Pemantapan Pendidikan Agama

5 Mei, 2013 at 12:01 am

Anjrah Lelono BrotoOleh Anjrah Lelono Broto
Litbang Lembaga Baca-Tulis Indonesia
Ada setitik harapan di balik polemik pemberlakuan Kurikulum 2013, Juli nanti. Setitik harapan tersebut terkait dengan bertambahnya jumlah jam pelajaran pendidikan agama, baik di tingkat dasar, menengah pertama, maupun menengah atas. Seiring dengan karut-marut penyelenggaraan UN, penambahan jumlah jam pelajaran pendidikan agama ini sedikit banyak menjadi pengobat hati di tengah merosotnya kepercayaan masyarakat kepada Kemendikbud. Hal ini menjadi petanda keseriusan M. Nuh beserta jajarannya di Kemendikbud untuk memberikan bekal wawasan dan kompetensi keagamaan serta budi pekerti kepada peserta didik.
Penambahan jumlah jam pelajaran pendidikan agama ini di tingkat pendidikan dasar sebanyak empat jam pelajaran per minggu, sedang di tingkat pendidikan menengah pertama maupun menengah atas sebanyak tiga jam pelajaran. Perbedaan penambahan jam pelajaran berdasarkan jenjang pendidikan ini dilatarbelakangi oleh tujuan pemantapan landasan wawasan dan kompetensi keagamaan serta budi pekerti di tingkat pendidikan dasar. Serta, beban ragam mata pelajaran yang lebih di tingkat pendidikan menengah pertama dan menengah atas.
Diperkirakan dengan adanya pemantapan materi keagamaan sejak dini akan memberikan ekses positif bagi peserta didik ketika beranjak remaja. Sementara, masa remaja merupakan masa yang rawan akan pengaruh negatif dan menjadi momen pencarian jati diri, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun pergaulan sebayanya. Bekal pemantapan materi keagamaan diasumsikan akan menjadi filter dari hal-hal yang selama ini endemik remaja di tanah air, seperti merokok, narkoba, free sex, tawuran, dll.
UU Sisdiknas Tahun 2003 Pasal 3 telah menyebutkan tentang keberkembangan potensi peserta didik menjadi manusia beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Dus, penambahan jam pelajaran pendidikan agama telah sesuai dengan tujuan pendidikan yang mengarah pada penguatan aspek spiritual dan sosial.
Dalam hemat penulis, pendidikan agama dalam Kurikulum 2013 seyogyanya ditekankan pada aspek pemahaman holistik, bukan sekedar hafalan textbookish. Realitanya, saat ini materi pembelajaran pendidikan agama di sekolah lebih berpihak pada aspek kognitif, dan mengesampingkan aspek afektif, dan psikomotorik. Suatu misal, pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), acap kali ketuntasan belajar hanya diukur dengan kemampuan peserta didik menghafal bacaan Al Qur’an. Al Hadist, doa-doa, maupun tokoh-tokoh sejarah perkembangan Islam.
Idealnya, materi pendidikan agama yang merujuk pada kitab-kitab suci masing-masing agama diajar-latihkan kepada peserta didik melalui pengembangan penalaran yang komprehensif. Misalnya, dengan memberikan studi kasus yang akhirnya menuntut peserta didik untuk mencari tahu pengetahuan agama yang terkait dengan kasus yang diberikan secara mandiri.
Tumpulnya kreatifitas guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar (KBM) di dalam kelas menjadi salah satu latar belakang maraknya penggunaan metode hafal¬an. Tentu saja, peserta didik tidak memiliki pilihan lain selain menerima penugasan menghafal yang diberikan guru. Maka, salah satu tantangan penerapan Kurikulum 2013 adalah peningkatan kompetensi guru dalam mengelola KBM dengan peka terhadap peta konsep dalam pikiran masing-masing peserta didik dan peka membaca aktualitas fenomena di lingkungan masyarakat yang terkait dengan karakteristik materi pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran pendidikan agama.
Kreativitas gu¬ru dalam pengelolaan KBM mata pelajaran pendidikan agama menjadi salah satu parameter tercapainya tujuan penambahan jumlah jam pelajaran. Pasalnya, posisi guru sebagai garda terdepan dalam sistem pendidikan kita menempatkan pengejawantahan setiap kebijakan pendidikan pemerintah sangat bergantung pada kepiawaian guru memahami potensi diri, lembaga pendidikannya, peserta didiknya, serta apa yang dimaui oleh pemerintah dan masyarakat.
Ketuntasan penyampaian materi pelajaran pendidikan agama tidaklah perlu menggunakan alat peraga yang mewah dan mahal. Akan tetapi, pengelolaan KBM yang menitikberatkan pada peran aktif peserta didik, baik secara berkelompok individual, merupakan jawaban yang paling logis. Suatu misal, materi pembelajaran Qonaah dan Tasamuh dalam PAI Kelas IX Semester Ganjil, KBM dikemas dalam diskusi perilaku Qonaah dan Tasamuh, serta ekses dan tantangannya. Hal ini akan lebih membangun penalaran peserta didik ketimbang penguasaan materi pembelajaran ala hafalan nir pemahaman dalam praktik langsung.
Meski kuantitas tidaklah senantiasa berbanding lurus dengan kualitas, namun penambahan jumlah jam pelajaran pendidikan agama sejalan dengan berlakunya Kurikulum 2013 Juli nanti memberikan secuil ekspektasi terhadap perkembangan lebih aik budi pekerti generasi muda kita. (Email: anantaanandswami@gmail.com)

Iklan

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Revitalisasi Pendidikan Wahai


ISSN 2085-059X

  • 928.303

Komentar Terbaru

Roos Asih pada Surat Pembaca
rumanti pada Surat Pembaca
ira pada Surat Pembaca
Alfian HSB pada Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati pada Surat Pembaca
Ida pada Surat Pembaca
Waluyo pada Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: