasa nyaman dengan apa yang akan disampaikan. Sebab jika guru tetap memandang tabu saat berbicara tentang seks, sangat memungkinkan informasi yang diberikan tidak tepat dan jujur kepada siswa.

Setelah memberikan pendidikan seks yang tepat pada remaja di sekolah, solusi agar remaja selalu menutup aurat, mewajibkan remaja putri memakai jilbab dan berpacaran secara sehat dan benar, bisa menjadi jalan untuk menghindari seks bebas dikalangan remaja. Semoga! (Kontak person: 085292387183. Email: haryatiaang@yahoo.co.id).

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Atas (SMA). Tags: , .

Mengurai Sengketa Lahan Sekolah Optimalkan Kurikulum Membaca


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: