Pendidikan dan Kemajuan Bangsa

2 Agustus, 2012 at 12:00 am

Oleh Fahim Khasani
Mahasiswa Jurusan Tafsir dan Ilmu Alquran, Fakultas Ushuluddin, Al- Azhar University Cairo.

Sebuah hal yang tidak bisa dimungkiri bahwa pendidikan adalah basic need bagi manusia. Ia juga yang menjadi pembeda antara manusia dengan lainnya.Kualitas hidup yang dijalaninya tergantung atas seberapa tinggi kualitas pendidikan yang ia capai.

Hal serupa juga berlaku dalam sebuah negara. Sebab, negara adalah kumpulan dari manusia-manusia yang berada dalam suatu wilayah teritorial tertentu. Kemajuan suatu bangsa tidak ditentukan oleh kuantitas penduduk yang ada. Namun, kemajuan lebih ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki.

Negara berpenduduk kecil dengan kualitas pendidikan yang tinggi sangat berpotensi mengalahkan negara berpenduduk banyak. Sehingga, apabila Indonesia ingin mengubah status menjadi negara maju, maka sektor pendidikan harus diperbaiki dan menjadi prioritas. Hal ini menjadi penting sebab kualitas pendidikan kita masih tertinggal di kancah internasional.

Di tingkat ASEAN saja kita masih kalah dengan Singapura, Brunei, Malaysia,Thailand dan Filipina. Untuk peringkat dunia, UNESCO mencatat pendidikan Indonesia berada di urutan ke-69 dari 127 negara. Penulis beranggapan, ada dua sektor yang harus dibangun dalam pendidikan Indonesia.Keduanya harus berjalan bersama dan berimbang.

Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) alias sains dan humaniora (termasuk di dalamnya ilmu keagamaan). Iptek memosisikan diri sebagai ilmu yang membangun sektor eksternal sebuah negara.Humaniora membangun sektor internal yang fokus dalam membangun moralitas dan kesadaran manusiawi dalam bernegara.

Sebagian dari kita masih beranggapan bahwa kemajuan adalah ketika sebuah negara melejit dalam sektor ekonomi, Atau mempunyai teknologi yang canggih. Sehingga, aspek moral dan agama kurang diperhatikan. Padahal jika ditelisik lebih dalam, antara iptek dan moralitas agama saling melengkapi. Negara yang kaya dan berteknologi supercanggih pun akan mudah tumbang jika tidak diiringi dengan kesadaran berbangsa dan moralitas tinggi.

Sebab, krisis moral dan kemanusiaan ini akan melahirkan pribadi yang korup dan gila kekuasaan.Dan itu adalah musibah bagi sebuah negara. Ia bagaikan bara dalam sekam yang akan membakar perlahan dan mengancam eksistensi negara. Munculnya prilaku korup adalah bukti bahwa pendidikan berbasis moral kurang menjadi perhatian. Sehingga membentuk pribadi yang berkarakter egois dan abai terhadap kondisi sekitar.

Dengan mengatasnamakan rakyat, mereka mencuri uang rakyat untuk kepentingan pribadi yang sesaat. Sedangkan rakyatnya, kebanyakan hidup di bawah garis kemiskinan.Sebuah kenyataan yang memalukan sekaligus memilukan. Dengan demikian, untuk menjadi negara maju, Indonesia harus bisa menggabungkan kedua sektor tadi agar tidak timpang. Atau dalam bahasa lain, iptek dan Imtak harus berjalan seiring. Keduanya adalah modal awal untuk kemajuan eksternal dan internal suatu bangsa. (Sumber: Seputar Indonesia, 2 Agustus 2012).

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Puasa, Kurikulum Multifungsi dalam Kehidupan Guru Melek Internet


ISSN 2085-059X

  • 496,746

Komentar Terakhir

ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 42 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: