Tugas Keintelektualan Mahasiswa

8 September, 2011 at 12:00 am

Oleh AS Arifin
Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Menilik bekal pengetahuan dan luasnya wawasan keilmuannya, sudah tentu mahasiswa mempunyai peranan yang niscaya dalam mengubah sebuah keadaan. Sangat jamak bila mahasiswa yang dibekali ide dan gagasaannya selalu di tempatkan sebagai lokomotif penyuara perubahan. Namun, belakangan ini, peran-peran sentral gerakan mahasiswa mulai tidak tampak aksentuasinya dalam pelbagai kehidupan berbangsa-bernegara. Padahal, gerakan mahasiswa mempunyai potensi yang sangat besar dalam upaya membangun peradaban yang maju dan bermartabat.

Selama ini, peranan mahasiswa sebagai ikon pembaharu melekat sebagai identitas yang khas. Hal ini dikarenakan belokan-belokan kehidupan membangsa-menegara selalu dimotori oleh gerakan-gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa selalu menjadi ilham bagi perubahan tatanan sosial-politik bangsa, citra kepribadian yang hingga kini merupakan prinsip yang dipegang teguh mahasiswa.

Stigma dalam masyarakat pun menganggap mahasiswa merupakan komunitas tercerahkan yang diharapkan bisa membawa perubahan dan kemajuan sehingga sangatlah wajar bila masyarakat luas mempunyai ekspektasi yang besar terhadap mahasiswa.

Quo vadis gerakan mahasiswa

Namun, sesungguhnya, masih demikiankah gerakan mahasiswa kini? Ketika faktanya gerakan mahasiswa yang menyaru sebagai kekuatan moral tidak mengambil sikap dan tindakan apa pun melihat bobroknya moral para pemimpin, korupsi semakin merajelala, kemiskinan dan pengangguran masih menjadi ancaman.

Ketika aksi demonstrasi tidak memberikan solusi, bahkan sering kali aksi-aksi mahasiswa selalu dibumbui tindakan anarkis yang menghilangkan simpati. Demonstrasi bukannya membangunkan kesadaran rakyat, melainkan hanya untuk menunjukkan eksistensi organisasi. Parahnya, gerakan-gerakan demonstrasi mahasiswa kini bukan karena panggilan akan fungsi keintelektualan, melainkan karena instruksi penyandang dana dan kepentingan kelompok tertentu.

Virus pragmatisme yang menginjeksi gerakan mahasiswa membuat mereka lumpuh, buta terhadap realitas, terpanggil bergerak bukan karena kecintaan pada kebenaran. Godaan yang membuat kiprah gerakan-gerakan mahasiswa disebut mati tidak sudi, dikatakan hidup pun tidak akan ada manfaatnya.

Tidak salah, bila disinyalir banyak pihak gerakan mahasiswa yang intens membahas persoalan-persoalan bangsa sudah mulai pudar. Sudah sangat susah mencari diskusi-diskusi kritis tentang perbaikan bangsa dari aktivisme mahasiswa. Gerakan-gerakan mahasiswa kini terjebak dalam urusan internal masing-masing.

Saya menyebut, gerakan mahasiswa kini sudah menjadi mitos, menjadi bagian sejarah yang mesti dimuseumkan. Kita kenang bila mahasiswa pernah tampil di garda depan perubahan-perubahan besar.

Harapan dan kesempatan

Pada titik inilah, urgent untuk mengembalikan semangat dan prakarsa gerakan mahasiswa di mana gerakan mahasiswa harus mampu membangun pondasi gerakan pada akar nilai-nilai kemanusiaan. Nilai kemanusiaan harus dijadikan pedoman perjuangan dalam menggapai keadilan, kebenaran, kebahagiaan, dan kesejahteraan.

Sebagai kelompok terdidik, mahasiswa mempunyai fungsi melekat sebagai kekuatan intelektual dan moral. Sebuah fungsi yang berkaitan dengan tanggung jawab mahasiswa dalam perkembangan negara dan masyarakat. Fungsi yang menyertakan mahasiswa memiliki kewajiban untuk tidak hanya berdiam diri melihat kesalahan dan keruntuhan dari negara.

Mahasiswa memiliki tanggung jawab moral mengontrol pembangunan negara dan masyarakat pada tiap sendi kehidupan. Selalu berpedoman pada kecintaannya pada kebenaran yang berurat dan berakar dari tradisi keilmuan. Bahkan, dalam sejarahnya, mahasiswa memiliki tradisi yang sangat baik dalam menentukan nasib bangsa.

Mahasiswa dengan bekal ilmu dan pengetahuan pernah menjadi obor kehidupan bangsa, memelopori bangsanya Indonesia untuk merdeka. Hatta dalam pidato alumni I Universitas Indonesia, 11 Juni 1957, yang berjudul “Tanggung Jawab Moril Kaum Intelegensia” mengatakan bahwa pada saat awal kemerdekaan, dalam waktu yang singkat, kaum muda dan mahasiswa ikut serta berpartisipasi menjadi penghubung antara pimpinan negara dan rakyat. Mahasiswa mempunyai peranan penting membuka mata rakyat yang masih berselimut kegelapan tentang arti kemerdekaan dan kemajuan.

Memaknai status mahasiswa sebagai kaum intelektual berarti mahasiswa tidak bisa melepaskan fungsi tanggung jawab sosial yang melingkupi. Tugas yang niscaya melekat dalam jati diri mahasiswa.

Sebagai kelompok terdidik, cerdas, dan tercerahkan. Mahasiswa di masa depan diharapkan akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa. Mahasiswa memiliki kesempatan yang besar untuk mengubah tatanan kehidupan. Apalagi hingga kini, doktrin bahwa mahasiswa adalah agen perubahan masih mengalir dalam diri mahasiswa.

Tanpa melupakan tugas belajar, memahami keilmuannya secara hakiki sehingga menjadi ahli dalam bidangnya. Mahasiswa juga harus belajar untuk memahami tanggung jawab sosial yang melekat dengan dirinya. Melihat kondisi bangsanya, memotret realitas masyarakatnya. Berbekal kecintaan pada kebenaran, mahasiswa harus memiliki keberanian untuk turut campur mengontrol kehidupan bangsa.

Tidak tinggal diam larut untuk sekadar belajar, memuaskan hasrat akademiknya saja. Dengan model dan cara apa pun, mahasiswa harus mengambil peran yang strategis dalam menentukan arah bangsa. Kesadaran intelektual yang lahir dari dalam dirinya sebagai agen perubahan. Bukan karena dorongan maupun kemauan pihak lain yang hendak menjadikan gerakan-gerakan mahasiswa sebagai batu loncatan atas kepentingannya. Ge rakan-gerakan mahasiswa bukanlah kendaraan kepen ting an-kepentingan praktis politik yang bersifat sesaat.

Tetapi, harus tumbuh seba gai gerakan moral yang agung da lam memperjuangkan kebenaran, kebahagian, kesejah teraan, dan kemakmuran ma sya rakat. Dalam panggung inilah keniscayaan gerakan mahasiswa dipertaruhkan. Bukan sekadar menjadi alat bagi elite yang sedang menitipkan ke pentingannya. (Sumber: Republika, 08 September 2011)

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Menyindir Raja Saudi Tugas Keintelektualan Mahasiswa


ISSN 2085-059X

  • 648,662

Komentar Terbaru

rumanti di Surat Pembaca
ira di Surat Pembaca
Alfian HSB di Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati di Surat Pembaca
Ida di Surat Pembaca
Waluyo di Surat Pembaca
Ali Syahbana di Surat Pembaca

%d blogger menyukai ini: