Bagaimana Peluang Siswa SMK dalam SNMPTN 2013?

21 Februari, 2013 at 12:00 am

Alfath Bagus PanuntunOleh Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia
Siswa Teknik Elektronika Industri SMKN 26 Jakarta (STM Pembangunan Jakarta)

Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN) telah dimulai. Diperkirakan sedikitnya 1,5 juta calon mahasiswa akan ambil bagian dalam perburuan tiket SNMPTN 2013. Dalam hal ini, setiap peserta pastinya akan menemui beberapa pertanyaan di dalam dirinya. Kelak saya akan memilih jurusan apa? Bagaimana peluang nilai saya di jurusan itu? Apa prospek kerjanya? Kalau saya tidak terpilih di pilihan pertama apakah mungkin bisa diterima di pilihan kedua? dan masih banyak pertanyaan di dalam diri kita mengenai SNMPTN.

Jujur, saya pun merasakan hal yang sama dengan teman-teman yang lainnya. Saya merasa sulit untuk menentukan pilihan dalam SNMPTN karena saya hanya siswa SMK. Saya yang bersekolah di salah satu SMKN di Jakarta dengan program belajar empat tahun harus menunggu satu tahun lebih lama untuk merasakan bagaimana proses penyeleksian SNMPTN ini berlangsung. Tahun kemarin, di saat teman-teman saya yang bersekolah di sekolah dengan program belajar tiga tahun sedang galau memilih jurusan dan universitas, saya masih bisa bersantai-santai ria. Tetapi saat ini teman-teman saya sudah berhasil mengenakan jaket kuning, biru tua atau krem, barulah saya merasakan suatu proses yang telah berhasil teman-teman saya lewati. Ya, SNMPTN.

Semua siswa pasti berharap untuk bisa meraih tiket PTN dalam SNMPTN yang hanya menyertakan nilai rapor dan prestasi-prestasi lain baik akademis maupun non akademis. Kemudian kita lihat, jatah tiket PTN hanya untuk 150 ribu siswa. Secara matematis, peluang siswa untuk masuk ke PTN adalah menjadi yang terbaik dari setiap 10 siswa. Perhitungan itu adalah jika semua siswa memiliki tingkat minat yang rata dalam setiap prodi di universitas yang tersedia. Tapi bayangkan, jika Anda ingin masuk ke jurusan favorit. Sebut saja Kedokteran-UI, Hubungan Internasional-UI, STEI-ITB, Kedokteran-UGM, dan masih banyak lagi prodi favorit lainnya, butuh perencanaan yang matang untuk masuk ke jurusan favorit tersebut.

Dan sekarang saya ingin menguraikan perasaan yang mungkin dirasakan oleh kebanyakan teman-teman saya di SMK. Bagi kami, SNMPTN dirasakan sangat tidak memihak siswa SMK. Pasalnya PTN itu dihuni oleh kebanyakan siswa SMA. Lalu bagaimana dengan SMK? SMK memang sekolah yang mengedepankan keahlian sehingga ketika siswa telah berhasil menempuh proses belajar di sekolah, siswa diharapkan melanjutkan kariernya ke dunia industri. Namun bukan berarti semua lulusan siswa SMK berpikiran untuk masuk ke dunia industri setelah lulus. Di sini masih ada kami, siswa SMK yang ingin melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi. Kami ingin menjadi manusia Indonesia yang berpendidikan. Katanya ingin membangun Indonesia, tetapi ketika manusianya ingin membangun, justru pemerintahnya sendiri yang mengesampingkan siswa yang tergerak untuk membangun Indonesia.

Bayangkan saja, apakah semua lulusan SMK mau menjadi bawahan selamanya tanpa ada peningkatan jenjang karier di perusahaan? Siswa yang langsung terjun ke dunia industri biasanya akan malas untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Hanya sebagian kecil yang tergerak hatinya untuk melanjutkan kuliah. Ada peribahasa mengatakan, “Belajar di waktu muda bagaikan mengukir di atas batu, sedangkan belajar di waktu tua bagai mengukir di atas air.” Di sini masih ada kami siswa SMK, yang merasa masa muda adalah waktu yang tepat untuk belajar, berkreasi dan berinteraksi dengan baik. Dan karena itu pula, kami ingin mengenyam pendidikan perguruan tinggi.

Bila dibandingkan dengan PTS, PTN jauh lebih dipilih oleh siswa Indonesia. Karena biayanya yang lebih murah, juga terdapat banyak beasiswa di dalamnya. Apalagi bila kita berhasil menjadi bagian dari PTN favorit. Dan kini ketika pendaftaran SNMPTN dimulai, semua siswa berbondong-bondong untuk mendaftar, termasuk siswa SMK.

Poin penilaian dalam SNMPTN adalah nilai rapor, nilai per mata pelajaran, konsistensi, prestasi di luar kelas, akreditasi/prestasi sekolah, prioritas pilihan jurusan, jumlah alumni di PTN yang didaftar, IPK/prestasi alumni, pengembangan SDM daerah, dan aturan khusus tiap PTN. Namun dari poin-poin penilaian tersebut, saya pikir ada beberapa poin yang tidak memihak kepada siswa SMK.

Dari nilai rapor, pastinya nilai anak SMK kalah jauh dibandingkan dengan anak-anak SMA. Dilihat dari KKM saja sudah jelas perbedaannya. lalu mau bilang apa lagi? Kedua, nilai per mata pelajaran. Mata pelajaran SMK berbeda dengan SMA. SMK lebih mengedepankan pelajaran produktif, sedangkan untuk teori normatif dan adaptif tidak. Sehingga tidak heran jika nilai per mata pelajaran teori SMK pasti kalah jauh dibandingkan dengan anak SMA, sebut saja matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dll. Ditambah lagi teori produktif tidak dimasukkan ke dalam poin penilaian. Kekuatan anak SMK yang ada di teori produktif pun hilang karena SNMPTN tidak menilai nilai mata pelajaran produktif.

Poin berikutnya adalah jumlah alumni. Bagaimana jumlah alumninya mau banyak? Wong kesempatan untuk masuk ke PTN saja kecil. Bertalian dengan poin sebelumnya adalah IPK/prestasi alumni. Ini sangat miris. Coba lihat bagaimana nasib siswa SMK yang tidak punya alumni di universitas pilihannya.

Ini sangat tidak adil, SNMPTN yang memiliki jumlah tiket paling besar 50% dan khusus lulusan tahun 2013 diisi oleh kebanyakan siswa SMA. Lalu bagi kebanyakan siswa SMK yang ingin lulus ke universitas negeri, apalagi yang favorit, harus berjuang di SBMPTN dan jalur mandiri yang jumlah tiketnya masing-masing hanya 30% dan 20%. Mereka harus bersaing dengan siswa yang belum lulus ujian masuk PTN dari tahun 2011.

Bapak/Ibu yang ada di pemerintahan tahu moto SMK? SMK BISA!!! Lalu maksudnya Bapak/Ibu mengesampingkan kami dalam SNMPTN itu apa?

Padahal banyak pemberitaan media massa yang menyuguhkan prestasi siswa SMK. Ada yang berhasil membuat mobil, pesawat, laptop, proyektor, robot pencuci air, dan masih banyak lagi. Bukan hanya lomba di bidang kejuruan, siswa SMK juga banyak menorehkan prestasi di bidang-bidang lain seperti kewirausahaan, bisnis, debat, olahraga, dll. Itu adalah sebentuk teriakan semangat siswa SMK yang ingin mengubah Indonesia menjadi bangsa yang mandiri. Saya rasa pernyataan ini sudah cukup meyakinkan potensi anak-anak SMK. Lalu apa Anda masih ragu terhadap siswa SMK?

Baiklah, bagaimana jika pola SNMPTN kita ubah dengan ujian tulis saja, sehingga tidak ada lagi jalur undangan? Jadi SNMPTN 100% melalui ujian tulis. Lalu siapa pun berhak ikut, baik lulusan tahun sekarang maupun tahun sebelumnya. Saya rasa ini akan sangat adil bagi kami. Jika di negeri ini masih belum ada keadilan, maka apa arti dari sila ke-5 yang berbunyi, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?”. (Sumber: okezone, 21 Februari 2013)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Orang Miskin Wajib Sekolah Berharap Kelulusan Yang Berkualitas


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: