Menjaga Pilar Dedikasi Guru

16 November, 2011 at 12:00 am

Oleh Drs Jidi MSi
Pengelola Sekolah di Lembaga Pendidikan Al Falah Surabaya, Pemerhati Kebijakan Publik

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan

Begitulah pencitraan guru pada larik-larik himnenya. Namun, menyimak dinamika profesionalitas dan spirit guru sekarang, sebuah kelakar mungkin akan memelesetkan larik itu menjadi, engkau profesi sungguh mulia yang banyak tunjangannya. Karena itu, dengan aneka kebijakan dan derasnya arus pergeseran zaman, tanpa penguatan idealisme di satu sisi, pemuliaan profesi guru melalui pengucuran berbagai tunjangan bisa saja membuat sang guru termabuk kepayang oleh pundi-pundi materi atau tumpukan uang.

Bahaya Laten Mata Duitan

Ada ancaman bahaya laten mata duitan. Senandung kejuangan dan dedikasi profesi yang terlanjur dibanderol mulia itu tak lagi semerdu himnenya. Kalau pun bermata hijau, bukan karena guru-guru lelah membaca buku tetapi lebih diakibatkan oleh lama dan seringnya memelototi angka-angka rekening tabungan. Guru-guru pun akan jarang berkunjung ke perpustakaan tetapi makin rajin berurusan dengan bank.

Jika demikian, guru yang dalam himnenya dicitrakan sebagai pelita dalam kegelapan, embun penyejuk dalam kehausan, terindikasi telah berubah menjadi seperti lampu yang kekurangan minyak. Embun pun terus mengering oleh panas dan dan tersapu kerasnya tuntutan gaya hidup, penampilan, serta ganasnya ukuran nilai yang serba materi.

Betapa terangnya fenomena itu memberikan peringatan bahwa upaya mengangkat kesejahteraan guru dan meningkatkan idealismenya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Dalam sertifikasi guru pun keduanya patut menjadi satu kesatuan orientasi tanpa terus berkutat pada romantisme masa lalu profesi guru yang kelewat diagung-agungkan.

Menghindarkan Pencitraan yang Berlebihan

Pengalaman sejarah mengindikasikan, pencitraan yang berlebihan atas profesi guru justru menyebabkan terjadinya anomali nasib dan mitos sesat bagi sang guru. Guru dianggap lumrah hidup dengan ekonomi pas-pasan atau dianggap aneh bila hidup berkecukupan. Buktinya guru dipalsukan dengan gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Padahal, dikultuskan setengah dewa pun, penyandang profesi guru tetap saja manusia yang butuh nasi, perlu empat sehat lima sempurna, sandang, papan, kendaraan, dan lain-lain yang memenuhi kelayakan.

Guru dan keluarganya perlu dana yang cukup untuk bisa hidup sehat, lebih berkualitas, berpendidikan, dan menyekolahkan anak-anaknya. Mereka juga perlu tempat tinggal layak yang bukan kontrakan, kendaraan enak sehingga mengurangi angka keterlambatan. Sebenarnya tidak terlalu salah adanya nasihat, bila ingin kaya tidak usah jadi guru, jadi pedagang saja. Tetapi, bila ada guru kaya, asal caranya lurus, tentu tak boleh dianggap keliru.

Profesi Pelarian?

Pernah profesi guru menjadi semacam penampungan bagi sarjana yang kesulitan pekerjaan. Guru sempat dianggap profesi kelas dua, tempat orang-orang sortiran yang berkepandaian minim, bahkan pinggiran. Pada kondisi itu profesi guru tidak akan sepopuler anggota dewan, mafia pajak Gayus Tambunan, pengacara, dan sebagainya. Tetapi tidak tersangkal bahwa dalam kondisi seperti itu saja, sarjana, doktor, profesor, kopral, jendral, banker, hakim, dan lain-lain mampu dicetak oleh sang guru.

Sampai-sampai ada anekdot yang melecehkan profesi guru. Saat balita perempuanya rewel, seorang ibu matre berusaha keras untuk merayunya. Berbagai cara digunakan tetapi sang ibu tetap gagal. Dengan agak jengkel tiba-tiba si ibu berkata, “Awas ya, masih nggak mau diam, kalau sudah besar ibu kawinkan kamu sama guru.” Menurut anekdot itu, spontan, si balita perempuan benar-benar diam dan tak rewel lagi. Betapa menakutkannya lilitan kemiskinan guru saat itu. Kita berharap, anekdot seperti itu tak berlaku lagi sekarang.

Kualitas dan Kesejahteraan

Dalam sertifikasi, kualitas dan kesejahteraan guru seharusnya memang menjadi orientasi dan mendapatkan porsi perhatian yang seimbang. Meskipun demikian, keseimbangan orientasi atau sisi mana yang bakal dominan tetap bergantung pada kerja keras pemerintah ke mana sertifikasi akan diarahkan serta ketangguhan sikap mental sang guru di tengah arus deras dinamika gaya hidup dan penampilan serta pudarnya semangat dedikasi atau pengabdian.

Cukup beralasan munculnya keraguan terhadap efektivitas motivasi sertifikasi. Bekerja dengan baik terlebih dulu kemudian sejahtera atau sejahtera dulu kemudian bekerja dengan baik. Terhadap sertifikasi, malahan ada yang khawatir, guru merasa tidak perlu bekerja keras karena belum bersertifikat, sementara yang bersertifikat kurang terpacu untuk berkembang lagi karena sudah merasa nyaman meski hal tersebut bersifat kasuistik dan lebih menjadi urusan sikap mental seseorang.

Motivasi Spiritual

Diakui bahwa guru telah lama tampil sebagai pelopor dan peletak dasar prestasi sebuah bangsa. Menjadi guru awalnya dianggap sebagai panggilan. Keikhlasan, kesabaran, tak banyak menuntut, sepi pamrih, dan semacamnya adalah bagian napas panjang prestasi spiritual guru yang sering di-klaim tak dimiliki oleh profesi yang lain.

Dulu di desa kita tidak sulit untuk menemukan guru yang dalam sebulan hanya diberi imbalan bebarapa liter beras, setandan pisang, atau beberapa butir kelapa. Tidak sedikit yang hanya mendapat ucapan terima kasih. Hingga sekarang, meski dalam hitungan di atas kertas pemerintah telah menggelontorkan sejumlah besar tunjangan, di kota besar saja masih ada guru yang bergaji pas-pasan. Kenyataannya mereka masih banyak yang bertahan dan ada yang lebih berdedikasi daripada sebagian guru yang lulus sertifikasi.

Terbukti, bagi guru, himpitan ekonomi saja tidak selalu melemahkan. Barangkali hal semacam itu pula yang meyakinkan kaisar Jepang yang konon langsung memerintahkan pendataan jumlah guru yang masih tersisa setelah Jepang luluh lantak oleh bom sekutu. Dengan keunggulan pendidikan dan etos kerja itu, dalam waktu yang relatif tidak lama Jepang bangkit menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi yang amat disegani dunia.

Menyadari hal tersebut berbagai upaya pemerintah untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas guru serta pengucuran berbagai tunjangan patut diapresiasi. Adalah kontradiksi bila upaya mulia pemerintah justru direspon secara sesat oleh sang guru. Misalnya, untuk meraup skor tinggi sertifikasi, guru berlaku curang dengan mengoleksi bukti prestasi fiktif hingga memanipulasi berbagai data.

Pilar-pilar Dedikasi

Berbagai kebijakan dan dinamika profesi guru perlu dimbangi dengan upaya penegakan kembali pilar-pilar dedikasi. Secara internal, guru dituntut mampu merajut ulang idealisme yang makin tergerus oleh arus deras orientasi yang serba materi. Di sisi lain pemerintah perlu terus berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan guru seperti yang mulai dijalankan, misalnya penambahan alokasi anggaran untuk guru. Yang tak kalah penting adalah upaya untuk menghindari penundaan berulang pencairan tunjangan.

Bagi masyarakat penyelenggara pendidikan atau para pengelola sekolah, menjadi penting untuk menempatkan guru sebagai mitra kerja sekaligus sebagai sumber daya insani, aset produktif, dan komponen vital proses pendidikan. Jangan ada kapitalisasi pendidikan yang memperlakukan guru seperti buruh atau tukang.

Bagi guru, untuk meningkatkan kualitas diri, mereka tidak harus bergantung pada pihak manajemen. Guru perlu banyak berinisiatif, tidak seperti tukang yang senantiasa menunggu pesanan. Guru swasta pun, bila benar-benar berkualitas, subsidi, bantuan pemerintah, tunjangan, atau pengangkatan menjadi PNS tidak menjadi satu-satunya harapan.

Dengan cara itu guru tidak akan mandeg pada romantisme mitos dan prasasti sosial yang tebal-tebal men-tahbiskan guru sebagai profesi mulia. Sekarang mitos mulia itu perlu digeser menjadi dedikasi riil dan profesional. Menjaga pilar dedikasi, bagi guru seharusnya menjadi harga mati. Diharapkan, guru makin mulia profesinya, makin sejahtera pula hidupnya. (Sumber: Majalah Media Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Edisi April 2011).

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Kekerasan Guru di Sekolah Pendidikan Setelah Otonomi Daerah


ISSN 2085-059X

  • 647,977

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: