Keterlibatan Masyarakat dalam Sekolah

17 Juli, 2012 at 12:00 am

Oleh Ahmad Baedowi
Direktur Yayasan Pendidikan Sukma Jakarta

Sekolah tanpa dukungan masyarakat pasti tak akan berjalan dengan sempurna. Masyarakat merupakan pilar penting bagi tumbuhnya sebuah sekolah berkualitas. Karena itu, hubungan sekolah dengan masyarakat harus selalu menjadi perhatian siapa pun agar sekolah juga dapat lebih bertanggung jawab terhadap penggunanya. Sebaliknya, masyarakat dapat mengembangkan kapasitas kolektif untuk mendukung peningkatan kualitas sekolah.

Model dukungan masyarakat terhadap proses pendidikan, paling tidak dalam 20 tahun terakhir ini, sering disebut sebagai sebuah bentuk pembelajaran berbasis masyarakat (community-based learning/CBL). Gerry Stahl (2004) menyebutkan CBL dapat merujuk beragam bentuk pembelajaran, baik individual maupun kelompok. Namun, di lain pihak, secara ekstrem CBL merupakan konsepsi sosial terhadap bentuk pembelajaran yang berlangsung di bawah kontrol masyarakat. Artinya, peran sentral masyarakat untuk secara aktif terlibat dalam mekanisme pertumbuhan dan perkembangan sekolah adalah imperatif.

Ruang Orang Tua

Keterlibatan masyarakat atau komunitas dalam pendidikan dapat didefinisikan sebagai aksi atau tindakan yang dilakukan perseorangan atau organisasi untuk meningkatkan perkembangan siswa. Pihak-pihak yang dapat dilibatkan dalam proses belajar-mengajar antara lain orang tua atau keluarga, organisasi atau lembaga masyarakat sipil, pemerintah daerah dan cabang-cabangnya, serta dunia usaha.

Interaksi masyarakat-sekolah dapat dilakukan dengan berbagai cara, dari yang sederhana sampai yang serius dalam arti memerlukan investasi, perencanaan, dan biaya. Intinya, sekolah, keluarga, dan komunitas menggalang kerja sama demi meningkatkan pendidikan. Beberapa contoh yang dapat dilakukan sekolah ialah dengan meminta orang tua supaya terlibat dalam proses belajar-mengajar, misalnya membantu siswa mengerjakan pekerjaan rumah.

Sekolah juga dapat mengadakan proyek atau kegiatan untuk orang tua melalui kegiatan outreach yang menguntungkan komunitas di lingkungan sekolah, seperti di bidang kesejahteraan, kesehatan lingkungan, promosi kesehatan, atau advokasi dan bantuan hukum.

Beberapa sekolah bahkan ada yang telah menyediakan ruang khusus bagi keluarga dan orang tua di kompleks sekolah dan ruangan khusus untuk peralatan atau jasa yang berguna bagi masyarakat, seperti perpustakaan, sarana olahraga, laboratorium komputer, dan mesin jahit. Jika dilihat dari sudut proses belajar-mengajar dan pendidikan pada umumnya, ada beberapa jenis proses perubahan yang terkandung dalam program sekolah yang melibatkan partisipasi masyarakat.

Pertama disebut dengan model konversi, sekolah berusaha mengajak siswa berubah dari seperangkat sikap dan perilaku tertentu melalui kegiatan sekolah masyarakat. Model lainnya ialah mobilisasi, yaitu cara sekolah untuk meningkatkan partisipasi warga dan organisasi setempat dalam proses pendidikan, seperti kemitraan sekolah dan dunia usaha. Selain itu, model alokasi juga dapat dijadikan rujukan dalam rangka menyediakan sumber daya seperti layanan sosial atau insentif finansial bagi anak-anak dan pemuda.

Keterampilan Sosial

Selain model-model tersebut, skema pengajaran yang dilakukan dengan melibatkan masyarakat dapat membantu siswa mengembangkan intelektual serta meningkatkan keterampilan sosial dan lifeskill mereka. Beberapa contoh program sekolah yang melibatkan masyarakat sekolah antara lain dengan membentuk parent-teacher association (PTA) untuk membuka partisipasi orang tua.

Pemanfaatan manajemen berbasis sekolah (MBS) juga dapat memecahkan masalah internal sekolah. Baik yang menyangkut proses pembelajaran maupun sumber daya pendukungnya cukup dibicarakan di dalam sekolah dengan masyarakat, sehingga tidak perlu diangkat ke tingkat pemerintah daerah apalagi ke tingkat pusat.

Tingkat kepedulian masyarakat terhadap sekolah saat ini terlihat sangat rendah. Inpres SDN No. 10/1973 merupakan titik awal keterpurukan sistem pendidikan, khususnya sistem persekolahan. Pemerintah seolah mengambil alih “kepemilikan” sekolah yang sebelumnya milik masyarakat menjadi milik pemerintah dan dikelola sepenuhnya secara birokratis bahkan sentralistis.

Sebagai bentuk lain dari micro-political skill, kepemimpinan sekolah yang efektif mensyaratkan intervensi politis yang efektif dari masyarakat di sekitar sekolah guna menciptakan sekolah yang sehat dan bertanggung jawab. . (Sumber: Lampung Post, 17 Juli 2012).

About these ads

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Mendidik Melalui “TV Batik” Menyemaikan Bibit Antikorupsi


ISSN 2085-059X

  • 410,211

Komentar Terakhir

Alfian HSB on Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Waluyo on Surat Pembaca
Ali Syahbana on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Mohamad Mahfudin on Surat Pembaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: