Revitalisasi Pendidikan

5 Mei, 2013 at 12:01 am

DurhanOleh Durhan MPdI
Dosen di STPI al-Hikmah IKIP PGRI Jember
Memanusiakan manusia. Inilah mungkin definisi pendidikan yang kiranya tidak usah diperdebatkan. Semua tokoh pendidikan – dari Muhammad Natsir sampai tokoh pendidikan saat ini – seakan meng-iyakan terhadap pemaknaan dari pendidikan tersebut. Manusia harus menemukan jati diri sebagai manusia yang sesungguhnya sehingga manusia tersebut betul-betul menjadi manusia yang anfa’uhum li al-nas.
Dari sini sudah bisa dibaca, pendidikan merupakan satu-satu garda depan yang diyakini sebagai malaikat penyelamat terhadap kelana panjang manusia itu sendiri. Maka, jangan disalahkan kalau kemudian manusia tanpa pendidikan akan menemukan kegelapan masa depan.
Namun demikian, pendidikan tidak selamanya mendapat tempat dihati masyarakat luas, hal ini sisebabkan karena banyaknya out put pendidikan yang terbukti tidak berkwalitas dan jauh dari harapan. Ditambah lagi dengan praktek-praktek meliterisme yang kerap kali terjadi dalam dunia pendidikan tersebut, bahkan praktik “najis” yang kerap kali dipraktikkan oleh oknum pendidikan menjadi referensi utama masyarakat untuk mengatakan bahwa pendidikan telah gagal total. Ada yang salah dengan pendidikan?
Sulit mengiyakan, tapi sulit juga menepisnya. Fakta dan realita menjadi bukti vital terhadap kejanggalan-kejanggalan yang ada dalam dunia pendidikan. Dari potrem buram pendidikan itu mungkin pihak pemain pendidikan harus sering mengevalusi dan introspeksi, hingga kemudian akan ditemukan permasalahan dan solusi jitunya.
Dari itu semua, nampaknya ada satu solusi untuk sedikit mengurangi kejanggalan tersebut, yaitu menjadikan bidang studi agama sebagai satu-satunya materi utama dan diutamakan sekaligus memberikan rangsangan baru terhadap anak didik untuk bersemangat dalam mengikuti materi agama tersebut.
Memang agak lucu ketika kurikulum disekolah negeri ataupun swasta, alokasi waktu untuk materi agama yang disediakan sangatlah minim. Disekolah negeri, materi agama hanya mendapat jatah 2 jam dalam seminggu sementara mereka yang terlanjur memilih sekolah negeri sebagai tempat berlabuh dan mencurahkan masa depan sama sekali tidak mempunyai kemampuan materi agama.
Lebih lucu lagi, disekolah swasta yang katanya menjadi patner dari kemenag, ternyata ikut-ikutan untuk meminimalis jatah waktu agama. Bayangkan, lembaga ini yang seharusnya lebih unggul pengetahuan bidang agamanya dibandingkan sekolah yang tidak menggunakan simbol islam, alokasi waktu untuk materi agama hanya 3-4 jam dalam seminggu.
Alokasi waktu di atas semakin diperparah dengan keberadaan guru yang tidak mempunyai kemampuan terhadap materi agama tetapi mengampu materi agama sehingga ada kehawatiran guru tersebut akan memberikan konsep-konsep yang salah terkait dengan materi yang sedang diampunya.
Abudin Nata (2000) meresum bahwa keadaan kurangnya pertumbuhan dan perkembangan ilmu pendidikan islam itu tampaknya bukan hanya terjadi di masa sekarang, tetapi juga terjadi dimasa lalu. Sejak masa klasik hingga sekarang belum banyak pakar dan ulama islam yang meneliti masalah pendidikan Islam. Konsidisi seperti itu kata Abudin Nata harus segera di atasi dengan cara menumbuhkan dan mengembangkan ilmu pendidikan Islam melalui serangkaian kajian dan penelitian.
Dari alokasi waktu itu, tidaklah cukup apalagi peserta didik tidak begitu jreng dalam mengikuti materi agama yang dianggapnya sebagai materi klasik yang tidak bisa membawa pada prospeksitas masa depan. Sungguh pembagian jatah waktu yang tidak adil terhadap materi agama.
Begitu pentingnya pendidikan agama, beberapa tokoh terkenal mencoba memberikan sedikit sentuhan pemikiran untuk bisa dipertimbangkan kembali akan minimnya pendidikan agama yang diberikan kepada anak didik utamnya dalam pendidikan formal.
Ada beberapa hal pokok yang disampaikan oleh Ibnu Miskawaih terkait dengan materi agama hususnya materi moral. Ada beberapa hal yang harus dipelajari dalam rangka pembentukan moral anak didik kedepan. Diantaranya, anak didik harus dipelajari hal-hal yang berkenaan dengan kewajiban terhadap kebutuhan tubuh manusia dan hal-hal wajib terhadap kebutuhan batiniah.
Sementara Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa mengajarkan ilmu kepada seseorang merupakan shadaqah para nabi, menuntut ilmu merupakan ibadah dan memahaminya secara mendalam merupakan bentuk ketaqwaan kepada Allah. Mengkajinya adalah jihad, dan mendiskusikannya merupakan tasbih.
Kedepan, tantangan seksi akan semakin dahsyat. Dibutuhkan segala macam cara untuk menghadang laju tantangan tersebut. Diantara beberapa amunisi ampuh adalah menanamkan pendidikan agama terhadap anak didik sejak dini. (Email: durhan_ariev@yahoo.co.id)

About these ads

Entry filed under: Artikel Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tags: , .

Pemberdayaan Ujian Sekolah Pemantapan Pendidikan Agama


ISSN 2085-059X

  • 394,329

Komentar Terakhir

Alfian HSB on Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Waluyo on Surat Pembaca
Ali Syahbana on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Mohamad Mahfudin on Surat Pembaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: