Istri Simpanan: Kosakata Siswa SD

16 April, 2012 at 12:00 am

Oleh Dr Djuwari MHum
Dosen STIE Perbanas Surabaya

Heboh istilah “istri simpanan” dalam buku SD dua hari terakhir minggu merupakan symbol tidak adanya keterampilan analisis kebutuhan dalam ilabus dan kurikulum di dunia pendidikan. Di sisi lain, kini sedang digalakkan istilah “pendidikan karakter” dengan implementasi secara pedagogis di dalam lingkungan sekolah. Dua dimensi ini merupakan ukuran seorang pendidik sekaligus kinerja sekolah secara keseluruhan.

Terkait dengan kisah anak SD yang bertanya kepada orang tuanya tentang istilah “istri simpanan” sebenarnya ada dua manifestasi pemikiran pedagogis. Pertama, memang anak tersebut kreatif dan rasa ingin tahunya tinggi. Kedua, ini juga sebuah refleksi adanya kebingungan anak usia SD yang seharusnya belum mulai membahas persoalan terkait “istri simpanan”. Sebab, ini merupakan muatan setidaknya manusia yang sedang menginjak dewasa.

Dalam arti kebahasaan, maka tidak ada istilah yang tabu. Siapa pun juga boleh tahu kosa kata dalam bahasa Indonesia karena kosa kata merupakan salah satu unsur penguasaan bahasa. Namun, jika diurut dengan penalaran terkait dengan relevansi kurikulum dan pencapaian hasil belajar yang diharapkan pada siswa usia SD, maka tentunya amat tragis.

Ketragisan itu semakin nyata manakala dikaitkan dengan analisis kebutuhan (needs analysis) terhadap muatan kurikulum. Itu sebabnya, sebelum dimulai proses belajar mengajar (PBM), lebih dahulu dikaji kebutuhan kemampuan dasar apa yang kita harapkan pada akhir PBM. Jadi, ini bias dimulai dengan pertanyaan terkait tujuan PBM.

Dari tujuan itu, maka baru dianalisis juga materi yang sesuai dengan tujuan itu. Sampai selanjutnya pada penentuan strategi belajar dan mengajar di kelas. Tentunya ini menyangkut interaksi belajar mengajar antar siswa dan guru serta antar siswa-siswa sendiri. Dengan demikian analisis kebutuhan bias dituangkan juga dalam materi, metode pengajaran, alat atau media penyajian dan lain lain. Akhirnya, alat evaluasinya ditentukan sesuai dengan pengukuran tujuan tersebut.

Jadi, intinya adalah kejadian yang dialami sekolah dan anak SD dengan materi ajar yang memuat istilah “istri simpanan” merupakan kesalahan dalam analisis kebutuahan. Ini merupakan salah satu kompetensi pedagogis. Salah satu dari empat kompetensi, yaitu social, pedagogis, professional, dan kepribadian. Ini ada peristiwa terkikisnya kompetensi pedagogis terkait dengan materi termasuk di dalamnya rancangan silabus dan kurikulum.

Jika dibandingkan dengan gaung pendidikan karakter saat ini, maka jika anak didik tidak diberikan materi berdasarkan pada analisis kebutuhan, maka kondisi ini sering menimbulkan kekeliruan. Karakter dimulai dari sisi pengajarnya. Karakter juga dimulai dari sisi sekolahnya sebagai lingkuan pendidikan. Namun, peristiwa munculnya istilah “istri simpanan” dijadikan muatan kosa kata anak usia SD, merupakan kekeliruan dari kaca mata kompetensi pedagogis.

Kata atau kosa kata bias diseleksi dengan tingkatan, Dasar (elementary level), menengah (intermediate level), dan lanjutan (adnvanced level). Bahkan, setiap level ini masih bias dipilah-pilah lagi, misalnya pre-elementary, pre-intermediate, dan pre-advanced. Dari sinilah, maka kosa kata “istri simpanan” bisa dianalisis masuk kategori muatan materi bahan ajar SD atau tidak. Kemampuan menyeleksi kosa kata untuk muatan bahan ajar inilah salah satu unsure kompetensi pedagogis guru atau sekolah dalam dunia pendidikan.

Boro-boro menggalakkan pendidikan karakter untuk anak didik, kompetensi pedagogis terkait dengan analisis kebutuhan (needs analysis) dalam dunia rancang bangun kurikulum saja tidak terefleksikan. Apa pun tujuannya di dalam materi ajar yang diberikan kepada siswa, jika analisis kosa kata dan level dalam bahasa tidak dipahami, maka materi tersebut tetap buruk dalam kaca mata pedagogis.

Itu sebabnya, buku ajar yang memuat ikosa kata tidak relevan dengan anak SD bias ditarik dan diganti dengan materi lain yang sesuai. Lebih afdol lagi, jika materi baru itu dikaji dengan analisis kebutuhan berdasarkan pertimbangan tujuan belajar siswa. Tentunya tujuan akhir yang pada ujungnya mendukung tercapainya pendidikan karakter anak bangsa. (Sumber: IndonesiaPos, 16 April 2012)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

UN: Cermat dan Teliti Ujian Mengukur Etos Bangsa


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: