Pendidikan Tinggi Berkualitas

16 Januari, 2015 at 12:00 am

Muhammad Da’iOleh DR Muhammad Da’i MSi Apt
Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

Memasuki tahun 2015 perguruan tinggi di Indonesia mulai melaksanakan proses penerimaan mahasiswa baru, baik bagi perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Penerimaan mahasiswa baru (input ), merupakan tahap awal yang sangat krusial dalam membangun sistem pendidikan tinggi yang berkualitas, yang bermuara pada peningkatan mutu sumber daya manusia di Indonesia.

Bila menilik indikator Human Development Index (HDI) Indonesia pada 2013 menempati peringkat ke-108 dan terkategori sebagai kelompok negara dengan capaian HDI medium, salah satu indikator dari HDI adalah mean years of schooling, di mana Indonesia memiliki rata-rata 7,5 tahun dari yang diharapkan 12,7 tahun. Indikator ini menunjukkan masih rendahnya aksesibilitas pendidikan tinggi oleh masyarakat di Indonesia.

Hal ini merupakan peluang sekaligus tantangan bagi perguruan tinggi di Indonesia, mengingat kompleksitas terkait aksesibilitas perguruan tinggi ini yang antara lain dikaitkan beberapa faktor. Pertama, masih belum meratanya tingkat kesejahteraan ekonomi penduduk yang menyebabkan masyarakat tidak mampu mengakses pendidikan tinggi (jurang perekonomian).

Kedua, pemerataan mengakses pendidikan yang berkualitas masih rendah, sehingga dijumpai perbedaan kemampuan bersaing untuk memasuki perguruan tinggi oleh penduduk Indonesia. Perspektif terhadap perguruan tinggi masih menunjukkan perbedaan kualitas yang cukup mencolok antara pendidikan tinggi di Jawa dan di luar Jawa, meskipun ada indikator yang menunjukkan semakin berkurangnya gap perguruan tinggi negeri dan swasta.

Hal ini ditunjukkan dengan masuknya perguruan-perguruan tinggi swasta pada jajaran 50 perguruan tinggi terbaik di Indonesia seperti pada akreditasi BAN PT, webometrics, dan 4icu, perguruan tinggi seperti Gunadarma, Bina Nusantara, Mercubuana, UII, UMM, UMY, UMS dan perguruan tinggi lain menunjukkan geliat kualitas yang semakin memberikan keleluasaan bagi masyarakat untuk mengakses perguruan tinggi berkualitas di Indonesia.

Dengan kondisi tersebut perguruan tinggi, sebagai salah satu wahana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, perlu mengembangkan sistem dan kultur yang mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Tidak hanya dapat diakses, tetapi juga mendorong peningkatan produktivitas SDM Indonesia. Pengembangan ini terkait dengan tahapan input , proses, dan output perguruan tinggi yang memerlukan pendekatan komprehensif untuk mengangkat kualitas pada level yang diinginkan.

Output Perguruan Tinggi

Kali ini penulis memulai elaborasi terhadap tahapan output yang menjadi komponen kunci keberlanjutan suatu pendidikan tinggi. Output perguruan tinggi adalah lulusan dan produk akademik lain yang memberikan kontribusi besar bagi masyarakat bangsa dan negara.

Saat ini sebagian besar pendidikan tinggi di Indonesia masih berorientasi untuk mencetak lulusan. Hal ini diindikasikan dengan masih banyaknya perguruan tinggi dengan rasio dosen dan mahasiswa yang besar (di atas 1:50). Orientasi terhadap jumlah mahasiswa yang besar sering memunculkan situasi yang kurang tepat, dengan menyandarkan indikator kualitas pada tingkat mahasiswa yang tidak mengalami DO dan lulusan tepat waktu.

Indikator ini menyebabkan lulusan yang dihasilkan sering kali belum memenuhi aspek relevansi lulusan dengan dunia kerja ataupun lulusan yang mampu membuka peluang kerja bagi dirinya maupun masyarakat luas. Hal ini menjadi indikator kunci keberlanjutan suatu perguruan tinggi, semakin kuat relevansi yang dihasilkan akan memunculkan ekspektasi dan apresiasi yang besar dari kalangan masyarakat untuk menitipkan keluarganya dalam menempuh pendidikan tinggi.

Pendidikan tinggi dengan orientasi menghasilkan lulusan mestinya fokus dalam menghasilkan lulusan yang unggul dan mampu berkompetisi secara positif. Produk perguruan tinggi yang lain adalah penelitian, pengabdian masyarakat, dan publikasi ilmiah. Penelitian dan publikasi ilmiah Indonesia saat ini relatif masih sangat rendah dibanding Thailand, Malaysia, dan Filipina.

Anggaran riset sebesar lebih kurang Rp3 triliun dalam setahun belum mampu mengangkat produktivitas penelitian dosen dan peneliti lain secara signifikan baik untuk produk berupa publikasi maupun produk penelitian yang bisa diaplikasikan di dalam industri maupun di masyarakat.

Secara makro, kebijakan pemerintah untuk memberikan dana penelitian yang besar patut diapresiasi, namun hal ini tampaknya perlu diimbangi dengan perbaikan faktor lain. Pertama, kebijakan anggaran, sering kali pendanaan penelitian dari pemerintah diturunkan pada bulan Juli/Agustus dan pada November peneliti harus sudah melaporkan kegiatan penelitiannya.

Meskipun hal ini telah disiasati dengan penentuan penelitian yang berhak didanai setahun sebelumnya, tetap saja peneliti merasa gamang untuk melaksanakan penelitian karena masih diliputi keraguan mengenai kepastian cairnya dana dan peneliti bukanlah investor yang memiliki cukup dana u n t u k melaksanakan penelitian terlebih dulu. Kedua, perlu dikaji mengenai kepabeanan.

Alat-alat lab dan bahan-bahan penelitian yang diperlukan oleh peneliti nonbidang ilmu sosial sebagian besar masih impor. Seringnya untuk mendatangkan alat ataupun bahan tersebut memerlukan waktu yang lama (1-3 bulan), dengan harga bisa mencapai tiga kali lipat dibanding di negara lain.

Proses Perguruan Tinggi

Sumber daya manusia, sarana prasarana, kurikulum, manajemen perguruan tinggi, dan sistem penjaminan mutu merupakan aspek-aspek penting yang perlu diperhatikan untuk mendorong penguatan proses pembelajaran akademik di perguruan tinggi. Insan perguruan tinggi harus memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk menyediakan kebutuhan sivitas akademika secara memadai.

Hal ini akan mendorong terbangunnya atmosfer akademik yang kondusif, yang mendorong proses tridarma perguruan tinggi yang lebih berkualitas. Sumber daya manusia (khususnya dosen), memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan sikap dan atmosfer akademik di perguruan tinggi.

Dalam beberapa kesempatan kolaborasi dengan perguruan tinggi asing, masalah kualitas SDM merupakan faktor yang sangat penting dan menjadi perhatian utama perguruan tinggi mitra. Masih rendahnya kualitas SDM (khususnya di berbagai PTS). Perlu adanya kesadaran dari perguruan tinggi untuk memperbaiki mutu SDM.

Proses pembelajaran yang berkualitas dengan keluaran yang terukur dan relevan dengan kebutuhan masyarakat merupakan faktor penting untuk menghasilkan lulusan yang unggul dan kompetitif. Kualitas ini tidak dapat hanya dari capaian nilai dan persentase keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran.

Kurikulum dan metode pembelajaran yang dikembangkan di perguruan tinggi perlu inovasi untuk mendorong perkembangan peserta didik untuk menjadi pribadi yang memiliki kemampuan hard skill dan soft skill yang seimbang. Perguruan tinggi harus memiliki kesadaran untuk mewujudkan janji yang telah diberikan kepada peserta didik dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas.
Proses di perguruan tinggi merupakan faktor yang dapat dikendalikan oleh manajemen perguruan tinggi. Hal ini menjadi tanggung jawab perguruan tinggi untuk membangun sistem dan kultur yang berkualitas dalam menopang prestasi peserta didik.

Mahasiswa perlu dikenalkan sistem yang menempatkan mereka sebagai peserta didik yang dihargai, peserta didik perlu dikenalkan pada kemajuan dan sikap mental yang positif. Hal ini akan melahirkan intelektual yang berkualitas, yang dapat menghargai orang lain dan memiliki semangat untuk maju.

Input Perguruan Tinggi

Output dan proses perguruan tinggi akan sangat menentukan demand (input ) perguruan tinggi. Output dan proses suatu perguruan tinggi yang telah terbukti memiliki kualitas yang baik akan menjadi daya tarik bagi calon mahasiswa.

Calon mahasiswa yang berkualitas akan mampu mengangkat citra dari suatu perguruan tinggi. Siklus ini merupakan siklus yang normal, yang perlu dipertahankan apabila suatu perguruan tinggi ingin sustain .

Kualitas input mahasiswa sangat dipengaruhi oleh proses seleksi yang dilakukan oleh suatu perguruan tinggi. Input yang diperoleh tanpa melalui seleksi kerap memunculkan problem bagi suatu perguruan tinggi. Seleksi bukan berarti harus menerapkan kriteria yang tinggi, tetapi seleksi dilakukan untuk menjaring calon mahasiswa yang siap untuk mengembangkan diri dan beradaptasi dengan sistem perguruan tinggi.

Melalui proses seleksi yang adequate, maka perguruan tinggi akan mendapatkan peserta didik yang siap untuk digembleng untuk berakselerasi dan kemajuan dan dinamika masyarakat. (Sumber: Koran Sindo, 16 Januari 2015).

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Akreditasi Utama dari Masyarakat Kurikulum 2013 Seumur Jagung


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: