Posisi Bahasa dalam Sastra Indonesia

15 Februari, 2014 at 12:02 am

Anjrah Lelono BrotoOleh Anjrah Lelono Broto
Litbang Lembaga Baca-Tulis Indonesia

Sastra selalu menyumbangkan nilai positif bagi kemanusiaan. Itu karena anasir-anasir yang dicipta, bertalian erat dengan penikmatan ragawi dan ruhani manusia, seperti olah rasa, cipta dan karsa. Lewat kelembutan dan kehalusannya, sastra mampu membangkitkan emosi luhur sekaligus menjembatani sifat fitrah manusia yang cinta akan keindahan. (William Henry Hudson, 1960)

Karya sastra bukanlah boneka dari India yang hanya boleh dilirik tetapi tidak boleh digoda, apalagi ditimang sayang dengan sepenuhnya perasaan. Karya sastra merupakan salah satu kudapan jasmani dan rohani yang bisa diputer, dijilat, dan dicelupin ke dalam mulut kemanusiaan kita. Ketika hendak dinikmati. Bahasa menempati posisi penting dalam agenda santap karya sastra. Karya sastra mengguratkan hasil pencarian imajinasi pengarang dalam rangkaian kata, dan bahasa yang tertata amat indah. Maka, bahasa tidak bisa dianggap sepele dalam komunikasi sastra (Slamet Mulyana, 1964).

Tentu saja terjalin hubungan yang intens antara bahasa dan sastra, karena kompetensi kebahasaan seorang pembaca karya sastra akan bermuara pada kemudahan pemahaman pesan, pengetahuan, hiburan, ataupun teror yang ada dalam teks karya sastra. Artinya, bahasa itu menentukan corak berpikir tentang sesuatu, ekpresi imajinasi, dan pengetahuan seorang pembaca karya sastra. Sena Gumira Ajidarma (2007) menyebut bahasa sebagai batas pengetahuan dan batas apresiasi budaya seorang individu.

Ketika tinggi-rendahnya apresiasi khalayak terhadap karya sastra berbanding lurus dengan kompetensi kebahasaan yang melekat di benaknya, maka kita dihadapkan pada problematika bahasa kita. Realitanya, pendidikan di tanah air kurang memberi pijakan yang kokoh pada kompetensi kebahasaan peserta didik. Ketika kurikulum pendidikan lebih berpihak pada aspek kognitif, dan memarjinalkan aspek psikomotorik-afektif, ketuntasan belajar pun diukur dengan pengetahuan teori kebahasaan yang bersifat hafalan. Maka, guru bahasa terjerumus dalam RPP-RPP teori kebahasaan ketimbang keterampilan berbahasa adalah pemandangan yang lazim.

Kurikulum pengajaran bahasa bergonta-ganti sejak kurikulum 1975, 1984, 1994, 2006, dan 2013. Namun, pendekatan pembelajaran bahasa dalam sekian kurikulum pendidikan tersebut belum beranjak dari pendekatan struktural menuju pendekatan komunikatif (St Kartono, 2007). Belum lagi keterbatasan alokasi waktu, pembelajaran bahasa di sekolah. Bandingkan dengan pelajaran IPA, Matematika, Fisika dan ilmu-ilmu eksak lainnya. Padahal, bukankah kompetensi kebahasaan menjadi penentu penguasaan mata pelajaran apapun?

Realitas ini diperumit dengan karakter Bahasa Indonesia sendiri. Apabila dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di dunia, Bahasa Indonesia termasuk miskin kosakata asli, hampir 50% kosakata Bahasa Indonesia diserap dari bahasa-bahasa daerah di Nusantara, India, Arab, Inggris, Belanda, Mandarin, dll. Maka, kita tidak perlu mengumpat ketika Bahasa Indonesia gagap menterjemahkan “ujaran-ujaran” karya sastra dunia. Minimnya kosakata bahasa Indonesia “memaksa” sastrawan kita sering meminjam istilah bahasa asing. Akibatnya, karya sastra Indonesia menjadi elitis karena maknanya hanya diketahui oleh orang-orang tertentu (yang paham bahasa lain). Produk sastra menjadi kehilangan pembacanya sehingga tidak banyak memberi kontribusi pada kehidupan manusia (Otto Sukatno CR, 2007).

Probelamatika Bahasa Indonesia yang kemudian berimbas pada tingkat melek apresiasi karya sastra Indonesia di atas menuntut kita sesegera mungkin melakukan tindakan konkret. Pengajaran bahasa hendaknya menjadi kegiatan membangun kebiasaan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Para guru bahasa dituntut mampu menjadi teladan bagi peserta didiknya, sehingga kompetensi kebahasaan mereka tidak hanya diukur melalui seperangkat ujian seperti Ujian Kompetensi Guru (UKG), Sertifikasi, dll. Mengapa? Karena pembangunan kebiasaan berbahasa yang baik dan benar tidak hanya bersifat insidental maupun periodik, melainkan terus-menerus, tanpa jeda, dan berkesinambungan. Tingkat kedisiplinan berbahasa Indonesia yang baik dan benar para guru bahasa akan berimbas positif pada kompetensi kebahasaan peserta didiknya, generasi masa depan Indonesia.

Sementara itu, kompetensi kebahasaan mencakup kompetensi membaca, menyimak/mendengarkan, menulis, dan berbicara. Maka, para guru bahasa pun dituntut memiliki kebiasaan membaca, menyimak/mendengarkan, menulis, dan berbicara yang baik dan benar secara terus-menerus, tanpa jeda, dan berkesinambungan. Suatu misal, ketika seorang guru bahasa Indonesia memiliki kebiasaan menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar maka peserta didiknya juga akan termotivasi untuk melakukan hal yang sama, bukan hanya menulis ulang sesuatu yang telah ada (baca; plagiarisme).

Guna menghadapi problematika kosakata Bahasa Indonesia, pemerintah seyogyanya yang memberi ruang lebih bagi pakar, peneliti, dan akademisi bahasa untuk mengkaji dan meneliti unsur-unsur kebudayaan kita, menterjemahkan berbagai simbol bahasa di dunia, dll untuk mendongkrak kuantitas-kualitas perbendaharaan kosakata Bahasa Indonesia. Kemudian kosakata yang baru ini didokumentasikan dan diwajib-gunakan dalam setiap kegiatan-kegiatan komunikasi berbahasa Indonesia. Seperti, digunakan dalam buku-buku terbitan terbaru, pemberitaan media massa, maupun komunikasi birokrasi pemerintahan.

Penulis ingat betul betapa Harmoko, menteri penerangan di era Orde Baru, sangat berkesan di benak kita dengan kosakata-kosakata baru yang belum biasa digunakan dalam komunikasi sehari-hari waktu itu, seperti “tumpang sari”, “terasering”, “rancang bangun”, “rekayasa”, “swasembada”, dll.

Apabila problematika Bahasa Indonesia ini masih dianggap angin, maka Bahasa Indonesia akan kian gagap menterjemahkan simbol-simbol bahasa dunia. Tak pelak lagi, kedudukan Bahasa Indonesia sebagai media komunikasi yang efektif pun besar kemungkinan tergeser. Sehingga, tingkat melek apresiasi karya sastra kita pun akan semakin terpinggir. Semoga tidak. Kontak person: 08563461696, email: anantaanandswami@gmail.com

Iklan

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Perilaku Kriminal Dibawah Umur Salah Siapa ? Ketika Pendidik Tidak Bisa Mendidik


ISSN 2085-059X

  • 928.303

Komentar Terbaru

Roos Asih pada Surat Pembaca
rumanti pada Surat Pembaca
ira pada Surat Pembaca
Alfian HSB pada Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati pada Surat Pembaca
Ida pada Surat Pembaca
Waluyo pada Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: